Setelah pengumuman kelulusan yang mengharukan di sekolah, suasana bahagia belum usai. Dua rumah yang selama ini penuh kenangan kini menjadi saksi euforia kecil atas hasil jerih payah selama bertahun-tahun belajar.
📍 Di Nongkrong Ohm – Sore Hari
Sore itu, Nongkrong Ohm diramaikan oleh tawa dan obrolan hangat. Fourth dan Leo sudah menyiapkan hidangan sederhana: ayam panggang madu, kue cokelat, dan minuman dingin yang menyegarkan. Anggota lain, sibuk membantu mengatur gelas di meja.
Ohm berdiri bersama teman-teman dekatnya Leo, Fourth, dan lainnya. Mereka duduk melingkar di ruang keluarga sambil menikmati makanan ringan.
Leo keluar membawa loyang kue dan meletakkannya di meja. “Ayo, potong kuenya, Ohm,” katanya lembut.
Leo menambahkan, “Tapi jangan langsung makan semua, sisain buat tamu lain juga ya,” candanya, membuat semua tertawa.
Ohm tertawa dan mulai memotong kue. Satu demi satu ia bagikan ke teman-temannya. Kemudian, ia berdiri di tengah lingkaran mereka, wajahnya serius tapi hangat.
“Oh iya guys,” ucap Ohm, suaranya menarik perhatian.
“Gue mau ngomong sesuatu penting.”
Semua langsung menatapnya, beberapa dari mereka mulai bersandar ke belakang, penasaran.
“Selama ini kita punya lingkaran yang solid. Kita nongkrong bareng, belajar bareng, bahkan pernah nyolong waktu bareng buat nonton film tengah malam di kafe Leo,” katanya sambil senyum geli.
Leo tertawa. “Itu pernah banget! Dan hampir ketahuan!”
“Tapi mulai sekarang, gue sama Nanon bakal lebih fokus ke masa depan. Ada banyak rencana yang harus dijalanin. Karena itu, gue mau kasih posisi ketua nongkrong ke seseorang yang gue percaya.”
Leo menatap Ohm dengan ekspresi kaget.
“Oh iya, gue tunjuk Leo,” lanjut Ohm sambil menepuk bahunya. “Lo punya nyali, tanggung jawab, dan rasa sayang ke semua orang di sini. Lo cocok.”
Fourht langsung bertepuk tangan. “Yah, akhirnya raja tongkrongan berganti!”
Leo nyengir tapi wajahnya masih tersentuh. “Serius, Ohm? Gue?”
“Iya. Gue percaya lo. Jaga lingkaran ini. Nggak usah berusaha gantiin gue. Jadilah lo sendiri,” kata Ohm sambil menjabat tangannya.
Semua anggota lain bersorak kecil dan menepuk bahu Leo. Suasana jadi hangat dan penuh rasa bangga.
📍 Di nongkrong Nanon – Malam Hari
Sementara itu di rumah Nanon, suasana juga tak kalah hangat. Gemini dan Fiat menyiapkan nasi tumpeng mini, sebagai lambang syukur. Dan anggota lain ikut sibuk membantu menyusun makanan kecil dan minuman dingin.
“Ini bukan pesta besar,” kata Fiat sambil menaruh piring kue di meja. “Tapi cukup untuk merayakan keberhasilan Nanon.”
Gemini tersenyum, memeluk bahu Nanon. “Bisa juga suatu hari nanti rayain kelulusan kamu di luar negeri, siapa tahu.”
Nanon tertawa kecil. “Aamiin.”
Kemudian, Nanon berdiri di depan meja makan, di mana semua temannya berkumpul Gemini, Neo, dan beberapa teman dekat lainnya.
Nanon tersenyum, matanya berbinar.
“Dari dulu, geng kita ini bukan sekadar tempat buat kabur dari tugas atau ngopi. Ini tempat kita jadi diri sendiri. Tempat kita boleh salah, boleh cerita, boleh ketawa.”
Gemini menyela, “Dan tempat kita jomblo rame-rame!”
Semua tertawa.
“Tapi sekarang, waktunya gue mundur. Gue percaya, tongkat estafet ini harus terus jalan. Dan gue milih... Neo.”
Neo yang sedang memegang gelas jus jeruk, hampir tersedak.
“Hah? Gue?”kata nei dengan kaget
“Lo orang paling sabar, paling logis. Kadang sok cool sih, tapi kita tahu lo peduli sama kita semua,” kata Nanon sambil tersenyum.
Neo berdiri, lalu mengangguk. “Kalau lo percaya sama gue, berarti ini tanggung jawab. Tapi jangan tiba-tiba ilang ya, ketua lama?”
Nanon tertawa. “Tenang, gue pensiun, bukan menghilang.”
Semua kembali bersorak dan bersulang dengan jus mereka. Malam itu, bukan hanya perayaan kelulusan, tapi juga momen bersejarah bagi dua lingkaran yang selama ini tumbuh bersama.
Penutup Malam Penuh Syukur
Malam semakin larut, tapi tawa dan obrolan belum juga usai. Di kedua Nongkrong itu, tak ada yang terburu-buru untuk tidur. Mereka tahu, hari ini adalah titik balik. Hari di mana masa remaja mereka menutup lembar terakhirnya, dan masa depan mulai menunggu.
Tapi sebelum benar-benar melangkah ke depan, mereka ingin berhenti sejenak… untuk menikmati rasa syukur yang penuh, untuk saling menepuk punggung dan berkata:
“Kita sudah sampai sejauh ini. Dan kita akan melangkah lebih jauh, bersama atau tidak, tetap saling mendukung.”
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Novela JuvenilNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
