Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa jam sebelumnya. Tepat sebelum kekacauan terjadi. Ersya berjalan ke luar seorang diri. Mengenakan seragam yang rapi, siap untuk berangkat sekolah. Sang sopir yang selalu mengantar dan menjemputnya sudah berdiri di samping mobil, siap membukakan pintu untuknya.
"Silakan, Tuan Muda." Pintu belakang dibukakan oleh sang Sopir. Ersya menyambutnya dengan senyum manis. Tak lupa berterima kasih kepada sopir itu.
Mobil melaju menjauh dari kawasan mansion Mahatma. Selama perjalanan, Ersya hanya bergumam pelan. Tatapannya menerawang seolah tengah memikirkan sesuatu yang akan ia lakukan. Sesekali ia menggosok hidungnya yang terasa gatal.
Suasana hening seketika retak karena celetukan Ersya. "Emm ... Pak Pak." Ersya memanggil sang sopir. Tubuhnya memiring, berusaha mencari perhatian dari sopir itu.
"Iya, Tuan Muda?" tanya sopir tetap fokus mengemudi seraya mendengarkan perkataan Ersya.
"Ke mansion Leonard, ya, Pak," pinta Ersya sembari tersenyum manis.
Sopir itu tak langsung menjawab. Ada jeda sejenak. Ekspresinya mengerut. "Tidak ke sekolah?" tanya sopir memastikan.
Ersya menggeleng pelan. "Nggak. Ke mansion Leonard, ya. Pak sopir tau, kan? Ersya juga tau, cuma nggak inget jalannya. Nanti kalau Pak sopir nggak tau jalannya, nanti bisa nanya orang."
"Pokoknya jangan nanya Ersya." Tampak sekali ia melemparkan masalah pada sang sopir. Seperti biasa, Ersya bagian terima beres.
Mengabaikan mulut cerewet Ersya, sopir itu sedang berpikir. Ragu untuk melaksanakan perintah tuan mudanya. "Tapi ... Tuan Muda sudah meminta izin?"
"Sudah kok." Benar. Ersya memang sudah meminta izin. Hanya saja, Ersya izin kepada dirinya sendiri. Dia meminta izin sekaligus menjawabnya sendiri. Tidak apa-apa, yang penting izin. Seperti ...
"Ersya mau balik, boleh, kan?"
"Iya boleh."
Ersya mengatakan itu di depan cermin.
Sopir itu tetap bimbang. Namun melihat wajah polos itu yang mustahil untuk berbohong, ia dengan berat hati mengiyakan. Sepercaya itu pada Ersya dan takut juga jika tidak melaksanakan perintah dari tuan mudanya, ia akan dimarahi oleh tuannya. "Baik, Tuan Muda."
Seiring berjalannya waktu. Mobil yang ditumpangi Ersya seharusnya sudah berada di mansion Leonard. Namun bukannya langsung melaju ke mansion. Di tengah perjalanan, fokus Ersya tak sengaja tertuju pada toko kue. Detik itu juga, ia meminta sang sopir untuk menghentikan mobil.
"Ersya mau beli oleh-oleh dulu. Pak sopir tunggu di sini, ya. Nggak lama kok. Tapi nanti kalau lama berarti nggak cepet." Ersya pamit begitu saja pada sopirnya.