Part 63

51 3 1
                                        

Kehamilan dan Posesif yang Manis

Kehamilan Nanon semakin memasuki usia enam bulan, dan seiring dengan membesarnya perut Nanon, sifat posesif Ohm juga semakin menguat. Sikapnya ini bukan posesif yang mengekang, melainkan posesif yang lahir dari rasa cinta, takut kehilangan, dan tanggung jawab yang mendalam terhadap dua 'kompas' terpenting dalam hidupnya.

Ohm menjalankan peran sebagai suami siaga dengan sangat serius, bahkan cenderung berlebihan.

Di kantor, ia memasang software khusus di laptop Nanon (yang kini 90% bekerja dari rumah) agar ia bisa memantau jam istirahat Nanon.

"Kamu sudah istirahat, Sayang? Jam 11.00 adalah jadwal minum vitaminmu," Ohm akan menelepon tepat pada waktunya, meskipun ia sedang berada di tengah rapat penting.

"Ohm, aku hanya berjarak satu ruangan darimu kalau kamu di rumah," Nanon sering menggerutu, namun selalu dengan senyum di wajahnya.

"Aku tahu. Tapi aku harus memastikan kamu tidak terlalu banyak bergerak. Kamu tahu proyek inovasi Ayahmu sangat menyita pikiran," balas Ohm, nadanya tegas.

Larangan Konyol dan Cincin Kawin

Suatu sore, Nanon ingin berjalan-jalan sebentar di taman kompleks perumahan mereka yang tertata rapi.

"Kamu mau ke taman?" tanya Ohm, yang saat itu sedang bekerja di ruang kerjanya.

"Ya. Hanya 15 menit, Sayang. Aku butuh udara segar."

Ohm segera menutup laptopnya, berdiri, dan mengambil jaket. "Aku ikut."

"Ohm, aku bisa sendiri! Aku hamil, bukan lumpuh," protes Nanon, geli.

"Aku tahu. Tapi tanah di sana mungkin licin, dan ada banyak orang yang mungkin tidak sengaja menabrakmu. Aku harus menjadi perisai dan penyeimbangmu," jawab Ohm, tanpa basa-basi.

Mereka akhirnya berjalan di taman. Ohm memegang tangan Nanon dengan sangat erat, seperti takut Nanon akan menghilang lagi seperti di Jurit Malam.

Saat mereka berpapasan dengan beberapa tetangga atau bahkan driver pengantar paket yang kebetulan lewat, Ohm akan mempererat genggaman tangannya dan berjalan sedikit di depan Nanon. Ia seolah ingin mengumumkan kepada dunia: "Wanita ini milikku. Dan anak di perutnya juga milikku. Jangan mendekat."

Nanon menyadari tingkah laku Ohm ini.

"Ohm, kamu berlebihan," bisik Nanon sambil tertawa kecil. "Mereka semua tahu kita sudah menikah. Kenapa kamu begitu posesif?"

Ohm menghentikan langkahnya, menoleh, dan menatap Nanon dengan intensitas yang membuat jantung Nanon berdebar kencang. Ia lalu mencium lembut tangan Nanon, tepat di cincin kawin mereka.

"Aku posesif karena aku hampir kehilangan kamu sekali. Aku mencintai kamu, dan aku mencintai keberadaan Kompas kecil ini," Ohm berbisik. "Aku tidak bisa mentoleransi risiko apa pun. Kamu adalah duniaku, Nanon. Dan aku harus melindungi duniaku dari bahaya sekecil apa pun."

Ohm kemudian mencium bibir Nanon cepat. "Biarkan aku menjadi posesif. Biarkan aku menjadi gila karenamu. Itu adalah caraku mencintai kalian berdua."

Nanon terharu. Ia tahu, di balik kekonyolan Ohm, ada rasa cinta yang tak terbatas. "Baiklah, Tuan Suami Posesif. Tapi kamu harus janji, kamu tidak akan melarangku makan ice cream rasa mint lagi."

"Janji. Tapi aku yang akan menyuapimu," balas Ohm, kembali tersenyum jahil.

Kedatangan Chimon dan Ujian Kecil

Suatu sore, Nanon memutuskan untuk datang ke kantor Tay  untuk rapat mendadak. Karena ia sudah diizinkan bekerja dari rumah, ini adalah kunjungan langka.

Saat Nanon menunggu di lobi, ia berpapasan dengan Chimon.

Chimon, yang sudah benar-benar move on dari Nanon dan kini fokus pada kariernya, menyapa Nanon dengan senyum ramah yang tulus.

"Nanon! Lama tidak bertemu! Kamu terlihat sangat berseri-seri," sapa Chimon. Ia melirik perut Nanon yang membesar. "Selamat ya, Nanon. Aku senang melihatmu bahagia."

"Terima kasih, Chimon," balas Nanon, tulus. "Kamu juga terlihat sukses. Aku dengar kamu mendapat promosi."

Mereka mengobrol sebentar tentang pekerjaan dan masa lalu kampus mereka. Obrolan itu murni persahabatan, tanpa ada lagi nuansa canggung.

Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Ohm, yang baru saja selesai rapat di perusahaan Tay  dan berjanji menjemput Nanon, keluar.

Ohm melihat Nanon sedang tertawa dan mengobrol akrab dengan Chimon. Seketika, senyum di wajah Ohm mengeras. Matanya menyipit, dan aura dingin langsung menyelimuti dirinya. Meskipun Ohm tahu Chimon sudah tidak berbahaya, melihat istrinya yang sedang hamil berdiri dekat dengan mantan penggemar rahasianya, memicu alarm posesifnya.

Ohm berjalan cepat menghampiri mereka.

"Hei, Sayang," sapa Ohm, suaranya terdengar ramah di telinga Nanon, tapi ada nada mendominasi di dalamnya.

Ohm segera melingkarkan lengannya di bahu Nanon, menarik Nanon sedikit lebih dekat ke tubuhnya. Ia menatap Chimon.

"Chimon. Senang bertemu denganmu," kata Ohm, mengangguk singkat. "Kami harus segera pergi. Nanon ada jadwal istirahat, dan Dokter menyarankan dia tidak berdiri terlalu lama."

Ohm bahkan tidak memberikan kesempatan pada Chimon untuk menjawab. Ia langsung membalikkan tubuh Nanon dan menuntunnya menuju pintu keluar.

Chimon hanya bisa tersenyum kecil, sedikit merasa geli dengan reaksi posesif Ohm. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa menembus dinding pertahanan itu.

Saat mereka sudah berada di mobil, Nanon menyenggol lengan Ohm.

"Ohm! Kenapa kamu begitu kasar pada Chimon? Dia hanya menyapaku!"

"Aku tidak kasar," balas Ohm, fokus menyetir, tetapi rahangnya mengeras. "Aku hanya memastikan dia tahu batas. Dan kamu, Sayang, tidak boleh terlalu lama berdiri. Kenapa kamu tidak duduk di lobi saja?"

"Aku baru lima menit berdiri! Kamu itu Manajer di perusahaan Ayahmu, bukan bodyguard-ku!" protes Nanon.

Ohm menghentikan mobil di lampu merah, menoleh, dan meraih tangan Nanon. Ia menciumnya.

"Aku adalah bodyguard paling loyalmu, Nanon. Di mataku, kamu tidak hanya membawa Kompas kecil kita, kamu juga membawa seluruh kebahagiaanku. Dan aku tidak akan membiarkan kebahagiaanku terancam, meskipun hanya dari obrolan basa-basi," Ohm mengakui, nadanya melembut. "Biarkan aku posesif sebentar, Sayang. Aku akan segera sembuh setelah Kompas kecil kita lahir."

Nanon menghela napas, luluh oleh kejujuran dan cinta di mata Ohm. "Baiklah, Suamiku. Tapi kamu berutang ice cream mint kepadaku untuk sikap konyolmu ini."

Ohm tersenyum puas. "Berapa pun yang kamu mau, My Pregnant Wife."

Mereka melanjutkan perjalanan pulang, dengan Ohm yang terus memegang tangan Nanon erat-erat. Kehamilan ini memang penuh tantangan, tetapi juga penuh momen manis yang membuktikan bahwa cinta mereka tidak hanya bertahan dari takdir, tetapi juga semakin kuat menghadapi realitas hidup sehari-hari.

















Jangan Lupa LIke dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang