Hari itu langit tampak cerah. Sinar matahari menerobos masuk lewat celah jendela kamar Nanon, menyinari wajahnya yang masih tertutup selimut. Alarm belum sempat berbunyi, tapi notifikasi dari ponsel membuatnya terbangun.
📲 "Nanon, aku ke rumah jam 10 ya. Ada sesuatu buat kamu. Jangan pergi duluan!" — Fiat
Nanon mengernyitkan dahi lalu tersenyum. “Fiat? Mau ngapain pagi-pagi?”
Ia pun segera bangkit, mandi, dan mengenakan pakaian santai, kaos putih polos dan celana pendek abu-abu. Baru saja turun ke ruang makan, New sudah menyambutnya sambil menaruh piring berisi roti panggang.
“Pagi, sayang. Fiat katanya mau ke sini ya?” tanya New sambil duduk di sampingnya.
“Iya Ma, katanya ada kejutan.”Kata nanon
Franks muncul dari belakang sambil menguap. “Kejutan? Jangan-jangan Fiat bawa cowok baru?”
Pluem ikut nimbrung, membawa segelas jus jeruk. “Atau... jangan-jangan dia mau nembak Nanon?”
“Eh jangan asal ngomong dong!” Nanon langsung protes sambil tertawa. “Fiat mah udah kayak kakak sendiri.”
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. New langsung bangkit membuka pintu.
Dan ternyata benar saja. Fita berdiri di depan pintu dengan senyum lebar, membawa dua kotak kue yang dihias pita ungu muda.
“Surprise!”
“Wah, pagi-pagi udah heboh,” sahut New.
Nanon muncul dari ruang makan, menghampiri. “Apaan sih, Fiat?”
Fiat masuk dengan langkah ceria dan memberikan salah satu kotak itu ke Nanon.
“Aku pacaran, Non!” katanya dengan suara tinggi. “Sama Oujun!”
Nanon kaget lalu tertawa sambil menerima kotaknya.
“Seriusan? Wah, akhirnya juga ya. Aku pikir kamu sama dia cuma teman debat di ekskul.”kata nanon dengan kaget
Fiat duduk di sofa sambil memeluk bantal.
“Aku juga awalnya mikir gitu, tapi dia ngajak ngobrol kemarin di taman sekolah. Dan... yaudah. Resmi. Tadi pagi dia antar aku ke toko roti, katanya buat berbagi kebahagiaan ke orang-orang penting.”kata fiat
New tersenyum hangat sambil menyajikan teh hangat.
“Wah, selamat ya, Fiat. Oujun anak baik. Mudah-mudahan kalian bisa saling jaga dan tumbuh bareng.”saut New
Fiat mengangguk. “Amin tante. Eh, ini satu kotak buat keluarga kamu juga.”
Pluem membuka kotak yang satunya. “Wah, tart cokelat. Favorit si Franks.”
Franks yang sedang menyendok nasi langsung menoleh. “Aku jadi suka Oujun sekarang.”
Suasana di rumah Nanon penuh canda dan tawa. Tak ada yang berat, tak ada yang membebani. Hari itu terasa seperti pagi dalam cerita dongeng tenang dan manis.
Sore Hari Di Rumah Ohm
Sementara itu di rumah Ohm, suasana juga tak kalah hangat. Ohm baru saja selesai membaca catatan biologi ketika Gulf mengetuk pintu kamarnya.
“Besok kalian belajar di mana?” tanya Gulf sambil duduk di kasur Ohm.
“Kayaknya di kafe deh, Ma. Biar nggak ngantuk kayak kemarin,” jawab Ohm.
Mew masuk membawa dua gelas susu cokelat. “Kamu ajak Nanon aja ya. Lebih semangat kalau belajar bareng.”
Ohm tersenyum kecil. “Iya, pasti. Dia lebih cepet nangkep materi kalau diajari pelan-pelan.”
Gulf menatap Ohm dengan tatapan ibu yang penuh perhatian. “Kamu juga harus jaga diri. Jangan terlalu maksa belajar ya.”
Win tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil memegang gitar. “Belajar penting, tapi ingat... istirahat juga termasuk belajar.”
Ohm tertawa kecil. “Siap, Kak Win.”
Malam Hari Nanon & Ohm Belajar di Kafe
Sebuah kafe kecil di dekat sekolah menjadi tempat mereka belajar malam itu. Lampu temaram, aroma kopi, dan musik jazz instrumental membuat suasana jadi nyaman.
Nanon duduk di seberang Ohm, membuka catatan matematika.
“Ohm, ini soal integral kok aku masih bingung ya?”tanya nanon
Ohm memutar notebook-nya agar menghadap ke Nanon, lalu menulis pelan-pelan sambil menjelaskan.
“Nah, jadi kamu inget nggak... kalau integral itu kayak kebalikan dari turunan. Ini yang kamu harus cari tuh fungsi aslinya...”jawab ohm
Nanon mengangguk perlahan. “Ooooh... gitu. Sekarang masuk akal.”
“Kamu tuh pintar sebenernya. Cuma kadang kamu terlalu mikir rumit,” kata Ohm sambil menatap mata Nanon lama-lama.
Nanon tersipu. “Kamu juga pintar... ngajarin aku.”
Mereka tertawa. Pelayan kafe datang mengantarkan pesanan: dua hot chocolate dan satu slice red velvet cake.
“Sekarang gantian ya,” kata Nanon sambil membuka catatan biologi. “Aku yang tanya kamu.”
“Wah, aku diuji sekarang?” Ohm pura-pura panik.
“Tenang, nggak bakal sulit... kayak hubungan kita.”kata nanon
Ohm menatap Nanon dalam. “Hubungan kita nggak sulit, karena kita saling percaya.”
Suasana mendadak jadi sunyi. Hanya terdengar musik dari speaker kafe. Di antara ratusan orang yang bisa mereka temui, malam itu mereka tahu hati mereka bertemu bukan karena kebetulan.
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Fiksi RemajaNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
