[Flashback – Beberapa Bulan Sebelum Ujian Kelulusan]
Malam itu hujan turun pelan. Rumah keluarga Nanon terasa lebih tenang dari biasanya. Di ruang tamu yang remang oleh cahaya lampu gantung kuning hangat, suara rintik hujan menjadi latar lembut yang menyelimuti suasana.
Ohm duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada sofa dengan tangan terlipat di atas lutut. Nanon duduk di depannya, bersila, mengenakan sweater abu dan celana pendek, rambutnya berantakan setelah belajar seharian.
Di meja kecil di antara mereka, ada dua gelas coklat panas dan sekotak kue kering buatan Gulf ibunya Ohm yang dikirim khusus hari itu.
Tak ada musik. Tak ada televisi. Hanya mereka berdua dan waktu yang berjalan tenang.
“Ohm…”
Suara Nanon memecah hening pelan, tanpa drama, hanya lembut dan nyata. “Kamu yakin mau serius banget sampai minta izin ke mama papa aku buat... hal ini?”
Ohm menoleh padanya, matanya hangat. “Aku gak ngerasa ini hal yang terburu-buru. Kita udah jalanin banyak hal bareng. Ujian kelulusan tinggal hitungan minggu. Setelah ini kita bakal punya dunia yang lebih luas. Tapi aku gak mau dunia itu... jalan tanpa kamu di sampingku.”
Nanon menghela napas kecil. “Aku takut semua berubah setelah lulus.”
Ohm tersenyum tipis. “Biarpun semua berubah, perasaan aku nggak.”
Kemudian, dari kantong jaketnya, Ohm mengeluarkan kotak kecil bukan kotak cincin mewah, tapi kotak kayu sederhana yang ia buat sendiri di bengkel kampus.
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sepasang cincin silver polos, tidak mengilap, tidak mahal. Tapi bersih dan hangat dipandang.
“Aku gak janji soal masa depan yang megah. Tapi aku janji soal kesetiaan. Dan waktu yang pelan, kayak malam ini.”kata Ohm dengan tulus
Nanon tidak menangis. Ia hanya menatap cincin itu lama, lalu mengambil satu dan menyelipkannya di jari manisnya sendiri.
“Kalau ujian nanti lulus semua, kita adakan makan kecil. Panggil keluarga kamu. Kita resmiin aja pelan-pelan. Tanpa tekanan, tanpa pamer.”katq nanon
Ohm hanya tersenyum. “Buatku, itu lebih dari cukup.”
Dan malam itu, di ruang tamu kecil dengan aroma coklat panas dan suara hujan di atap seng, mereka bertunangan. Bukan dengan keramaian, tapi dengan tenang seperti cerita yang tahu cara bertahan lama.
[Kembali ke Suasana Kampus – Perpustakaan Sore Hari]
Mentari sore menyelinap lewat jendela kaca besar perpustakaan. Suasana dalam ruangan itu hening, hanya terdengar suara ketikan keyboard, gesekan pensil, dan helaan napas mahasiswa yang bergulat dengan deadline.
Di salah satu sudut pojok, Nanon, Fiat, AJ, dan JJ duduk mengelilingi satu meja besar. Tumpukan buku teori, laptop, dan catatan berserakan di antara mereka. Beberapa gelas kopi kosong jadi saksi waktu yang terbuang untuk brainstorming dan diskusi ringan.
Fiat menatap layar laptop sambil meringis. “Kenapa grafik ini gak nyambung sama data utama, ya? Ini kayak hubungan mantan yang gak selesai-selesai.”
AJ menahan tawa. “Woy fokus. Kita bahas populasi pertanian, bukan kisah cinta kamu.”
JJ menyender di kursi. “Kalo terus begini, kita bisa kelar sampe malam, loh. Ada yang bawa camilan gak?”
Nanon membuka ranselnya dan mengeluarkan biskuit. “Aku punya. Tapi jangan banyak, ini stok terakhir.”
Suasana di meja itu tenang dan produktif, walaupun diselingi candaan kecil. Tanpa tekanan. Tanpa ambisi berlebihan. Hanya anak-anak muda yang menyelesaikan tugas bersama, di sela hidup yang kadang terlalu cepat.
Hingga tak lama kemudian, langkah pelan dan mantap terdengar dari lorong utama perpustakaan. Seseorang berjalan masuk dengan mengenakan almamater biru gelap jurusannya, rambutnya sedikit berantakan seperti baru keluar dari lab atau kelas praktikum.
Ohm.
Ia berdiri di samping meja tempat Nanon duduk, tak bicara dulu, hanya menunggu sampai Nanon menyadari kehadirannya.
Begitu Nanon mendongak dan menatapnya, senyum otomatis terbentuk di wajahnya.
“Kamu udah kelar?” Ohm bertanya pelan.
Nanon mengangguk. “Tinggal revisi satu paragraf.”
Ohm mengangguk ke arah teman-teman Nanon. “Sore, semuanya.”
Fiat mengangguk kecil. “Sore, Ohm.”
“Bawa almet, kelihatan rajin banget,” celetuk AJ sambil nyengir.
Ohm tertawa pelan. “Biar resmi, sekalian jemput tunangan saya untuk makan malam di rumah.”
Mata JJ langsung melebar. “Wow, undangan eksklusif, nih.”
Nanon membereskan buku dan laptopnya dengan cepat, lalu menatap teman-temannya. “Kalian lanjutin dulu aja, ya. Aku lanjutin sisanya di rumah nanti.”
“Tenang, kita save di grup,” kata Fiat.
Ohm menunggu dengan sabar di samping, lalu memegang tas Nanon dan menggantungkannya di bahunya. Mereka melangkah keluar dari perpustakaan bersama, menyusuri koridor yang mulai sepi.
Saat angin sore menyentuh wajah mereka, Nanon bersandar sedikit ke bahu Ohm.
“Beneran ke rumah kamu? Tay dan New ada?”tanya nanon
Ohm mengangguk. “Mama masak makanan favorit kamu. Ayah juga pulang cepat hari ini.”
Nanon tersenyum. “Aku seneng banget... hari ini kayak lengkap banget, ya?”
Ohm meraih tangan Nanon dan menggenggamnya erat, seperti malam itu di ruang tamu saat hujan.
“Iya, lengkap. Dan kalaupun belum, kita bisa bikin jadi lengkap... bareng-bareng.”kata ohm
Jangan lupa like dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival Marriage(END)
Novela JuvenilNanon, ketua tongkoran ressie yang memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya. Sifatnya yang nakal, suka tawuran sana sini sampai lupa pulang membuat orang tuanya lelah Sementara itu, Ohm ketua tongkaran dessio, anak ketiga dar...
