37 〰️ Berantem

4.7K 381 5
                                        

Sore ini menjadi saksi bisu dimana Dodit menembak Karen untuk pertama kali. Mungkin memang kata-kata Dodit barusan terdengar seperti ucapan asal yang Dodit keluarkan karena rasa sukanya terhadap Karen. Tapi, Dodit benar-benar tulus mengatakannya. Ia ingin sesegera mungkin menjadi pacar Karen, agar ia tidak perlu khawatir kalau saja nanti ada yang menikung. Dodit bukan hanya menyukai Karen, tetapi ia sudah terlanjut menaruh hatinya untuk Karen. Ia pikir, ia sudah terlalu menyayangi Karen. Ia ingin selalu ada bersama gadis itu, menemaninya disetiap kesempatan agar Karen memiliki semangat untuk sembuh. Dodit mau dirinya menjadi alasan Karen tersenyum dan bahagia. Dodit siap kapanpun Karen panggil. Dodit mau menemani Karen kemanapun ia pergi.

"Lo serius?" tanya Karen.

"Muka gue kurang serius emang?" tanya Dodit balik, penuh harap agar Karen mampu menerima ketulusan yang Dodit berikan.

Karen memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu menghela nafasnya. "Gue bukannya gak mau," ucapnya.

Ia balik menatap Dodit, "Gue taku kok, lo suka sama gue udah dari lama. Gue udah tau kok kalo ujung-ujungnya lo bakal ngajak gue jadian,"

"Tapi maaf, Dit. Buat sekarang, gue belum mau pacaran dulu. Gue takut jatuh buat orang yang salah lagi,"

"Lo nggak percaya sama gue?" tanya Dodit meraih tangan Karen untuk masuk ke dalam genggamannya.

"Gue percaya. Gue percaya banget lo nggak bakal ngecewai gue," jawab Karen.

Alis Dodit terangkat, "Terus?"

"Gue belum siap mulai hubungan yang terlalu serius, Dit. Jujur, gue juga suka sama lo. Gue nyaman. Bahkan kalo boleh bilang, gue sayang sama lo," jawab Karen lagi dengan suara yang pelan.

"Tapi gue masih belum mau pacaran. Gue takut kalo nantinya kita pacaran, gue malah sibuk buat berobat dan nggak bisa nemenin lo jalan-jalan," lanjutnya.

"Lo nggak perlu nemenim gue. Gue siap kok nemenin lo," jawab Dodit, masih berusaha meyakinkan Karen.

Lagi, Karen menghela nafasnya. "Gimana kalo nanti aja? Gue masih mau kenal lo lebih deket. Gue masih mau belajar buat ngertiin apa yang lo suka sama apa yang lo nggak suka. Gue mau nantinya gue nggak nakal ngecewain lo," balas Karen tersenyum.

Mendengar itu, seulas senyuman juga muncul di wajah Dodit. Perlahan walau tidak rela, ia mengangguk. "Gue bakal nunggu sampe lo siap, kapanpun itu. Gue sayang lo, Ren," ucap Dodit membuat Karen balas mengangguk.

"Makasih udah ngertiin Karen," jawab Karen dibalas anggukkan Dodit.

Selanjutnya, mereka memutuskan untuk pulang karena cuaca mulai mendung. Karen juga tidak sabar ingin membuat kue untuk Dodit dan Nath. Karen harap, Nath suka kue buatan Karen dan setidaknya menyatakam kalau kue itu enak.

🍃🍃

Nath memasuki rumahnya lewat pintu belakang. Tadi saat memarkirkan motor di garasi, ia melihat ada motor Dodit. Memang Dodit sudah bilang akan main di rumah Nath, tapi Nath kira jam segini ia sudah pulang. Saat ia sampai di dapur, ia menemukan Karen dan Dodit sedang duduk di meja makan sambil menyantap seloyang brownies dengan parutan keju di atasnya. Ia berjalan menghampiri Dodit dan Karen, lalu memukul pelan lengan Dodit.

"Pulang, udah malem." ucapnya membuat Dodit menggeleng.

"Nginep ah gue," balasnya.

"Kan besok sekolah, masa mau nginep?" tanya Karen menanggapi jawaban Dodit.

"Enggaaaa, cuma bercanda," jawab Dodit lagi sambil cengengesan.

"Eh Nath, makan nih, brownies buatan Karen. Yang ngaduk adonanya gue loh," ucap Dodit menjulurkan seloyang brownies lain yang belum disentuh.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang