Part 62

1.6K 72 16
                                        

"Ini dimana kak? Kok gue gak pernah ke sini ya? Asing aja gitu." ucap Maura saat ia melihat Adit membawa nya kesebuah taman yang memiliki rerumputan yang luas.

"Sejak kapan lo jadi bawel ra? Biasanya diem aja. Kalo ngomong juga seperlunya." ujar Adit yang tak menduga bahwa Maura lebih banyak bicara dari sebelumnya.

"Yaelah bahasa sok alus amat. Bilang bacot pake segala diganti bawel. Biasanya juga bilang bacot." cibir Maura seraya duduk diatas rerumputan tersebut.

Adit tertawa kecil. Jujur, Adit lebih suka Maura yang seperti ini daripada Maura yang murung, pendiam, gengsian. Kalau Maura seperti ini, dari dulu Adit sudah bawa ke KUA. Tapi sifat Maura malah berubah sesudah putus dengannya. Seketika hati Adit hancur.

Adit juga duduk di atas rerumputan--disebelah Maura. Adit mengambil ponselnya dan mengabarkan kepada guru lesnya untuk tidak datang mengajar. Untungnya, guru lesnya juga bilang bahwa ia tak bisa datang--karena istrinya mau melahirkan. Hmm, bisa gitu ya.

Keheningan melanda keduanya. Menikmati semilir angin yang mengenai kulit mereka dengan hembusan yang halus. Maura sibuk dengan pikirannya yang sedang bertanya-tanya tentang apa akibatnya, jika ia bertanya tentang permasalahan 4G-6. Sedangkan Adit hanya sibuk dengan pikiran kosongnya.

"Lo tau Dinda ngerokok dari siapa?." tanya Adit membuka pembicaraan. Maura sedikit tertegun.

"Gue gak sengaja liat dia ngerokok pas gue lagi ke taman belakang sekolah." jawab Maura apa ada nya.

"Lo beneran kan? Maksudnya, lo tau Dinda ngerokok itu bukan dari orang lain kan?." ujar Adit.

"Iya. Ngapain gue boong si. Gak ada guna nya juga buat gue." sahut Maura. "Lagian, kenapa kayaknya lo takut banget si, kalo orang lain tau kak Dinda itu perokok."

Rahang Adit mengeras. Ia sendiri juga tak tahu kenapa ia harus merahasiakan kalo Dinda itu perokok, padahal Dinda sendiri ingin menunjukkan kepada semua nya kalau dia perokok. Bukan tentang perasaan Adit kepada Dinda. Hanya saja, Adit tak  mau orang lain tau alasan Dinda bisa merokok. Karena takutnya, permasalahan itu makin lama, makin membesar dan terbuka.

"Gak kenapa-kenapa. Cuman menjaga citra sahabat sebagai cewek. Dinda kan cewek. Gak pantes, takutnya pada anggep yang enggak-enggak." jawab Adit yang setengah jujur.

Maura semakin merasa aneh kalau Adit seperti itu. Dan tiba rasa beraninya untuk bertanya lebih lanjut. "Kalo permasalahan lo ama kak Rey? Kenapa lo tutup-tutupin?." ujar Maura membuat Adit menatap Maura.

"Dan kenapa lo bohong sama gue. Kalo lo sama kak Al itu udah sahabatan dari lama?."

"Al yang cerita?." tanya Adit dengan nada yang terdengar meninggi.

"Gue gak sengaja waktu itu ngeliat foto lo, kak al, kak rey sama kak Mario waktu SMP. Gue paksa, kak Al buat cerita. Tapi, dia gak cerita secara detail permasalahan lo sama kak Rey." jawab Maura.

Adit menghela napas. "Susah jelasin nya ra. Intinya, semua ini kesalahan nya Rey." ujar Adit.

"Ha? Bisa gitu ya. Masih berat ya, buat ceritain masalah pribadi." Maura membuang pandangannya ke arah lain. Menikmati suasana yang lumayan sejuk.

"Bukan cuman masalah pribadi, tapi ini nyangkut ketiga orang langsung. Masalahnya bukan masalah biasa, gue yakin kalo tau semuanya, lo pasti kaget."

"Gimana gue mau kaget, kalo gue aja gak tau." celetuk Maura.

"Batu nih Maura. Dikata gue gak mau cerita." cibir Adit seraya merangkul Maura dan mendekatkan jaraknya dengan Maura.

Pipi Maura langsung memanas saat itu juga. Maura akan selalu merasa nyaman kala di dekat Adit. Hanya saja, mengingat kejadian dan kebodohannta waktu itu membuatnya merasa tak enak dengan Adit.
"Ra," Adit memanggil Maura.

Our Promise Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang