Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Usai ketegangan yang menyelimuti mansion Mahatma perlahan memudar, suasana hening menyisakan kesunyian yang terasa menyesakkan di kamar Ersya. Sikap Rangga yang begitu dingin serta tatapan tajamnya mampu membuat Ersya merasa tersudutkan dan takut.
Dengan tatapan itu, Ersya langsung merasa bersalah. Padahal ia tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat. Ersya hanya berniat mengambil handphonenya kembali. Namun, aura menekan dari Rangga mendominasi ruangan. Begitu menekan hingga tak seorang pun berani membantah. Tak terkecuali Vira. Melihat anaknya yang sedang disudutkan, ia memilih terdiam.
Terlebih Ersya sebagai penghuni baru di mansion ini. Membuat sang pemilik mansion marah, Ersya merasa sungkan. Takut jika melakukan sesuatu akan dianggap salah. Ia jadi serba salah.
Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan apa yang telah terjadi. Ia pikir tinggal bersama Vira akan menyenangkan. Nyatanya, semakin hari semakin tersiksa. Harus menghadapi realita yang tak sesuai ekspektasi, belum lagi Mira yang selalu mencari gara-gara padanya.
Biasanya ia yang mencari gara-gara ke abang-abangnya. Sekarang ia menjadi korban. Ternyata rasanya menjengkelkan.
Memang benar ia mendapatkan kebebasan yang selama ini tidak pernah ia miliki. Namun, kebebasan itu terasa hambar ketika tidak dibersamai dengan kehangatan dan kasih sayang.
Rasa penasaran tak lagi menghantuinya. Ia rindu tinggal dengan keluarga Leonard. Terlebih abang-abangnya yang selalu memanjakannya, meskipun pemarah. Abang sulungnya-Barra Leonard tampaknya benar-benar marah padanya. Sampai-sampai tak ingin bertemu dengannya di luar.
Perasaan sedih yang dialami Ersya membuat dirinya tak memiliki keinginan selain tidur untuk mengurangi pusing yang mendera kepalanya.
"Ersya ...." Dengan suara lirih, Vira berusaha memanggil nama anaknya. Memastikan apakah Ersya masih tersadar atau sudah terlelap. Sayang sekali, mata terpejam dengan hembusan napas yang teratur itu menjadi pemandangan Vira. Hal tersebut membuat ekspresinya murung. Banyak hal yang ingin ia tanyakan. Permintaannya juga menggantung begitu saja.
Fokus Vira tertuju pada handphone milik Ersya yang katanya dari Barra. Kilatan penuh ketertarikan terpancar dari kedua matanya. Sejenak ia menoleh pada Ersya, lalu kembali ke arah handphone itu. Menimbang-nimbang.
Keinginannya lebih kuat daripada keraguannya. Dengan cepat Vira mengambilnya. Menyalakan handphone itu dan menggulir layar. Karena Kendrik tak berinisiatif datang ke sini seperti apa yang ia harapkan, maka ia sendiri yang akan menghubunginya. Vira beranjak menuju balkon. Menunggu pihak seberang mengangkat panggilannya. Harap-harap cemas.