Part 56

1.5K 72 52
                                        

Maura rasa ulangtahun nya tahun ini dia banyak bersedih. Terutama, saat dia ulangtahun, ayah dan ibu nya ke luat negeri untuk bekerja, dan hanya mengirim pesan singkat pada nya. Dan juga hanya beberapa teman nya yang mengucapkan. Bukan maura bermaksud dia ingin diberi ucapan selamat ulangtahun, hanya saja-- ia mau ulangtahun nya dirayakan bersama-sama.

Putus dengan adit yang niatnya mau memberikan surprise untuknya. Maura rasa diri nya semakin bodoh. Bodoh dalam memilih pendapat. Justru saat mengutarakan pendapat, yang ada maura masuk ke jurang yang membawa nya ke jalan yang salah.

Maura hanya bisa menghirup udara dalam-dalam, saat ia memasuki koridor sekolah dan tak sengaja bertemu dengan adit--yang juga baru datang. Kali ini adit tidak memakai jaket bomber kesayangan nya. Melainkan dengan-- bandana yang berada di kepala nya. Maura merasa seperti pertama kali saat melihat adit dikantin. Memakai bandana, yang pastinya nanti akan membuat kaum hawa klepek-klepek.

Sepertinya adit belum menyadari bahwa ada maura dibelakang nya. Karena adit dengan santainya berjalan ke depan.

'Kak nengok ke belakang kek.' batin maura memohon.

Namun sepertinya permohonan maura kali ini tak dikabulkan. Adit terus berjalan lurus sampai akhirnya berbelok menaiki tangga--untuk kekelasnya. Dan saat itu, maura kehilangan harapan--untuk adit menoleh ke belakang.

Maura hanya bisa menghembus napas nya pelan. Mengingat kejadian 2 hari yang lalu. Yang membuatnya merasa seperti orang yang menolak keberuntungan.

✌✌✌✌

"Anjay si adit pake bandana lagi." ujar ferdy saat melihat batang hidung adit terlihat. Adit hanya menunjukan senyuman kuda nya.

"Yoi lah. Kangen pake bandana gue. Hehehe." sahut adit sambil duduk disamping leo.

"Eh lo pe-er emteka udah belom?." tanya mario.

"Lo ngomong ke siapa?." tanya adit.

"Yak lo lah. Kan guru emteka kita doang yang sama. Pasti lo udah diajarin kan bab tiga. Pasti juga udah dikerjain. Emang guru kocak. Ngasih tugas, tapi jelasin nya bikin pusing." jawab mario panjang lebar .

"Ohh." sahut adit.

"Oh doang lagi lu. Sini mana buku nya. Gue belom nih. Nanti mana pelajaran dia, abis istirahat lagi. Sini dit pinjem lah, nahan amat lu ma temen." ujar mario.

"Lo mau buku gue nggak?,"

Mario mengangguk.

"Lo harus ikutin satu syarat gue." lanjut adit sambil mengacungkan jari telunjuk nya ke udara.

"Apaan tuh syaratnya?." tanya mario yang mulai jengah dengan adit.

"Syaratnya adalah, lo harus mau ambil tuh buku dirumah gue. Soalnya--,"

"Anjeng. Gue kira lo bawa. Setan, goblok, tolol, dongo. Aissh, rasa nya gue pengen santet lu, surip!." mario menyela perkataan adit dengan kata-kata kurang sopan.

Adit dan yang lain hanya terkekeh. "Lagian ngapain gue bawa buku nya, tapi nggak ada pelajaran nya. So, jangan salahin gue." ucap adit tanpa rasa berdosa sedikitpun.

Mario hanya mendesah kecil. Kemudian dia memasukkan buku nya kedalam tas-- mencoba melupakan tugas yang sesat untuknya. "Gue suka dia , tapi gue nggak suka dia." ucap mario secara tiba-tiba.

Our Promise Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang