Part 21

50 3 0
                                        

Pagi itu rumah besar milik keluarga MewGulf dipenuhi cahaya matahari yang hangat dan suara riuh penuh semangat. Di ruang tamu, tumpukan kotak-kotak berisi pernak-pernik dekorasi, bunga segar, dan Baju pesta tampak tersusun rapi. Semua sibuk mempersiapkan acara pernikahan Nut dan Peach yang tinggal menghitung hari.

Nanon berdiri sambil menggulung pita satin biru, lalu melirik ke arah kakaknya, Franks, yang sedang menempelkan dekorasi bunga di papan sambutan.

“Bang Franks, jangan miring-miring tuh bunganya. Nanti fotonya jelek,” sindir Nanon sambil tertawa kecil.

Franks mencibir pelan. “Nanon, kamu tuh cerewet banget. Nih, coba aja kamu yang pasang.”

“Duh, aku bagian artistik, bukan teknisi,” balas Nanon dengan gaya sok.

Tak jauh dari mereka, Pluem sedang mengecek daftar tamu bersama Jimmy dan Win.

“Oke, jadi keluarga dari Peach itu datang dari Chiang Mai, kan?” tanya Pluem sambil mencatat di iPad-nya.

Jimmy mengangguk. “Iya, dan mereka nginep di hotel dekat taman tempat resepsi. Papa udah pesenin semuanya kemarin.”

Win menyisipkan komentar, “Kita harus pastikan kursi VIP-nya cukup. Kalo keluarga Nut dan Peach duduk terlalu jauh dari pelaminan, Mama Gulf pasti panik.”

Bright yang sedang membantu menata lilin dekoratif menoleh dengan senyum. “Serius amat kalian. Ini kayak nyiapin gala dinner kerajaan aja.”

“Oh please, ini pernikahan kakak kita, wajar dong semua harus sempurna,” balas Jimmy sambil tertawa ringan.

Dari arah dapur, suara Gulf memanggil mereka.

“Anak-anak, sarapan dulu dong! Nggak bisa kerja terus-terusan kayak gitu!”teriak

Semua pun berbondong ke meja makan besar. Tay dan New, yang baru datang, membawa keranjang berisi kue-kue kecil dan jus buah segar.

“Kami bawa ini biar kalian nggak cuma makan roti tawar doang,” ucap New sambil tersenyum hangat.

Mew membantu menyusun piring dan berkata, “Besok gladi resiknya ya, jangan sampai ada yang telat. Peach tuh nervous banget. Nut juga, walau dia pura-pura tenang.”

“kakak Nut itu model cowok yang kalau gugup malah diem terus,” kata Win sambil mengunyah.

“Kayak waktu dia mau nyatain cinta ke Peach, diem tiga hari.”sambung win

Semua tertawa.

Selesai sarapan, mereka kembali ke ruang tamu. Kali ini Nanon dan Ohm mulai membantu bagian undangan digital.

“Undangan via video ya?” tanya Ohm sambil melihat layar laptop.

“Iya, kita bikin kayak film pendek. Mau diselipi cuplikan dari masa kecil Nut dan Peach,” jawab Nanon.

“Oh iya, dan ada suara kamu narasi juga dong,” usul Ohm sambil menatap Nanon dengan ekspresi iseng.

Nanon pura-pura kesal. “Ih nggak ah, suara aku cempreng.”

“Enggak, suara kamu manis kok,” kata Ohm pelan, nyaris berbisik. Nanon langsung menunduk, malu.

Di sudut lain ruangan, Tay dan Gulf berbincang pelan sambil menyusun souvenir.

“Rasanya dulu kita nggak nyangka ya, anak-anak kita akan sedekat ini,” ucap Tay pelan.

Gulf mengangguk. “Dan bukan cuma dekat, mereka saling dukung, saling jadi sandaran. Ini lebih dari yang aku harapkan.”

Hari itu berlalu dengan tawa, gurauan, dan kerja sama yang erat. Tak ada suara kertak ada perdebatan. Hanya keluarga yang saling menyayangi dan bergandengan tangan menyambut hari bahagia Nut dan Peach.

Malamnya, saat semua sudah tenang, Nanon duduk di balkon lantai dua rumahnya, ditemani Ohm yang baru saja selesai memandikan motor mereka. Mereka duduk diam sejenak memandangi langit.

“Kamu pernah mikir nggak, Nan… suatu hari, kita juga akan nyiapin hal kayak gini buat diri kita sendiri?” tanya Ohm pelan.

Nanon tersenyum kecil. “Mungkin. Tapi untuk sekarang… yuk, fokus dulu bantuin Kak Nut dan Peach. Ini momen mereka.”

Ohm mengangguk. “Tapi suatu saat... aku pengen kamu ada di pelaminan, di sebelah aku.”

Nanon hanya menjawab dengan menunduk dan senyum tipis, sebelum menyandarkan kepala di bahu Ohm. Tak ada kata lagi malam itu. Hanya detak hati yang berdegup tenang dalam kehangatan.




























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang