Part 56

57 3 0
                                        

Malam Pertama: Penemuan di Rumah Baru


Setelah membaca surat dari Mew dan Gulf, Ohm dan Nanon melangkah bergandengan tangan, menjelajahi setiap sudut rumah baru mereka. Rasa lelah setelah pernikahan berganti menjadi rasa penasaran yang manis.

"Lihat dapur ini, Ohm! Kompornya sangat modern," seru Nanon, matanya berbinar. "Kita bisa masak apa saja. Kita harus merayakan tugas akhir yang selesai dengan masakan besar pertamamu!"

"Aku lebih tertarik dengan bagian ruang tamunya," balas Ohm, memeluk Nanon dari belakang sambil menunjuk sofa besar nan empuk. "Sofa itu terlihat sempurna untuk kita berdua menonton film, sambil aku memetik gitar untukmu."

Mereka tertawa, membayangkan kehidupan baru yang penuh kenyamanan. Setiap ruangan terasa seperti lembaran kosong yang siap diisi dengan kenangan mereka.

"Ayo, kamar utama," ajak Ohm, nadanya berubah sedikit serak. "Aku rasa itu yang paling penting untuk kita lihat."

Mereka menaiki tangga. Saat Ohm membuka pintu kamar utama, Nanon menarik napas tertahan.

Kamar itu memang berbeda. Cahaya lampu temaram memberikan nuansa hangat. Di atas tempat tidur king size, terhampar seprai putih bersih, dan di sana, sepasang handuk putih tebal dilipat dan dibentuk menyerupai angsa yang saling berhadapan, dikelilingi taburan kelopak bunga mawar merah gelap.

Di nakas samping tempat tidur, terdapat sebuah kartu ucapan besar. Nanon berjalan mendekat, mengambil kartu itu.

"Oh, ini dari semua kakak kita," kata Nanon, tersenyum geli sambil membaca isinya.

Kepada Ohm & Nanon, Pasangan Baru yang Dijodohkan Takdir:

Kami semua patungan untuk menyewa honeymoon specialist untuk mendekorasi kamar ini. Ini adalah hadiah perpisahan kami sebelum kalian sibirkan kami dengan keromantisan kalian.

(Dari Pluem, Frank, Nut, Jimmy, Win - Tim Groomsmen Terbaik)

PS: Ohm, jangan sampai kamu mengecewakan kami. Nanon, besok ceritakan semuanya!

Nanon tertawa terbahak-bahak. "Dasar! Mereka benar-benar tidak bisa berhenti menggoda kita!"

Ohm tersenyum, menggelengkan kepalanya. "Mereka itu fans berat kita, Sayang. Mereka hanya ingin memastikan kita bahagia."

Nanon segera mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera ke tempat tidur. "Aku harus mengirimkan ini ke grupku dengan Pluem dan Frank. Biar mereka tahu aku menghargai kerja keras mereka."

Nanon segera membuka aplikasi WhatsApp.

[Grup: Tiga Serangkai Tay & New]

Nanon: (Mengirim Foto Angsa Handuk dan Bunga) Terima kasih untuk kejutan angsa yang penuh drama ini! Aku sudah melihat kartu ucapan kalian. Aku akan mengirim detailnya besok ya! 😈

Pluem: (Balas cepat) HAH?! Kirim detail apa?! Frank, dia mengancam!

Frank: (Balas tak kalah cepat) Bukan ancaman, phi Pluem! Itu isyarat. Nikmati malam pertama kalian, Adikku! 😂

Nanon mematikan ponselnya, pipinya merona karena malu, namun juga merasa sangat bahagia dicintai oleh orang-orang di sekelilingnya.

Saat Nanon membalikkan badan, Ohm sudah berdiri sangat dekat dengannya. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter.

"Kenapa kamu mematikan ponselmu?" tanya Ohm, suaranya rendah dan dalam, matanya terpaku pada mata Nanon.

"Karena... karena sekarang aku harus fokus pada suamiku," bisik Nanon, suaranya bergetar.

Ohm tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh lembut pipi Nanon yang terasa hangat. Ia mengusapnya pelan dengan ibu jari.

"Kamu terlihat cantik sekali malam ini, Nanon. Dan kamu sudah sah milikku. Aku tidak perlu takut lagi kehilanganmu di tengah hutan atau di tengah keramaian," bisik Ohm.

"Aku juga... aku sangat senang kita sudah di sini, Ohm. Akhirnya."

Ohm mencondongkan tubuhnya. Ia menyentuh bibir Nanon dengan bibirnya, lembut, perlahan, seperti mereka baru pertama kali melakukannya. Ciuman itu dimulai dengan kehati-hatian, namun dengan cepat berubah menjadi penuh gairah, membawa semua perasaan yang terpendam selama bertahun-tahun. Mereka saling melumat, rasa manis champagne dari resepsi berpadu dengan rasa rindu yang terpendam.

Nanon melingkarkan tangannya di leher Ohm, membalas setiap sentuhan dengan intensitas yang sama. Ia tahu, ciuman ini adalah penutup dari perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, dan pembuka dari babak baru yang penuh janji.

Ohm memutus ciuman itu sejenak, napasnya memburu. Ia menatap Nanon, matanya memancarkan hasrat yang membara.

"Aku cinta kamu, Nanon. Aku sangat mencintaimu," bisik Ohm, lalu kembali mencium Nanon dengan lebih dalam.

Ohm kemudian menggeser tangannya ke punggung Nanon, perlahan menarik ritsleting Baju  pengantin Nanon. Baju indah itu melorot, menampakkan bahu Nanon yang mulus. Ohm mencium leher Nanon, memberikan kecupan hangat di sepanjang tulang selangka Nanon.

Nanon merasakan gejolak panas menjalar di tubuhnya. Ia segera membalasnya dengan menarik kemeja pernikahan Ohm, melepaskan kancing-kancingnya dengan tangan gemetar.

"Aku juga mencintaimu, Ohm," Nanon berbisik, suaranya parau karena gairah.

Ohm melepaskan Baju  Nanon sepenuhnya, membiarkannya terjatuh ke lantai. Ia menatap tubuh Nanon, matanya dipenuhi kekaguman. Perlahan, Ohm mendorong Nanon hingga punggung Nanon menyentuh tempat tidur yang tertabur bunga.

Ohm kini berada di atas Nanon. Ia menatap mata Nanon, memastikan bahwa Nanon sepenuhnya menyambutnya. Nanon mengangguk, senyumnya menyiratkan izin dan kerinduan.

Ohm mulai mencium Nanon lagi, kali ini berpindah dari bibir ke leher, ke dada Nanon. Nanon memejamkan mata, membiarkan sentuhan suaminya mengambil alih. Ketika ciuman Ohm mendarat di area payudara Nanon, Nanon melengkungkan punggungnya, menarik napas tajam. Ohm mulai melumat lembut puting Nanon, memutar-mutarnya, membuat Nanon mengeluarkan desahan tertahan yang penuh hasrat.

Nanon memegang rambut Ohm, membiarkan Ohm menjelajahi tubuhnya. Mereka tidak lagi canggung atau malu, hanya ada naluri, janji, dan cinta yang menyala-nyala.

Malam itu, di kamar yang dihiasi oleh angsa handuk dan bunga, Nanon dan Ohm menyempurnakan ikatan mereka. Mereka saling memberi dan menerima, menjelajahi batas baru keintiman mereka sebagai suami istri.

Cinta yang berawal dari kepanikan di hutan dan diresmikan oleh takdir, kini disempurnakan dengan hasrat dan janji. Di bawah selimut, suara desahan dan bisikan cinta menjadi satu-satunya melodi yang menemani hingga fajar menyingsing, menandai awal kehidupan baru mereka, penuh cinta dan kehangatan.







Jangan Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang