35 〰️ Nongkrong

5K 448 31
                                        

Sesuai rencana Dodit tadi, sehabis teman-temannya pulang, mereka langsung jalan ke mall terdekat yang biasa jadi tongkrongan anak Dirgantara. Dodit akan mentraktir teman-temannya makan sushi dalam rangka menjalin silaturahmi. Jarang sekali Dodit mau mentraktir teman-temannya dengan sukarela. Seperti biasa, Keisha dan Nadine tidak bisa ikut karena les. Maka dari itu, nanti malam sepulang Keisha dan Nadine les, mereka berencana pergi makan sate di daerah elit Ibu Kota yang sangat terkenal dikalangan anak tongkrongan.

"Capek jalan nggak?" tanya Dodit merangkul Karen.

Karen menyingkirkan lengan Dodit yang menyender di pundaknya, lalu menatap Dodit dengan cemberut.

"Berat tau tangan lo. Gue nggak capek, tapi kalo tangan lo ditaro di pundak gue, badan gue bisa rentek, tau!" jawab Karen membuat Dodit tertawa.

"Parah banget tuh Ren. Masa lo di ketawain," ucap Kenny, kompor.

"Tau ya. Kalo gue sih nggak bakal mau ngerangkul-rangkul cewek. Kasian nanti pegel-pegel ceweknya," sambung Rama.

"Sini jalan sama gue aja, Ren," ucap Gabi menarik tangan Karen agar berjalan di sampingnya.

Dodit berdecak, "Ilah ganggu aja pada,"

Yang lain tertawa kecil melihat ekspresi Dodit. Posisi Karen saat ini adalah berjalan bersama Gabi dengan Nath dan Dodit di belakang mereka. Kenny dan Rama jalannya kadang di samping, kadang di kiri, kadang juga bisa ketinggalan karena mereka suka mampir.

"Mumpung Dodit bayarin, nanti pesennya yang banyak, Ren. Kapan lagi ya kan," ucap Gabi.

"Iya, Dodit kemaren fotoin dompetnya tebel banget gitu," timbrung Kenny yang sekarang berjalan di sebelah Karen.

"Abis ngepet ya," balas Nath dengan nada datar, bermaksud meledek Dodit.

"Enak aja, lo! Uang bulanan nih, udah full lagi," jawab Dodit meninju lengan Nath.

"Lo udah bilang Papa, Ren," ucap Nath dari belakang Karen, masih dengan nada bicara datar walaupun ia bermaksud menanya.

Karen terpaku sesaat. Tiba-tiba saja lidahnya kelu, tidak bisa menjawab pertanyaan Nath yang sangat tidak ia duga.

"Karen, itu ditanya," ucap Dodit menyentuh pundak Karen karena Karen tidak cepat menjawab.

Karen mengangguk pelan, "Udah," jawabnya.

Posisi Nath yang berada di belakang Karen membuat ia tidak bisa melihat kakaknya. Muncul setitik kecil harapan kalau Nath sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya mau berubah. Tapi, kenapa Nath mulai berubah di saat Karen akan pergi?

💘💘

Hari sudah semakin larut. Alunan lagu yang dibawakan oleh pengamen jalanan meramaikan suasana Ibu Kota yang hari ini mendung disertai angin. Di tempat yang ramai ini, Karen bersama kawan-kawannya duduk di salah satu kedai sate yang cukup ramai. Semua orang yang ada di sana tertawa dan bertukar cerita dengan kawan-kawan mereka, sama seperti yang Karen lakukan sekarang. Karen merasa bahagia, karena akhirnya bisa berkumpul seperti ini lagi bersama teman-temannya. Full team.

Saat ini, Dodit sedang menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah ia alami bersama teman-teman tongkrongannya. Karen menatap Dodit, memperhatikan setiap inci dan lekukan di wajah manis Dodit. Ekspresinya ketika tertawa membangkitkan keinginan Karen untuk ikut tertawa, bergabung masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang diimpikan banyak orang dan menurutnya itu sangat menyenangkan.

Di samping Dodit ada Nath, menertawakan hal sama seperti yang Karen tertawakan. Tatapannya beralih ke kakaknya itu, kembali memperhatikan setiap inci dan lekukan yang terdpaat di wajah blasteran milik kakaknya. Ekspresimya datar, sinis, jutek, dingin, tetapi semua itu lenyap ketika ia tertawa. Aura yang Nath pancarkan sangatlah hangat saat ia tertawa. Di saat-saat seperti ini, Nath yang akrab dengan asumsi "dingin" bisa berubah menjadi sosok pribadi yang tak kalah hangat dari Dodit. Tidak heran jika banyak yang mengagumi Nath saat ia tertawa.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang