Terima kasih

80 10 4
                                        

        Bara POV

Jika ditanya perihal waktu mana yang paling kusyukuri selama hidup, maka pasti kujawab "saat ini."

Aku merasa sudah sangat cukup, bukan tentang materi, bukan juga tentang apa-apa yang aku miliki. Tapi tentang hidup, aku merasa tidak lagi buru-buru, yang akan terjadi dan aku miliki apa pun itu akan aku terima tanpa rasa tapi.

Jika menilik semua yang sudah terlewati, tentu saja siapa sangka aku berada di sini, Yogjakarta. Tidak sekali terbesit dalam kepalaku untuk menaruh karir bermusik dan menjalani kehidupan sebagai orang biasa yang merintis usahanya, dengan penghasilan yang tidak sampai seperempat seperti biasa aku menikmati setiap harinya. Aku tidak keberatan sama sekali, justru merasa lebih tenang setelah ini.

Jika dulu membeli barang mewah, aku nggak pernah lihat harga lagi, sekarang aku harus menabung hingga bisa terbeli, kecuali untuk Shasa. Hidup sederhana ini, aku nikmati.

Ah, bicara tentang Shasa, sejujurnya sejak mengetahui dia adalah anakku, sebisa mungkin aku mulai mengontrol emosi. Kalau dulu segara kemarahan selalu bisa aku luapkan, kini aku lebih hati-hati. Aku nggak mau Shasa lihat aku memukul orang seperti dulu saat pertama kali kami bertemu, juga tidak lagi pernah membantak ibunya– Rindu. Satu-satunya hal yang tidak mau aku lakukan dan sebisa mungkin kuhindari adalah membuatnya kecewa. Aku tidak mau sedetikpun Shasa menaruh kecewanya padaku.

Sudah dua tahun aku tinggal di Jogja, beradaptasi banyak hal, termasuk dunia luar yang sama sekali tidak pernah aku sentuh selama ini. Kehidupanku jauh lebih teratur, tidak pernah tidur sebelum jam dua belas dan bangun sebelum subuh. Aku dan Rindu membagi tugas, dia memasak dan aku yang membersihkan rumah, lalu jam enam pagi kami menjemput Shasa untuk ke sekolah.

Jarak rumahku dan Mbak Hani—orang tua asuh Shasa memang lumayan jauh, tapi karena aku mau setiap hari mengantar jemput Shasa ke Sekolah, maka yang bisa kulakukan hanya bangun lebih pagi da menyempatkan waktu kala siang.

Hidupku lebih sibuk, tapi tidak pernah terburu-buru. Dan yang paling penting, aku bahagia.

Terpaan angin di wajahku seketika membuat napasku terhela lega, angin di luar sana kencang, sepertinya menandakan akan hujan sebentar lagi. Ponsel yang berada di saku hoodieku bergetar, aku menariknya perlahan lantas melihat layar ponsel yang menunjukan notifikasi pesan.

Rindu ❤️: Aku udah di bawah.

Bibirku tersunging tipis. Selain Shasa puteriku, wanita inilah yang membuatku lebih baik sekarang. Satu-satunya wanita yang kucintai selama ini dan tidak ada lagi selain anak ku, Shasa.

Aku bergegas menutup jendela ruangan, mengambil tas kecil serta mengunci ruanganku. Kakiku lebar menapaki anak tangga penuh dengan semangat, seakan kaki yang nyaris mau patah tadi siang tidak terasa lagi. Di ruang bawah sudah sepi, seluruh karyawanku sudah pulang, hanya menyisakan lampu yang temaram dan ruangan cafe yang sudah rapi. Aku mengunci rolling door dengan kunci doubel, lantas mengecek CCTV yang bisa kupantau dari ponsel.

Setelah memastikan aman, aku menghampiri Rindu yang menungguku di samping mobil yang terparkir di depan cafe.

"Tadi naik apa?" tanyaku, sembari merentangkan tangan memeluknya.

"Mobil sanggar, baru jalan mereka," jawab Rindu seraya membenamkan kepalanya ke dadaku.

Sekarang kalian tahu kan kenapa aku tidak pernah menyesali kehidupanku? Ya, karena perempuan ini selalu bisa menerimaku tanpa syarat. Dia tidak pernah meminta aku harus memberinya uang berapa atau waktu sebanyak apa. Dia selalu tanya perkembangan cafeku, memberiku ide agar cafe punya inovasi baru. Sebenarnya, seluruh pengasilanku sudah aku berikan pada Rindu kecuali modal untu cafe, aku membebaskan dia membeli apa saja, tanpa harus ijin, tapi setiap kali aku memeriksa mutasi rekeningku, dia bahkan tidak pernah berbelanja untuk kesenangannya sendiri menggunakan uangku selain kebutuhan untuk rumah.

"Bar?"

"Hmm," aku menyahut pelan, kemudian mengusap bahunya "Capek?"

Dia menggeleng pelan, "liburan yuk!"

"Boleh, kamu pengin ke mana? Tentuin tanggalnya dulu biar Shasa bisa ijin."

Rindu menjauhkan badannya, lantas menatapku dengan kedua alis yang menukik. "Liburan kita berdua aja, malam ini kita nginep di mana gitu. Dua hari kita nggak usah ngapa-ngapain, tidur, jalan-jalan, makan...."

Aku terkekeh, sebenernya kaget dengan ajakannya, karena selama ini bahkan ia sakit pun masih mau kerja. Tapi alih-alih bertanya, aku mengangguk aja, toh selama ini kami selalu sibuk dengan kerjaan masing-masing.

"Oke, kita ambil baju dulu, baru kita pesan tiketnya," putusku.

"Aku udah siapin, itu..." Rindu menunjuk satu koper besar dan tas kecil miliknya.

"Kamu udah siapin, Yang? Astaga..." aku tergelak, "Jadi kita mau ke mana?"

"Bali!" Jawabnya mantap dan bikin aku seketika terbelalak, "Tiket pesawatnya udah ada, kita ke Jakarta dulu besok pagi langsung ke Bali. Hotelnya udah ada juga, jadi client aku kasih hadiah karena puas pakai jasa wedding aku dan kamu kan besok ulang tahun, sesekali kita punya waktu buat liburan kenapa engga? Gratis kan?"

Aku tidak lagi bisa menyembunyikan tawaku, "Yang, serius hadiah buat aku sponsor?"

"Kamu nggak mau?" tanyanya dengan nada kesal. "Ya udah kalau nggak mau kita pulang aja!"

Baru hendak berbalik, aku kemudian menarik lengannya, "siapa bilang nggak mau, bulan madu lagi... aaaww!"

Aku memacu mobil lebih cepat supaya tidak tertinggal pesawat akhir menuju Jakarta. Tidak disangka, selain kami berdua di sana juga teman-temanku sudah menunggu juga dengan pasangan mereka masing-masing.

Boleh dibilang, aku tidak suka merayakan ulang tahun, selama ini perayaan terlalu membosankan dengan hingar bingar pesta yang dibuat Mama agar aku terlihat terpandang. Tapi perayaan ulang tahun yang ini aku suka, aku suka karena Rindu yang menyiapkannya. Tidak ada kue, juga tidak ada lilin ulang tahun, hanya kecupan singkat saat kami sampai di hotel tempat menginap sebelum pergi ke Bali besok bersama Bintang, Jun, Bang Jaya, Mas Arka, dan Chandra.

"Selamat ulang tahun, Bar." Ucap Rindu saat alat pengukur waktu menunjukan pukul 00.45 waktu Jakarta.

"Terima kasih udah mengakui aku dan Shasa," lanjutnya lirih dengan mata yang tidak teralih padaku, "Terima kasih  juga sudah kasih aku kesempatan lagi, Yang. Aku nggak tahu gimana kehidupanku saat ini tanpa kalian," aku baru hendak melanjutkan kalimatku, tapi ia malah membungkam bibirku dengan bibirnya, aku terperanjat namun saat akan hanyut dengan ciuman yang kian dalam, tangannya mendorong dadaku mundur, "Kita belum mandi, belum makan."

Aku terkekeh, lantas mengangkatnya dengan mudah hingga membuatnya terpekik. "BAR!! MAU KE MANA?"

Dalam dekapanku, Rindu meronta ingin diturunkan "Mandi sekaligus makan di kamar mandi," jawabku tetap bergeming membopongnya.

"Bar! Jangan aneh-aneh."

"Nggak aneh Yang, suami istri biasa melakukan ini sekaligus."

Terkadang, hidup memaksa kita melepaskan hal besar untuk digantikannya dengan sesuatu yang lebih baik, dan dia adalah Rindu. Bersama Rindu, meski tidak bergelimang materi, tapi kebahagiaan kami terasa cukup, lebih dari cukup itu.




Hallo, ini part  spesial karena Bobby lagi ulang tahun.

Hehehe... apa kabar guys?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

APOLOGY  [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang