49 〰️ Nath?

5.2K 455 21
                                        

Nath melangkahkan kakinya di lorong rumah sakit menuju kamar rawat Karen. Ia berencana menemani Karen malam ini. Saat ia masuk, ia menemukan Karen sedang tertidur lelap. Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan mendekati Karen. Tangannya terulur untuk mengelus kepala Karen, lalu mendapati beberapa helai rambut yang rontok.

"Maaf gue nggak ada pas lo nangis." Nath berucap pelan.

"Gue bukan kakak yang baik, Ren," lanjutnya.

Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Karen, "Tapi gue janji bakal perbaikin semuanya." Setelah mengatakan itu, ia mendaratkan satu kecupan kecil di kening Karen.

Hatinya merasa lega melihat Karen tertidur. Lebih baik ia melihat Karen tertidur seperti ini daripada melihat Karen menangis. Nath pikir, ego yang selama ini menguasai dirinya perlahan luntur dengan sikap kepedulian yang mulai Nath bangun. Perlahan, ia mau membuka hatinya untuk menyadari bahwa Karen hanyalah korban atas kesedihannya sepeninggalan Mama. Walau sedikit, ia mulai bisa merasakan rasa bersalah karena sikapnya selama ini yang seakan-akan menganggap Karen adalah musuh terbesarnya.

Sesaat sebelum Nath beranjak untuk duduk di sofa, Suste Grace masuk. Ia tersenyum lega melihat kehadiran Nath. Ia mendekati Nath, lalu berbisik.

"Dokter perlu ngomong sama kamu tentang Karen," ucapnya.

Nath dengan cepat mengangguk, lalu dengan pergi ke luar untuk menemui dokter Yansen di ruangannya. Ini adalah pertemuan pertama Nath dengan Dokter Yansen setelah sekian lama. Saat sudah sampai di depan ruangan dokter Yansen, Nath mengetuk pintu beberapa kali. Setelah diperbolehkan masuk, Nath masuk dan langsung mengambil tempat di kursi depan meja kerja Dokter Yansen.

"Hai Nath," sapa Dokter.

Nath mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.

"Dokter turut berduka soal Papa ya," ucap Dokter membuat Nath kembali mengangguk.

"Dokter mau ngomong apa soal Karen?" tanya Nath.

Wajah ceria dokter Yansen luntur. Ia kembali melihat berkas-berkas Karen yang sedaritadi sedang ia baca. Sebelum menjawab, ia menghela nafasnya berat.

"Presentase kesembuhan Karen nggak naik, kondisinya juga nggak naik, tapi nggak nurun. Satu-satunya cara yang bisa kita lakuin buat ngepush presentase kesembuhan Karen cuma transplantasi sumsum tulang belakang, Nath," ucap Dokter Yansen menatap Nath lekat-lekat.

Nath terdiam. Ia merasa benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus ia lakukan?

"Tapi cari donor sumsum tulang itu susah banget, Nath. Kemungkinan besar, pasien bisa dapet donor cuma dari saudara sekandung. Atau mentok-mentok keluarga besar. Kalo kamu berkenan-" belum selesai dokter berbicara, Nath memotongnya

"Ambil aja." ucap Nath mantap.

Mata Dokter Yansen membulat mendengar perkataan Nath barusan. Ekspresinya menggambarkan betapa terkejutnya ia dengan keputusan Nath barusan. Ia sudah mengenal Nath sejak lama. Ia juga tahu persis bagaimana sikap Nath kepada Karen.

"Kamu serius?" tanya Dokter Yansen memastikan.

"Mau ambil jantung Nath juga silahkan. Apa aja yang bisa aku bantu buat dia bakal aku lakuin," jawab Nath lugas.

"Tapi ini bukan hal enteng, Nath. Setelah donor, kamu mungkin bakal ngerasa lemes sampai dua atau tiga hari," balas Dokter Yansen.

"Nggak papa cuma lemes. Karen lebih penting," jawab Nath tetap pada pendiriannya.

Dokter Yansen menghela nafasnya, "Walaupun kemungkinan berhasilnya banyak, tapi kita nggak bisa ngarep tinggi-tinggi. Ada beberapa kasus donor kayak gini gagal. Kalau gagal, resikonya makin besar. Karena setelah dapet donor, pasien harus ditambah dosis kemonya. Jadi intinya, makin banyak obat yang masuk setelah Karen nerima donor ini. Kamu yakin?" tanya Dokter Yansen lagi.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang