Part 50

48 2 0
                                        

Kembali dari Kencan: Ciuman Perpisahan di Mobil

Ohm dan Nanon kembali ke mobil, meninggalkan pemandangan kota di bawah mereka. Suasana di dalam mobil terasa hangat dan intim. Ohm berkonsentrasi pada kemudi, tetapi tangan kirinya tidak pernah lepas dari genggaman tangan Nanon yang diletakkan di sandaran tangan.

"Aku sangat bahagia malam ini, Ohm," bisik Nanon, memiringkan kepalanya dan menyandarkan pada kursi.

"Aku juga, Nan. Rasanya semua keraguan yang aku simpan selama bertahun-tahun langsung hilang malam ini," balas Ohm, pandangannya sekilas beralih ke Nanon. "Mulai sekarang, kita nggak perlu lagi pakai kode-kodean di kampus. Kita bisa date di kantin dan semua orang harus tahu."

Nanon tertawa. "Bayangkan reaksi Fiat! Dia pasti akan menjerit."

"Biarkan saja dia menjerit. Aku akan lebih menjerit kalau kamu jauh dariku," canda Ohm.

Tak terasa, mobil Ohm sudah berhenti di depan rumah Nanon. Lampu teras sudah dimatikan, menandakan Tay dan New mungkin sudah beristirahat, namun mobil-mobil mereka masih terparkir.

Ohm mematikan mesin mobil. Keheningan segera menyelimuti mereka.

"Aku harus masuk," kata Nanon, meskipun ia tidak bergerak dari tempat duduknya.

Ohm menoleh, menatap Nanon dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu jalan. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu mencondongkan tubuhnya.

"Satu hal lagi sebelum kamu masuk," bisik Ohm, suaranya dalam dan penuh harap.

Nanon tahu apa yang akan Ohm minta. Jantungnya mulai berdebar kencang lagi. "Apa?"

"Aku sudah dapat ciuman di rooftop tadi, yang resmi sebagai tunangan," Ohm mengakui sambil tersenyum. "Tapi aku belum dapat ciuman perpisahan. Bolehkah aku dapat ciuman yang akan membuatku tidak bisa tidur sampai besok?"

Nanon tersipu malu. Meskipun mereka sudah berciuman dua kali, permintaan langsung Ohm selalu berhasil membuatnya salah tingkah.

"Kamu... harus janji tidak akan terlambat menjemputku besok," balas Nanon, setengah menggoda.

"Aku janji! Aku akan datang sepuluh menit lebih awal!"

Nanon mengangguk pelan. "Oke."

Ohm tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mendekatkan wajahnya, dan kali ini, ia mencium Nanon dengan lembut namun mendalam. Ciuman itu berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya, penuh kerinduan dan janji yang terukir di kegelapan mobil. Perlahan, intensitasnya meningkat, mencerminkan semua perasaan yang selama ini mereka pendam dan kini meledak dalam waktu 24 jam.

Setelah lima menit yang terasa seperti satu menit, Nanon memutus ciuman itu, dahinya bersentuhan dengan dahi Ohm. Napas mereka sedikit memburu.

Nanon merasakan wajahnya panas sekali. "Ohm... itu... itu sudah lima menit, aku bisa sesak napas kalau kamu cium terus," bisik Nanon, menyentuh bibirnya dengan ujung jari, merasa sangat malu.

Ohm tertawa, tawa yang serak dan bahagia. Ia mengecup dahi Nanon cepat.

"Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Kamu tahu? Semua yang aku butuhkan untuk melewati hari-hari di kampus sekarang sudah ada. Terima kasih, Sayang." Ohm menekankan kata 'Sayang' dengan lembut.

"Cepat pergi! Aku sudah malu sekali!" Nanon mendorong bahu Ohm pelan. "Sampai besok, Ohm."

Nanon segera membuka pintu mobil, meraih tasnya, dan lari kecil menuju pintu rumahnya tanpa menoleh ke belakang.

Ohm tersenyum lebar, menunggunya masuk dengan aman. Setelah melihat pintu tertutup, Ohm menyalakan mesin. Ia memundurkan mobilnya perlahan, lalu melaju pergi dengan hati yang penuh.

Rival Marriage(END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang