Menghitung Hari dan Puncak Posesif
Kehamilan Nanon kini memasuki minggu-minggu terakhir. Perutnya sudah sangat besar, dan ia benar-benar berhenti bekerja, fokus total pada istirahat di rumah. Rumah mereka telah diubah menjadi surga bayi, lengkap dengan kamar anak yang didekorasi lembut oleh Nanon, namun diawasi ketat oleh The Four Generals yang terlalu antusias.
Ohm mencapai puncak sifat posesifnya. Ia mengambil cuti panjang dari kantor, mendelegasikan tugas kepada Prom, dan menjadikan dirinya bodyguard Nanon selama 24 jam.
"Ohm, aku hanya ingin mengambil air di dapur," rengek Nanon suatu sore.
Ohm, yang sedang duduk di sofa ruang tengah, langsung berdiri. "Tunggu, aku ambilkan. Aku tidak mau kamu terpeleset di lantai keramik. Kamu tahu lantai kita baru dipel?"
"Tapi aku haus sekarang!"
"Baik, Sayang. Aku datang!" Ohm bergegas ke dapur, mengambilkan air minum untuk Nanon, dan kembali dengan kecepatan yang luar biasa.
"Ini," kata Ohm, menyerahkan gelas itu dengan hati-hati. Ia kemudian berlutut di depan Nanon, memeriksa posisi bantalan kakinya. "Pastikan kamu menyandarkan punggungmu dengan benar. Jangan terlalu lama duduk di satu posisi."
Nanon menahan tawa. "Tuan Suami, kamu sudah membaca terlalu banyak buku panduan kehamilan."
"Aku sudah menghafal semuanya," aku Ohm bangga. "Aku harus memastikan semuanya sempurna. Anak kita harus lahir dengan kondisi terbaik."
Diskusi Tengah Malam dan Ketakutan Ohm
Malam harinya, Nanon terbangun dan melihat Ohm sedang berdiri di samping tempat tidur, menatapnya.
"Ohm, kamu belum tidur?" tanya Nanon.
Ohm segera duduk di ranjang, meraih tangan Nanon. "Aku tidak bisa tidur. Aku hanya menatapimu."
"Kenapa?"
Ohm menghela napas, terlihat sedikit cemas. Ia mengusap perut Nanon yang membuncit.
"Aku takut, Nanon," Ohm mengakui, suaranya pelan dan jujur. "Aku takut karena aku sangat mencintai kalian berdua. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa melihatmu di sini, setiap pagi."
Nanon menyentuh pipi Ohm. "Ohm, kamu ini pria yang cerdas dan sukses. Apa yang membuatmu takut?"
"Aku sudah memimpikanmu hilang lagi," bisik Ohm. "Bukan di hutan. Tapi di ruang persalinan. Aku tahu ini konyol, tapi kamu akan melalui rasa sakit yang luar biasa, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Aku posesif karena aku ingin mengendalikan segalanya, tapi momen ini, aku tidak bisa mengendalikan apa-apa. Aku hanya bisa percaya padamu."
Nanon menarik Ohm untuk berbaring di sampingnya. Ia memeluk Ohm.
"Dengarkan aku, Ohm," kata Nanon lembut. "Saat aku hilang di hutan, kamu panik, tapi kamu tidak menyerah. Kamu datang mencariku. Dan saat aku melahirkan nanti, kita tidak akan sendirian. Ada dokter, dan ada kamu di sisiku."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Sayang," Ohm berbisik.
"Kamu tidak akan kehilanganku," janji Nanon. "Kita adalah kompas satu sama lain. Kita akan melewati ini, dan setelah itu, kita akan memeluk Kompas kecil kita. Aku membutuhkanmu, Ohm. Aku butuh kamu yang kuat dan tenang, bukan yang posesif dan panik."
Nohm mencium kening Ohm lama sekali. Kepercayaan dan keintiman mereka di tengah ketakutan Ohm adalah bentuk cinta yang paling murni.
Pesta Kejutan dan Kekacauan Terakhir
Minggu berikutnya, The Four Generals mengadakan pesta baby shower kejutan untuk Nanon. Seluruh rumah dipenuhi dengan dekorasi bertema bayi dan tawa.
Saat Nanon membuka hadiah, ia menemukan semua jenis barang bayi, mulai dari stroller mewah dari Jimmy dan Win, hingga baju-baju lucu dari New dan Gulf. Tay dan Mew bahkan memberikan hadiah berupa buku saham atas nama calon cucu mereka.
Di tengah pesta, Fiat, AJ, dan JJ yang sudah menjadi Paman gaul, mendekati Ohm.
"Bro, kamu terlihat pucat," kata Fiat. "Rileks, sebentar lagi anakmu lahir. Ini adalah fase yang paling seru."
"Seru apanya? Aku harus memastikan Nanon tidak makan terlalu banyak kue yang mengandung gula berlebihan!" Ohm berbisik panik.
AJ tertawa. "Ohm, Nanon itu pria terkuat yang kami kenal. Dia selamat dari Jurit Malam dan Tugas Akhir. Dia pasti bisa melalui persalinan!"
"Ya, tapi itu berbeda," Ohm membalas. "Aku tidak bisa melindungi mereka di sana."
Tiba-tiba, Nanon merasa sakit yang luar biasa. Ia terdiam, wajahnya memucat.
"Ohm..." Nanon memanggil, suaranya tercekat.
Ohm langsung melihat ke mata Nanon. Instingnya sebagai suami siaga langsung menyala.
"Ada apa, Sayang?"
"Sepertinya... kontraksinya sudah datang," bisik Nanon.
Ruangan itu seketika hening. Dalam hitungan detik, kekacauan terjadi. The Four Generals mulai panik, para kakak berebut mencari kunci mobil, dan Fiat malah menjerit, mengulang adegan panik di kantin dulu.
Ohm, meskipun jantungnya berdebar kencang, tiba-tiba menjadi yang paling tenang di antara mereka semua. Ia ingat janjinya.
"Semuanya tenang!" perintah Ohm, suaranya kembali berwibawa.
Ohm segera menggendong Nanon dengan hati-hati persis seperti saat ia menggendong Nanon keluar dari hutan.
"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Ohm, menatap mata Nanon. "Aku bersamamu, Sayang. Aku tidak akan melepaskanmu."
"Aku percaya padamu," balas Nanon, memeluk leher Ohm erat-erat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Ohm membawa Nanon keluar. Mobil yang mereka tumpangi segera melaju menuju rumah sakit, diikuti oleh iring-iringan mobil panik dari seluruh keluarga besar.
Ohm memegang tangan Nanon erat-erat sepanjang perjalanan. Rasa posesifnya kini berubah menjadi tekad untuk melindungi.
"Kita akan berhasil, Sayang," bisik Ohm. "Kita sudah sampai di rumah sakit. Kompas kecil kita akan segera datang."
Saat mereka tiba, Ohm berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menjadi suami yang kuat, menepati janji kompasnya, dan memastikan kedua cintanya selamat dan kembali ke rumah.
Jangn Lupa LIke dan Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Fiksi RemajaNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
