Part 67

96 1 0
                                        

Pelabuhan Kompas dan Takdir yang Sempurna Satu Tahun Kemudian

Satu tahun berlalu sejak kelahiran Jemina sang Kompas Kecil. Kehidupan Ohm dan Nanon berubah total, diisi dengan tangisan bayi, tawa, dan kebahagiaan tak terbatas. Rumah mereka yang semula hanya diisi kehangatan cinta pasangan, kini dipenuhi oleh aura keluarga yang lengkap.

Ohm tidak melepaskan gelar 'Suami Posesif'. Ia hanya mengalihkan fokus posesifnya, kini mencakup Jemina dan Nanon secara merata. Ia tetap Manajer yang sukses di kantor, tetapi begitu jam lima sore berdentang, ia berubah menjadi Ayah siaga yang tidak mau ketinggalan satu momen pun bersama putrinya.

Nanon juga kembali bekerja paruh waktu, memimpin proyek-proyek inovasi penting dari rumah, menunjukkan bahwa ia bisa menyeimbangkan peran sebagai ibu dan profesional.

Suatu sore yang hangat, Nanon dan Ohm sedang berada di taman belakang rumah mereka. Jemina, yang sudah bisa merangkak cepat, sedang bermain dengan mainannya di atas karpet khusus.

"Ohm, jangan berikan dia mainan yang terlalu keras! Nanti dia bentur kepalanya!" seru Nanon, geli melihat Ohm yang mengawasi Jemina seperti secret service.

"Aku hanya memastikan, Sayang. Dia terlalu berharga untuk terluka," Ohm membela diri, meskipun ia sendiri terkekeh melihat kepanikannya.

Nanon berjalan mendekati Ohm, memeluk pinggang suaminya dari samping. "Dia akan baik-baik saja, Tuan Manajer. Dia putri kita. Dia kuat, sama seperti ibunya."

Ohm menoleh, menatap Nanon dengan penuh cinta. Waktu telah mengubah mereka menjadi orang tua yang sabar dan matang, namun gairah dan ikatan mereka tidak pernah pudar. Ciuman di taman itu terasa sehangat ciuman mereka di gazebo saat tunangan dulu.

Reuni Jurit Malam

Sore itu, mereka menerima kunjungan dari The Four Generals dan para kakak, yang datang untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, sekaligus merayakan ulang tahun pertama Jemina.

Di tengah suasana makan malam yang ramai, Tay mengangkat gelas.

"Dua tahun lalu," Tay memulai, suaranya dipenuhi haru. "Kami membuat perjanjian. Kami berharap itu akan berhasil. Hari ini, kami melihat buktinya. Perjanjian kami hanyalah pintu, tetapi cinta kalianlah yang membangun seluruh istana ini."

Mew  menambahkan, "Kami bangga melihat kalian. Kalian tidak hanya sukses dalam karier, tetapi kalian sukses menjadi pasangan dan orang tua. Melihat Jemina, kami tahu, perjodohan ini adalah takdir yang paling indah."

Setelah makan malam, saat Nanon sedang menidurkan Jemina, Ohm menerima pesan dari Fiat.

[Grup Chat Mantan Panitia Kampus]

Fiat: Besok kita kumpul di kampus lama! Ada acara reuni Jurit Malam. Kita wajib datang, Ohm!

Ohm: Jurit Malam? Itu sudah berlalu.

AJ: Justru itu! Kita harus nostalgia. Bawalah Nanon!

Ohm menunjukkan pesan itu pada Nanon. "Mau ikut? Kita sudah lama tidak ke sana."

"Tentu saja," Nanon tersenyum. "Aku ingin melihat hutan itu lagi. Tempat di mana kisah kita benar-benar dimulai."

Kembali ke Tempat Asal

Keesokan harinya, Nanon dan Ohm meninggalkan Jemina bersama Gulf dan New, lalu mereka pergi ke kampus lama. Kampus terlihat ramai dengan para alumni.

Di sana, mereka bertemu dengan Fiat, AJ, JJ, dan bahkan Chimon. Chimon kini benar-benar terlihat bahagia dan sukses, ia telah menemukan pasangannya sendiri dan menyapa Ohm serta Nanon dengan senyum persahabatan yang tulus.

"Kalian terlihat sangat bahagia," kata Chimon tulus. "Aku senang kalian menjadi kenyataan yang indah. Kalian menginspirasi banyak orang."

Ohm tersenyum, merangkul bahu Nanon. "Terima kasih, Chimon."

Saat acara reuni selesai, Ohm menarik Nanon menjauh dari keramaian. Mereka berjalan berdua menuju hutan di belakang kampus tempat yang dulu dipenuhi ketakutan, kini dipenuhi kenangan manis.

Mereka berhenti tepat di tempat Nanon dulu tersesat, di bawah pohon besar tempat Ohm pertama kali menyadari perasaannya.

"Ini dia," bisik Nanon. "Tempat di mana aku tersesat, dan kamu menemukan aku."

Ohm memeluk Nanon dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Nanon.

"Aku tidak pernah benar-benar tersesat, Nanon. Aku hanya perlu kamu temukan. Dan kamu selalu menjadi Kompas yang paling tepat," Ohm mengakui.

Nanon mengeluarkan kalung Kompas peraknya, menyentuhnya. "Hadiah ini adalah pengingat terbaik."

Ohm membalikkan tubuh Nanon. Ia menatap mata Nanon, yang kini memancarkan cahaya cinta seorang istri dan ibu.

"Aku mencintaimu, Nanon. Lebih dari kata-kata. Aku mencintai setiap fase hidup kita: saat kita panik di hutan, saat kita berjuang di Tugas Akhir, saat kita saling melindungi di kantor, dan kini, saat kita membesarkan Jemina," kata Ohm.

"Aku juga mencintaimu, Ohm," Nanon membalas. "Aku tidak akan pernah menyesali takdir yang membawa kita. Semua ketakutan dan perjuangan itu sepadan."

Ohm mencium Nanon, ciuman yang memuat semua kenangan indah mereka—ciuman yang lembut, penuh janji, dan abadi. Di bawah pohon tua itu, mereka merayakan bukan hanya pernikahan mereka, tetapi juga keseluruhan perjalanan mereka.

Epilog Kompas yang Menuju Selamanya

Malam itu, Nanon dan Ohm kembali ke rumah mereka, ke pelukan Jemina. Mereka menidurkan putri mereka, lalu berbaring di tempat tidur.

Nanon menyandarkan kepalanya di dada Ohm, mendengarkan detak jantung suaminya—irama paling menenangkan di dunia.

"Ohm," bisik Nanon. "Terima kasih sudah memilihku, meskipun ada banyak jalan lain."

"Kamu tidak perlu berterima kasih, Sayang," balas Ohm. "Kamu adalah satu-satunya jalan yang pernah aku butuhkan. Perjodohan itu hanya mengikat kontrak, tapi cinta ini mengikat jiwa kita."

Ohm memeluk Nanon erat-erat. Ia melihat Jemina yang tidur nyenyak di crib di samping ranjang mereka. Di sana, di antara kegelapan malam, ia menyadari kebenaran takdir mereka.

Mereka adalah pasangan yang dijodohkan oleh keluarga kaya raya, tetapi disatukan oleh kompas, ketakutan, dan cinta tulus. Mereka melewati setiap rintangan—cinta segitiga yang canggung, tekanan akademik, konflik karier, hingga ketakutan posesif saat kehamilan. Semuanya hanya memperkuat ikatan mereka.

Ohm mencium kening Nanon. "Selamat tidur, Istriku. Kompas yang menuntunku pulang, selalu."

Nanon menutup matanya, merasakan kedamaian yang sempurna. Di sampingnya ada suami yang mencintainya, dan di dekatnya ada putri yang menjadi buah cinta mereka.

Kisah Jurit Malam dan Kompas Takdir ini berakhir bukan di sebuah pesta, melainkan dalam kehangatan ranjang mereka, janji yang abadi, dan keluarga yang telah menemukan pelabuhan yang sempurna.


Selesai


Jangn Lupa Like dan Komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang