Dodit melangkahkan kakinya menuju salah satu ruangan di gedung perkantoran yang sudah sangat ia hafal. Ia berada di kantor Mama.Tadi pulang sekolah, ia memutuskan untuk berkunjung ke kantor mama sekalian ada yang ia ingin bicarakan. Sangat penting, tidak bisa di tunda.
Dodit mengetuk pintu kaca yang tertempel dengan papan kecil persegi panjang berisi nama mamanya. Dari depan ia dapat melihat mamanya sedang menyantap makan siang, walaupun ini sudah hampir jam 4 sore. Mamanya menoleh, lalu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Dodit, menyuruh anaknya untuk masuk. Dodit kemudian masuk dan langsung merebahkan dirinya di sofa empuk yang terletak di dekat meja kerja Mama.
"Tumben dateng. Pasti ada maunya ni!" ucap Mama menghampiri Dodit.
Mama mencium kedua pipi Dodit, lalu duduk di sebelah anaknya. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut gondrong Dodit yang terliat berantakan efek menggunakan helm.
"Dodit perlu apa?" tanya Mama lembut.
"Mama hari ini pulang jam berapa?" tanya Dodit balik.
"Kayak biasa, jam setengah 6. Kenapa, sih?" tanya Mama lagi, penasaran.
"Aku mau ajak Mama makan di cafe baru. Temen aku punya, tu," jawab Dodit tersenyum.
Bukan, bukan ini yang Dodit ingin bicarakan. Dodit kira, mengatakan hal penting tetapi tidak berhubungan dengan pekerjaan Mama di kantor bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.
"Mama sih bisa aja. Emang kamu besok ga ada PR?" tanya Mama membuat Dodit menggeleng.
"Besok sports day," jawab Dodit.
Sports day di Dirgantara adalah 1 dari 30 hari disetiap bulannya yang dilakukan untuk bermain olahraga seharian. Bukan hanya bermain, panitia membuat pertandingan persahabatan antar kelas dan amgkatan. Biasanya sports day jatuh di hari jumat atau sabtu. Untuk bulan ini, sports day dilakukan di hari jumat.
"Ya udah. Nanti kita langsung ketemuan di sana aja, ya? Kamu senloc aja," jawab Mama diangguki Dodit.
10 menit kemudian, bawahan Mama masuk dan memberitahuka kalau meeting akan di mulai beberapa menit lagi. Mengetahui Mamanya akan kembali tenggelam dalam kesibukan kantor, Dodit memilih untuk pulang ke rumahnya dan mandi. Mungkin sehabis mandi ia akan berkunjung ke rumah Karen. Menghabiskan waktu sampai pukul setengah 6.
🚭🚭
Sore ini, langit berwarna ungu dihiasi dengan awan kelabu serta burung-burung yang berterbangan. Semesta belum menunjukan tanda-tanda dirinya akan menangisi bumi selama beberapa hari belakangan ini. Di satu meja yang terletak dekat dengan kaca, Dodit duduk berhadapan dengan Mamanya. Jam menunjukkan pukul 6 lebih 30 menit, dan Dodit sekarang sedang menikmati makan malamnya bersama Mama.
"Kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Mama di sela-sela acara makannya.
Dodit yang sedang asik makan secara refleks merasa kalau selera makannya hilang. Ia mengambil air minum, lalu meminumnya. Setelah itu ia menatap Mamanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Besok Mama di panggil ke sekolah," jawab Dodit. Tangannya terulur untuk mengambil surat panggilan dari tas kecilnya dan memberikan surat itu ke Mama.
Mama dengan cepat mengambil surat itu, meninggalkan sendok dan garpunya lalu fokus untuk membaca. Itu adalah surat panggilan untuk orangtua karena Dodit melakukan kesalahan yang menurut peraturan sekolah, itu adalah pelanggaran yang sangat berat.
Flashback on
Malam itu, dua hari lalu tepatnya, Dodit tengah bersantai di tempat tidurnya. Ia baru saja selesai menyalin pr matematika tentang pencarian rata-rata nilai seseorang. Nilai orang, gue yang ngitung. Saat sedang asik melihat-lihat timeline tentang dunia sepak bola, sebuah telfon yang berasal dari Jordan masuk. Jordan, teman main Dodit dari SMA Samantha yang waktu itu bertanding di sekolah Dodit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Teen Fiction[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)