Karen menginjakkan kakinya di lobi sekolah yang sudah ramai. Jam menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit yang artinya sepuluh menit lagi, bel masuk berbunyi. Setelah melakukan finger print sebagai pengganti absen, Karen berjalan ke lantai 3 di mana kelasnya berada. Tadi pagi ia diantar papa. Dodit dan yang lainnya memang tadi ke rumah Karen, seperti biasa. Tetapi mereka bilang mereka tidak langsung ke sekolah.
Sebelum benar-benar sampai di tangga, Karen melirik ke sudut kanan lapangan yang bersebelahan dengan kantin luar. Ia melihat ibu-ibu tukang ayam kecap yang sering ia beli sudah buka dan sedang menata makanannya. Dengan hati senang, Karen memutuskan untuk berjalan ke sana dan membeli makan. Memang ia sudah makan, tetapi lapar kembali melandanya setelah kemarin ia hanya makan sekali. Mungkin nafsu makannya sudah kembali seperti awal.
"Tante kayak biasa ya, nasinya setengah aja tapi. Di taro plastik item ya tante," ucap Karen membuat tante itu mengangguk paham.
"Kok tumben setengah nasi nya? Padahal tante udah siapin yang nasinya banyak buat kamu," ucap tante yang belum di ketahui namanya itu, membuat Karen tersenyum kecil.
Beberapa anak yang lewat memperhatikan Karen. Lagi-lagi penampilannya menyita perhatian banyak murid. Rok kotak-kotak rempel berwarna senada dengan rok kemarin di lengkapi kemeja abu-abu terang. Karen mengenakan jaket denim dengan beberapa patch yang tangannya di gulung sampai sikut. Kaki jenjang dan ramping tapi berotot itu dibalut dengan kaos kaki semata kaki dan sepatu hitam dengan merk bintang itu. Rambut ikalnya di biarkan terurai, menambah kesan manis dari dirinya.
Saat sedang asik menunggu pesanannya sambil mengecek-ngecek media sosialnya, bel sekolah berbunyi. Hal ini membuat Karen berdecak, lalu berpikir gimana nasib makanan yang sudah ia pesan tadi.
"Nanti istirahat aja deh, tante. Telornya belom jadi juga, kan?" tanya Karen membuat tante yang sedang menggoreng telor dadar untuk karen berhenti sebentar.
"Istirahat? Yaudah. Tapi nanti kalo jamkos mau di ambil, ambil aja. Tante gak kemana-mana kok," balas tante membuat Karen mengangguk.
Ia mengeluarkan salembar uang berwarna biru dari kantong roknya, lalu memberikan uang itu ke tante.
"Kembalinya nanti aja," ucap Karen lalu pergi.
Ia berjalan santai, di saat murid-murid lain sedikit berlari. Ia juga menaiki tangga dengan santai, seakan-akan bel masih akan berbunyi 1 jam lagi. Karen bahkan menaiki tangga sambil bermain game yang baru saja ia download di handphonenya.
"Eh, nak! Nak!" panggil seseorang membuat Karen menoleh.
"Kamu kok jalan nyantai banget, ya? Gak denger udah bel?" tanya ibu itu. Karen tidak mengetahui nama guru yang sekarang sedang berbicara dengannya. Yang ia tahu adalah dia guru di Dirgantata.
"Tau," jawab Karen santai.
"Terus kenapa nyantai?" tanya ibu itu.
"Pegel kaki saya," jawab Karen lagi membuat ibu itu berdecak.
"Alasan. Sini-sini turun. Kamu termasuk telat," ucap ibu itu membuat ekspresi Karen jadi sewot.
"Lah, saya udah finger print kok." balas Karen tidak terima.
"Tapi kamu telat masuk ke kelas. Juga itu, kamu lupa kalau disini tidak boleh pakai jaket kecuali kalo lagi sakit?" tanya guru itu lagi menunjuk jaket denim Karen.
"Kan saya emang lagi sakit. Nih liat," ucap Karen menunjukkan lututnya yang di plester kecil ke depan guru itu.
"Alah alesan terus. Udah sini cepet!" balas ibu itu membuat Karen terpaksa turun dari lima anak tangga yang sudah ia pijak itu lalu mengekori langkah ibu itu ke lobby tempat finger print dan berkumpulnya anak-anak yang telat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Novela Juvenil[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)