part 36

28 2 0
                                        

Siang di kampus itu terasa berbeda. Udara hangat musim kemarau bercampur aroma daun kering yang terinjak langkah mahasiswa. Di halaman belakang kampus, tepat di bawah rindangnya pohon flamboyan, Ohm dan Nanon duduk berdampingan di bangku kayu. Di antara mereka terbuka sebuah buku catatan tebal yang penuh coretan daftar perlengkapan kemah.

“Ohm, tenda kita ukurannya cukup nggak buat lima orang?” tanya Nanon sambil memutar pulpen di jarinya.
Ohm mengangkat pandangan dari daftar, lalu tersenyum kecil. “Menurut ku nggak bakalan cukup kan kita udah ada 1 tenda beli aja di mall.”
Nanon menghela napas sambil pura-pura menggeleng. “Kayak sih iya beli 1 tenda lagi lah nanti mall aja yah.”
Mereka tertawa pelan, seolah percakapan sederhana itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak lama.

Tak jauh dari situ, Fiat dan AJ datang membawa beberapa katalog perlengkapan outdoor. “Oke, kita sudah survei harga. Sleeping bag, matras, sama kompor portable bisa kita bagi-bagi bawaannya,” kata Fiat sambil duduk bersila di rumput.
AJ menambahkan, “Kalau soal penerangan, aku udah pesen headlamp online. Besok datang, pas banget.”
JJ yang baru bergabung sambil menenteng minuman dingin langsung ikut nimbrung. “Biar nanti aku yang urus snack. Tapi, janji ya, nggak boleh protes kalau aku beli banyak yang manis.”

“Setuju,” jawab Nanon cepat sambil mengacungkan jempol.

Mereka menghabiskan beberapa menit lagi untuk memeriksa daftar perlengkapan. Saat matahari mulai condong ke barat, Ohm menutup buku catatannya. “Kalau gitu, sore ini kita ke mall aja. Belanja sekalian makan malam, biar besok pagi nggak ada yang kelupaan.”
Semua mengangguk setuju.

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Jalan menuju mall dipenuhi kendaraan yang melaju pelan. Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Fiat yang duduk di kursi depan sibuk memutar lagu-lagu upbeat, sementara Nanon dan Ohm di kursi belakang sesekali saling melempar candaan.

“Kalau nanti kemah, jangan sampai ada yang ketiduran pas giliran jaga api unggun,” ucap AJ sambil menoleh ke belakang.

JJ tertawa kecil. “Kalau Nanon yang jaga, bisa-bisa apinya padam sebelum jam dua.”

Nanon pura-pura memelototi JJ, “Hei! Aku itu paling semangat kalau ada api unggun, tau!”
Ohm hanya tersenyum tipis, matanya sedikit melirik ke arah Nanon dengan tatapan yang hangat.

Mall sore itu ramai tapi tidak terlalu padat. Aroma roti panggang dari toko bakery di pintu masuk langsung menyambut mereka. Lampu-lampu putih terang membuat suasana terasa nyaman.

“Mulai dari lantai dua aja, bagian outdoor,” ujar Fiat sambil mendorong troli.
Di lorong perlengkapan, AJ mengambil senter LED kecil lalu menyalakannya sebentar. “Ini cukup terang buat jalan malam.”
Nanon meraih kantong plastik waterproof dari rak, “Biar nanti gadget nggak basah kalau tiba-tiba hujan.”
Ohm memeriksa kompor portable di rak sebelah, memastikan semua bagiannya lengkap sebelum menaruhnya ke troli.

Saat sedang memilih botol minum, Nanon mendengar suara familiar dari ujung lorong.
“Nanon?”
Ia menoleh, lalu tersenyum lebar. “Chimon! Lama nggak ketemu terakhir ketemunya pendaftaran kemping di kampus.”

Chimon melangkah mendekat sambil membawa keranjang belanja. “Eh, ternyata kamu belanja juga. Buat kemah besok ya?”
Nanon mengangguk. “Iya, sama teman-teman. Oh, kenalin…”
Sebelum Nanon sempat melanjutkan, Ohm sudah menghampiri. “Hai, Chimon. Kita ketemu lagi, terakhir waktu pendaftaran kemah, kan?”
Chimon tertawa kecil. “Iya, dunia sempit banget. Jadi besok kita bakal satu lokasi.”

Fiat dan JJ yang baru selesai memilih peralatan ikut bergabung. “Wah, makin rame aja nanti perkemahan,” kata Fiat sambil tersenyum.
Obrolan mereka berlangsung santai. Mereka sempat saling berbagi tips soal spot terbaik untuk melihat bintang di area kemah, lalu berpamitan karena masing-masing masih harus belanja.

Setelah troli terisi penuh, JJ mengusap perutnya. “Oke, sebelum pulang, kita makan dulu. Aku udah lapar banget.”
Mereka naik ke lantai dua menuju restoran sushi favorit. Aroma nasi cuka, ikan segar, dan rumput laut langsung memenuhi udara.

Baru saja mereka duduk, suara lain terdengar. “Eh, kalian di sini juga?”kata pluem
Nanon menoleh, lalu tersenyum. “Abang Pluem!”

Pluem berjalan menghampiri, masih mengenakan kemeja rapi. “Wah, rame amat kalian. Lagi belanja buat kemah ya?”
Ohm mengangguk, “Iya, Bang. Ini sekalian makan biar nggak pulang kelaparan.”
Pluem tertawa kecil. “Hati-hati di sana nanti. Kalau butuh bantuan logistik, kabarin aja.”
Fiat langsung menimpali, “Wah, boleh tuh, Bang. Nanti kirim sate bakar lewat drone ya.”
Semua tertawa mendengar candaan itu.

Makan malam berlangsung hangat. Mereka berbagi piring sushi, saling menawari potongan sashimi, dan sesekali bercanda soal siapa yang paling cepat bangun saat kemah nanti.























Jangan lupa like dan komen

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang