Part 55

1.6K 68 10
                                        

"Happy birthday adek gue yang--,"

"Misi." sela maura saat baru sampai didepan pintu dan langsung mendapatkan kehebohan al, kakaknya. Bukannya ia tak menghargai nya, hanya saja saat ini maura tak ingin merayakan ulangtahun nya. Ia ingin menyendiri.

Maura melewati al, dan mulai menaiki anak tangga--akses menuju kamarnya.

Sepeninggal maura, al yang tadinya bersemangat untuk merayakan ulangtahun maura, kini merasakan semangat nya mulai pudar. Melihat sikap maura sedikit membuatnya kecewa, karena merasa tak dihargai. Namun al harus tahu alasan kenapa maura bersikap seperti tadi, karena al melihat perubahan pada maura selepas kepergiannya.

Al pun menuju kamar maura.

Al mencoba membuka pintu kamar maura. Namun hasilnya nihil, karena pintu nya dikunci dari dalam. Al mengetuk pintu kamar maura.

Tok!
Tok!

"Ra, lo kenapa? Lo baik-baik aja kan?." ujar al. Namun yang ditanya tak menyahut sedikitpun. -- maura masih sibuk menangis.
"Ra, kenapa lo nangis tadi?. Ra. Hari ini ultah lo. Maura, buka pintunya atau gue dob--,"

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu bawah. Al harus menghentikan aksi nya yang akan mendobrak pintu maura. Al pun kemudian turun dan membukakan pintu.

"Adit?."

"Iya. Maaf gue ganggu malem-malem. Maura nya udah tidur?." ujar adit.

Al mengernyit.

"Lo abis pergi sama maura?,"

Adit mengangguk.

Tiba-tiba saja, napas al menjadi naik-turun. Seolah-olah sehabis berlari jauh. Kemudian dengan sigap, al meraih kerah kemeja yang dipakai adit.

"Lo apain adek gue sampe nangis kayak gitu?. Lo apain?!."

Adit hanya menerima al mencengkram kerah nya. Adit tersenyum. Adit tahu sikap dan rasa sayang kepada adiknya-maura. Al memang kakak yang terbaik untuk maura.

"Intinya, kejadian tadi nggak kayak kejadian setahun yang lalu." jawab adit membuat al dengan perlahan melonggarkan cengkraman nya.

"Sorry.  Tapi kenapa maura sampe nangis kayak tadi?. Lo tau dia sekarang ultah kan?."

"Iya gue tau dia ultah. Tadi gue abis ngerayain."

Al memerhatikan wajah adit. Ada sedikit perbedaan. Mata adit terlihat sembab. Hidung adit juga terlihat seperti sedikit memerah. Rambut adit juga berantakan tak seperti biasa.

"Lo abis nangis dit?." tanya al menyelidiki.

Adit menelan saliva nya dengan getir. Tak mungkin jika dia menjawab bahwa dia habis menangis, namun jika dia bohong, al juga terlanjur menyadarinya.

"Nggak lo, nggak maura, mata nya pada sembab. Abis nangis?. Ada apaan dah, antara lu bedua." ujar al.

"Maura masih nangis?. Sampein pesen gue ya al, bilangin ke dia jangan nangis mulu. Kalo bisa lo suruh dia buat ikhlas. Bilang ke dia jangan ragu sama takut. Hehehe. Oh iya, lo jangan bilang ke dia tentang gue pergi ke luar negri, sama kepindahan gue dari sini. Udah itu aja, gue cabut dulu yak."

"Lo bedua putus?." tanya al yang membuat adit memberhentikan langkahnya. 

Adit membalikkan badan nya dan menunjukan senyuman nya. Kemudian kembali berjalan dan dengan segera meninggalkan rumah tersebut. Namun sebelum itu, adit melihat ke atas--melihat kamar maura. Hanya terlihat bayangan lampu. Dan tanpa aba-aba, adit langsung menjalankan motornya, untuk pulang.

Our Promise Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang