part 15

58 2 0
                                        


Setelah mengantar Ohm pulang, Nanon kembali masuk ke rumah dengan hati yang terasa ringan.

Di ruang keluarga, Pluem dan Franks duduk santai di sofa, menonton acara komedi di TV. Tay sedang membaca koran, dan New masih merapikan meja makan.

"Udah pulang, Non?" sapa Pluem sambil melirik sebentar.

Nanon mengangguk. "Iya. Ohm juga udah pulang."

Franks menyikut Pluem pelan. "Ciee yang dianterin sama pacar."

Nanon mendengus kecil, pura-pura tak peduli. "Biasa aja, Bang."

New muncul dari dapur dengan celemek masih melekat. “Nanon, bantu Bunda ya, cuci piringnya.”

“Iya, Bun.” Nanon segera menuju dapur.

Saat sedang membilas piring, New mendekat dan menepuk pundaknya lembut.

“Bunda senang, lho. Kamu mulai bisa terbuka lagi sama orang lain. Ohm anak baik.”

Nanon menoleh pelan. “Iya, Bun. Aku juga pelan-pelan ngerasa nyaman.”

New mengangguk. “Kamu masih muda, sayang. Belajar dulu, jangan buru-buru soal perasaan.”

“Iya, Bunda.”

Dari ruang tengah, Tay menyahut, “Yang penting saling jaga dan jangan sembunyikan apa-apa.”

“Iya, Pa!”

Suasana rumah malam itu terasa tenang, hangat seperti biasanya. Tak ada tekanan. Hanya keluarga yang saling mendukung dalam diam dan perhatian.

Sementara Itu, di Rumah Ohm

Ohm masuk ke rumahnya yang juga tak kalah hangat. Mew sedang duduk di ruang tamu membaca majalah, Gulf sedang membuat teh, dan Win baru saja keluar dari kamar dengan rambut basah sehabis mandi.

“Udah pulang,” sapa Gulf sambil menyodorkan teh hangat ke Mew.

“Iya, baru aja. Makan malamnya enak banget, Om, Tante,” ucap Ohm sambil melepas sepatu.

Mew menutup majalah. “Serius? Sampai dipanggil ‘Om-Tante’ segala. Padahal belum nikah juga udah kayak besan.”

Ohm nyengir sambil masuk ke ruang tengah. “Habis suasananya kayak rumah sendiri.”

Win duduk di sebelah Gulf, menggoda. “Ciee yang udah cocok sama keluarga pacar.”

Gulf menatap Ohm dengan senyum lembut. “Yang penting jangan lupakan sekolah, ya, Nak.”

“Iya, Pa. Ini besok malah janjian sama Nanon belajar bareng buat ujian.”

Mew tertarik. “Di mana? Jangan di sekolah mulu. Sekali-kali di tempat adem, biar gak stres.”

Ohm mengangguk. “Kami rencana di kafe deket taman. Ada Wi-Fi juga. Sekalian cari suasana baru.”

“Bagus. Biar otak encer,” sahut Win sambil membuka snack di meja.

Ohm masuk ke kamarnya, masih terbayang ciuman kecil mereka di UKS tadi. Tapi ia menepuk pipinya sendiri.

Fokus, Ohm. Ujian dulu.

Keesokan Sore  Di Kafe Belajar

Kafe kecil dekat taman kota itu punya suasana tenang dengan interior kayu, lampu gantung kuning temaram, dan aroma kopi yang menyambut sejak pintu dibuka. Di pojokan jendela besar, dua gelas es cokelat dan satu piring roti bakar sudah siap menemani dua remaja yang saling duduk berhadapan.

Ohm membuka buku catatannya. “Jadi, kita mulai dari Matematika atau Biologi dulu?”

Nanon menyesap es cokelatnya sambil berpikir. “Biologi dulu deh. Otakku masih kuat buat ngafal.”

“Siap, Profesor Nanon.”

Mereka mulai belajar bersama, bergantian mengerjakan soal, saling memberi tahu dan mengingatkan. Suasana di sekitar mereka tenang, hanya terdengar suara mesin espresso dan alunan musik akustik pelan.

“Ohm,” kata Nanon tiba-tiba setelah menulis sesuatu di bukunya.

“Ya?”

“Kamu serius banget ya belajar. Biasanya kan kamu santai.”kata nanon

Ohm tersenyum, menoleh. “Soalnya belajar bareng kamu bikin aku lebih semangat.”

Nanon mengerutkan kening, menahan senyum. “Jangan gombal. Gak fokus aku nanti.”

Ohm mengangkat tangan seperti bersumpah. “Sumpah, ini jujur. Aku pengen lulus bareng kamu. Masuk kuliah bareng. Siapa tahu... masa depan juga bareng.”

Ucapan itu membuat pipi Nanon memerah. Ia tak menjawab, hanya menunduk menatap bukunya.

Beberapa detik kemudian, Nanon bergumam pelan. “Aku juga…”

Ohm tersenyum, kembali menunduk pada bukunya, tapi dari balik catatan, ia mencuri pandang pada Nanon yang sedang serius menulis ulang rangkuman.

Dan di bawah lampu kuning hangat kafe kecil itu, dua hati yang masih muda sedang menyusun harapan bukan hanya untuk ujian, tapi juga untuk hari-hari yang akan mereka hadapi bersama.



























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang