36 〰️ Dor!

4.8K 397 10
                                        

"Karen sayang sama Papa. Makasih udah jadi superheronya Karen,"

"Papa juga sayang sama Karen. Papa mau Karen nemenin Papa. Papa gak mau lepasin kamu sendiri, Ren. Papa mau nemenin kamu kemanapun kamu pergi. Papa mau bayar semua waktu Papa yang kebuang buat urus kerjaan, bukannya urus kamu," jawab Papa. Ia tidak bisa menatap wajah Karen sekarang. Ia tidak ingin Karen tahu ada genangan air dipelupuk matanya.

"Papa masih punya Nath. Nath butuh Papa," balas Karen.

"Nath juga butuh kamu, Ren. Kamu adiknya," timpal Papa.

Karen menggeleng pelan, "Karen iklas kok kalo Nath benci sama Karen sampe kapanpun. Kalo itu yang bisa bikin Nath bahagia, Karen rela. Kalo bisa Karen cepet-cepet pergi aja, biar Nath merasa nyaman di rumah,"

Papa menarik tangannya dari Karen, lalu meletakkan tangan itu di kemudi. "Papa gak suka kalo kamu ngomong kayak gitu." Papa berucap penuh penekanan.

"Maaf, tapi aku capek, Pa. Aku cape0k hadepin sikap Nath yang selalu cuek sama aku. Karen sayang kakak and it hurts," balas Karen.

"Semuanya bisa di selesain, Ren. Papa nggak bakal mundur buat dukung kamu. Papa nggak bakal berenti buat cari dokter hebat yang bisa bantu kamu. Papa nggak bakal berenti buat cari rumah sakit yang bisa ngerawat kamu. Papa nggak peduli berapa duit abis buat kamu. Sampe perusahaan Papa bangkrut juga Papa nggak bakal mundur. Papa nggak mau kamu pergi. Papa mau kamu sembuh." Tegas Papa.

Karen menarik nafasnya, lalu menghembuskan dengan pelan. Sesak mengiringi setiap nafas yang Karen keluarkan. Ia menatap Papa, lalu mengusap pipi kiri Papa. "Makasih, Pa," ucapnya lembut. Papa mengangguk, lalu mengambil tangan Karen yang ada dipipinya, kemudian balas mengecup tangan dingin putrinya itu.

Tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan betapa besar rasa sayang yang Papa miliki untuk Karen. Papa tidak ingin anaknya putus asa dan merasa kalau dirinya sudah tidak berguna lagi. Perasaan Papa ikut hancur setiap menerima laporan medis yang menyatakan kalau kemo yang Karen jalani tidak membuahkan hasil. Ia ikut hancur melihat kondisi Karen yang hanya bisa terbaring pasrah saat dokter menyuntikkan obat-obat untuknya. Tangisan kesakitan Karen akibat suntikan membuat telinga dan hati Papa nyeri. Apakah ini karma untuk Papa karena Papa terlalu sibuk mengurus pekerjaannya? Tapi kalau iya, kenapa Karen? Kenapa bukan Papa saja?

💞💞

Keesokan harinya, Papa pergi ke kantor jam 8. Hari ini ia langsung meeting di salah satu restoran, sekalian sarapan. Tadinya Karen ingin ikut, tapi tidak jadi karena Dodit bilang ia izin pulang lebih awal dan akan menemani Karen di rumah. Karen jadi semangat untuk sarapan, mandi, ganti baju, minum obat, pakai lipbalm dan lotion, serta pakai baju yang bagus.

"Wih anak Papa cantik bener mentang-mentang mau di apelin," ledek Papa masuk ke kamar Karen membawakan nampan berisi sarapan dan obat-obatan.

"Iya dong, harus wangi. Liat nih, hoodie yang Papa beliin baru aku pake," balas Karen memamerkan hoodie merah marun yang ia pakai.

"Mahal itu. Off white," jawab Papa kemudian meletakkan nampan yang ia bawa di meja kamar Karen. Ia kemudian duduk di sofa yang melengkapi meja itu, lalu merentangkan tangannya, bermaksud meminta Karen untuk memeluknya.

Karen berjalan ke arah Papa, lalu memeluk tubuh kekar Papa. "Belom mahal kalo bukan gucci," balas Karen membuat Papanya rertawa.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang