Apa yang tersisa dari seseorang yang belum pergi?
(***)
Kereta masih bergerak ketika Annalise memutuskan untuk tidak lagi memandangi jendela.
Bukan karena tidak ada yang layak dilihat. Padang-padang di luar sana terlalu luas, langitnya terlalu rendah seolah ingin ikut mendengar percakapan orang-orang yang berjalan di bawahnya. Tapi ada keindahan yang menyakitkan ketika seseorang sedang tidak cukup utuh untuk menerimanya.
Pagi ini Annalise tidak cukup utuh.
Raisa tidur di pangkuannya, napasnya teratur dan hangat. Annalise memindahkan tangannya ke tas di sampingnya, bukan karena membutuhkan sesuatu, hanya karena tangannya tidak tahu harus berada di mana ketika pikiran sedang tidak bisa diperintah diam.
Jari-jarinya menelusuri isi tas dari luar, merasakan tekstur kain yang sudah usang di tepinya, lalu membuka ritsleting dan memasukkan tangannya ke dalam.
Yang pertama ia sentuh adalah buku kecilnya. Yang kedua adalah amplop dari Elisabeth. Yang ketiga adalah sesuatu yang tidak ia ingat meletakkannya di sana.
Sebuah sobekan kertas, terlipat menjadi empat. Teksturnya sedikit lebih tebal dari kertas biasa, kasar di satu sisinya, seperti kertas gambar yang sudah terlalu sering disentuh oleh tangan yang sama.
Annalise mengeluarkannya perlahan dan membukanya.
Di dalamnya ada sketsa-sketsa kecil dengan goresan pensil yang ia kenali bahkan sebelum ia benar-benar melihatnya dengan jelas. Wajahnya sendiri, dari sudut yang tidak pernah bisa ia lihat di cermin manapun, sudut yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang duduk sangat dekat dan memperhatikan tanpa ia ketahui.
Anting merah delimanya. Topi jerami yang sedikit miring ke kanan. Tangannya yang sedang memegang cangkir, digambar dengan perhatian yang tidak proporsional untuk benda sekecil itu.
Hanya Seno yang menggambar tangannya memegang cangkir dan membuatnya terlihat seperti sesuatu yang perlu diingat.
Annalise tidak menyimpan kertas itu kembali. Ia menahannya di antara jarinya, membiarkan angin tipis dari celah jendela menggerakkan tepinya pelan, seolah kertas itu sedang bernapas.
Di luar jendela Skotlandia terus bergerak. Tapi kepala Annalise sudah tidak di sana.
Seno pernah bercerita tentang burung-burung kenari di Pegirian yang berlomba bersuara hingga tidak ada yang menang. Waktu itu Annalise hanya mendengarkan.
Yang paling ia ingat bukan ceritanya.
Yang paling ia ingat adalah bagaimana Seno menceritakannya, pelan, seperti orang yang baru menemukan sesuatu dan tidak mau terburu-buru menyampaikannya sebelum ia sendiri selesai memahaminya.
Itu yang membuat Annalise mulai memperhatikannya. Bukan kata-katanya. Cara ia berbicara.
Dan sekali seseorang mulai memperhatikan Seno dengan cara itu, sulit untuk berhenti.
(***)
Sore pertama ia benar-benar melihat Seno bukan sore pertama mereka bertemu. Ada bedanya.
Ia datang terlambat hari itu. Sepatu yang tidak nyaman, jalanan yang ramai. Senja sudah turun ketika ia tiba, warnanya jingga hangat seolah matahari sedang berpamitan dengan lembut kepada dunia.
Ia melihat Seno sebelum Seno melihatnya. Dan dalam beberapa detik itu, beberapa detik yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun, ia berdiri diam di tepi jalan dan memandangi laki-laki itu dari jarak yang cukup jauh untuk merasa aman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Annalise
General FictionAnnalise Dwight Rossevelt hadir seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai, berdiri di antara cahaya dan gelap dengan tubuh tinggi semampai dan mata biru yang menyimpan kedalaman tak terjamah. Rambutnya mengalir seperti bunga matahari yang di...
