Perut kenyang, suasana hati pun tenang. Setelah makan siang, kelompok Nanon duduk santai di bawah pohon besar dekat tenda. Angin gunung bertiup pelan, membawa aroma daun pinus yang segar.
Fiat berbaring sambil menutupi wajah dengan topi. "Aku sumpah, nasi goreng buatan kalian tadi tuh kayak buatan restoran. Enak banget."
AJ mengangguk sambil minum air dari botol. "Setuju. Kalau kayak gini tiap hari, aku rela ikut kemah terus."
JJ menimpali, "Asal nggak disuruh pasang tenda lagi aja. Sakit pinggang, bro."
Nanon tertawa kecil. "Lain kali belajar ngikat tali yang bener dulu."
"Oh, jadi nyindir, ya?" balas JJ pura-pura kesal.
"Enggak, bercanda," jawab Nanon sambil tersenyum.
Ohm duduk bersandar di pohon, memainkan gitar kecil yang dibawanya sejak pagi. Ia memetik beberapa nada ringan, membuat suasana semakin damai.
Nanon menatapnya sebentar. "Kamu nggak pernah lepas dari gitar ya?"
Ohm melirik singkat. "Hehe, kayaknya udah kebiasaan. Kalau ada gitar, suasananya jadi tenang."
Fiat menimpali, "Tenang sih iya, tapi kalau yang dengerin baper, tanggung sendiri ya."
Ohm pura-pura menatap serius. "Lho, maksudnya siapa nih yang baper?"
Semua menatap ke arah Nanon serentak.
"Eh?! Jangan lihat aku dong," protes Nanon cepat-cepat sambil menutup wajah.
AJ tertawa keras. "Wah, ketahuan banget reaksinya. Fix!"
Mereka tertawa bersama, suasana ringan dan penuh canda.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Matahari mulai bergeser ke barat, jam menunjukkan pukul tiga sore. Suara peluit panitia terdengar nyaring memecah keheningan.
"Semua peserta, silakan berkumpul di lapangan! Ada pengumuman penting!"
Mereka segera bangkit, merapikan barang dan berjalan menuju lapangan yang sudah ramai oleh peserta lain. Panitia berdiri di depan dengan pengeras suara.
"Baik, teman-teman," kata salah satu panitia, "malam ini kita akan mengadakan pertunjukan seni antar kelompok! Kalian bebas menampilkan apa pun — bisa nyanyi, drama, tari, atau musik."
Sorak-sorai langsung terdengar. Beberapa kelompok saling berbisik, mulai merencanakan ide masing-masing.
"Tapi," lanjut panitia, "setelah pertunjukan seni, sekitar pukul 12 malam, akan ada jurit malam! Ini kegiatan terakhir kita sebelum besok penutupan."
Sontak banyak peserta yang bersorak tapi ada juga yang menelan ludah. Fiat langsung berbisik ke Nanon.
"Waduh, jurit malam? Aku sih yes, asal nggak sendirian."
Nanon menatapnya dengan ekspresi takut-takut. "Aku nggak kuat kalau disuruh jalan di hutan tengah malam, Fiat."
Ohm yang berdiri di sebelahnya menepuk bahunya pelan. "Tenang, aku nggak bakal ninggalin kamu."
"Janji?" tanya Nanon pelan.
Ohm tersenyum lembut. "Janji."
Setelah pengumuman selesai, panitia membubarkan barisan dan menyuruh peserta untuk mempersiapkan pertunjukan malam nanti.
Mereka berlima kembali ke area tenda. AJ langsung berseru, "Oke, kelompok kita mau tampil apa nih?"
Fiat menyandarkan diri pada tenda. "Drama udah banyak yang ambil, tarian juga udah. Mending kita musik aja."
JJ setuju. "Ya, musik paling aman. Tinggal cari yang bisa tampil."
Semua mata langsung tertuju ke dua orang — Ohm dan Nanon.
Nanon mengerjap. "Eh, kenapa ngelihat aku?"
Fiat menepuk bahunya. "Karena kamu bisa nyanyi, dan Ohm jago main gitar. Udah, duet aja kalian."
Ohm menatapnya sambil tersenyum. "Setuju. Aku gitaran, kamu nyanyi."
Nanon menelan ludah pelan. "Aku... nyanyi? Duh, aku malu."
"Ah, malu kenapa," kata AJ sambil tertawa. "Kamu kan suara kamu bagus. Tadi pagi aja waktu humming di dapur, kita semua diem."
Nanon menunduk, tersipu. "Ih, kalian nguping ya!"
Ohm menatapnya lembut. "Udah, jangan pikirin orang lain. Nanti malam nyanyi aja yang kamu suka. Aku ngiringin. Anggap cuma ada aku di depan kamu."
Ucapan Ohm itu membuat suasana seketika hening. Fiat langsung bertepuk tangan. "Aduh, kalimatnya manis banget. Kalau aku jadi Nanon, langsung meleleh."
Semua tertawa lagi.
Setelah keputusan dibuat, Ohm dan Nanon mulai latihan kecil. Ohm memetik gitar dengan lembut, sementara Nanon mencoba beberapa bait lagu yang mereka pilih bersama lagu yang tenang dan lembut, cocok untuk suasana malam di pegunungan.
"Kayaknya pas deh," kata Ohm setelah mereka selesai satu lagu. "Suaranya nyatu banget sama petikan gitarnya."
Nanon tersenyum lega. "Iya, aku juga ngerasa cocok."
Fiat berseru, "Wah, nanti malam pasti kelompok kita dapat tepuk tangan paling kenceng."
Sambil menunggu sore berubah menjadi malam, mereka berlima duduk melingkar di depan tenda, membicarakan jurit malam yang katanya bakal menegangkan.
AJ berbisik, "Katanya panitia bakal nyebar di hutan, nyamar jadi 'penjaga malam'. Jadi kita harus jalan nyari pos satu per satu."
JJ menimpali, "Serem banget. Kalau ada yang loncat dari semak, aku bisa kabur duluan tuh."
Fiat tertawa. "Kamu sih cowok tapi mental kayak anak TK."
Nanon menyandarkan kepala ke lututnya. "Aku deg-degan dari sekarang. Kalau ada suara aneh di hutan gimana?"
Ohm yang duduk di sampingnya langsung menenangkan. "Kalau kamu takut, pegang tangan aku aja."
Nanon menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Kamu yakin nggak bakal takut juga?"
Ohm mengangkat alis. "Kalau bareng kamu, aku nggak takut."
Fiat langsung berseru, "Aduh, ini dua orang bisa nggak sih berhenti bikin suasana kayak drama romantis? Kita nih jadi penonton gratis."
AJ menambahkan, "Tapi jujur, lucu liat kalian berdua."
Mereka semua tertawa lagi. Sore pun perlahan turun, warna langit berubah jingga keemasan. Cahaya lembut itu menyoroti wajah mereka yang lelah tapi bahagia.
Nanon menatap langit dan bergumam, "Rasanya kemah ini bakal jadi kenangan yang nggak bakal aku lupain."
Ohm menatapnya dari samping. "Aku juga ngerasa gitu."
Fiat mengangkat gelas minumnya. "Untuk malam pertunjukan dan jurit malam paling berkesan!"
Mereka semua bersorak kecil, menyentuhkan gelas air mineral masing-masing seperti toast kecil di tengah alam terbuka.
Sore itu terasa begitu hangat bukan hanya karena matahari yang perlahan tenggelam di balik bukit, tapi juga karena kebersamaan mereka yang semakin erat. Dan di balik tenda yang bergoyang pelan diterpa angin gunung, Ohm dan Nanon sama-sama tahu... malam nanti akan jadi malam yang spesial.
jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Teen FictionNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
