19 〰 Cemburu

8.9K 625 13
                                        

"Lo kemana aja?" tanya seseorang membuat Karen yang hendak memasuki kamarnya untuk beres-beres menoleh.

"Eh, Dodit. Udah lama?" tanya Karen balik melihat Dodit keluar dari kamar Nath.

Dodit menyekap kedua tangannya di depan dada, lalu berjalan mendekati Karen. Ia mengenakan kaos tipis abu-abu dan celana pendek selutut dengan nomor punggung baju basketnya.

"Jawab dulu," ucap Dodit.

"Gue abis makan sama Gabi," jawab Karen membuat alis Dodit naik.

"Kok telfon gak di angkat? Line juga gak di bales. Temen-temen lo di telfonin juga pada nggak ngangkat," timpal Dodit.

"Kei sama Nadine les. Hp gue lowbat, kalo Gabi gak ada kuota. Jadinya ga bisa bales. Maaf ya,"

Dodit menghela nafasnya lega, lalu menurunkan tangannya. Ia meraih Karen ke pelukannya, lalu memeluk gadis itu erat. Tinggi yang hanya mencapai dada membuat Karen dapat mendengar jelas degupan jantung Dodit yang berdetak lumayan cepat, membuat ia membalas pelukan Dodit.

"Gue kira lo jalan sama Aska," gumam Dodit polos, membuat Karen terkekeh.

Karen melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua lengan Dodit.

"Beneran gue jalan bareng Gabi," balas Karen tersenyum.

"Kuota kita juga pada abis," lanjut Karen.

Dodit mendengus, "Apa perlu gue beliin kalian wifi yang giganya paling gede?" tanya Dodit melepaskan kedua tangan Karen lalu kembali bersedekap dada.

"Mau dong biar bisa push rank anytime, everywhere," jawab Karen dengan cengiran di wajahnya.

"Ih dasar,"

Dodit menempelkan telapak tangannya yang terbuka ke jidat Karen, membuat Karen tertawa.

"Nanti jam 8 mau temenin gue ke rumah sakit?" tanya Karen menghentikan Dodit.

"Ngapain?"

"Chek up lagi. Takutnya ada komplikasi," jawab Karen.

Dodit menegapkan badannya, lalu memberi Karen hormat. "Siap bu bos!"

"Habis itu kita makan nasi goreng pinggiran ya," pinta Karen lagi.

Dodit mengangguk semangat, "Yang deket lapangan basket tuh enak!"

"Jauh banget dong,"

"Gak papa biar lo bisa pelukin gue terus,"

Tawa Karen pecah mendengar jawaban Dodit barusan. Ia meninju pelan lengan Dodit, lalu berpamitan masuk ke dalam kamarnya.

🐦🐦

Jam menunjukkan pukul delapan lewat 20 menit. Dodit baru saja masuk ke ruangan dokter bersama Karen. Setengah jam lalu, Karen di periksa lanjutan agar mengetahui apakah penyakitnya itu sudah menyebabkan komplikasi atau belum.

"Kamu mulai kemo akhir bulan ini, ya. Nanti jadwalnya saya kasih. Gak boleh bolong kemonya," ucap dokter Yansen.

"Kalo kemo harus nginep nggak, Dok?" tanya Karen.

"Iyalah," jawab dokter.

"Terus ada komplikasi nggak Dok?" kali ini, Dodit yang bertanya.

"Hm, masih perlu diteliti lagi. Minggu depan kalian ke sini aja, ambil hasil tes lab sekalian konsultasi." jawab Dokter.

"Semoga nggak ada apa-apa deh," gumam Karen.

Setelah selesai dengan urusan dokter, Karen dan Dodit melangkahkan kaki mereka keluar. Seperti yang sudah direncanakan, mereka akan pergi makan nasi goreng di dekat lapangan basket.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang