26 〰 Maaf, Pa

8.1K 642 22
                                        

William mendudukkan tubuhnya di lantai depan kamar rawat Karen karena kebetulan di koridor ini tidak disediakan kursi untuk duduk. Air mata yang sudah ia tahan dengan susah payah akhirnya tidak dapat terbendung lagi di pelupuk matanya. Menghadapi kenyataan kalau anak kesayangannya menderita sakit keras bukanlah hal yang mudah, apalagi di usianya yang belum menginjak 17 tahun.

"Om," panggil seseorang membuat William mendongak.

Itu Dodit yang keluar dari kamar rawat Karen. Tadinya ia ingin ke kantin membeli makanan karena lapar melanda dirinya. Tapi melihat William yang terduduk di depan membuat ia mengurungkan niatnya. Dodit memutuskan untuk duduk di samping William. Ia pikir, mungkin William butuh teman mengobrol di saat seperti ini.

"Om udah lama di sini?" tanya Dodit membuat William menggeleng. Air matanya sudah ia hapus, tetapi matanya masih memerah. Sangat jelas bahwa ia baru saja menangis.

"Karen udah bangun?" tanya William di jawab gelengan kepala Dodit.

William menghela nafasnya berat, lalu bersender pada tembok putih yang ada di belakangnya. Ia menatap tembok putih lain di hadapannya dengan tatapan kosong. Malam ini mungkin adalah malam terburuk baginya setelah malam disaat istrinya dinyatakan meninggal dunia.

"Om sedih Karen sakit," gumam William.

Mendengar itu, Dodit terdiam. Ia adalah orang yang bisa mendengarkan cerita orang lain, tapi sulit untuk memberikan solusi atau pendapat.

"Om itu selalu pengen punya anak perempuan. Makanya semenjak Om punya Karen, Om berenti ngerokok." William berucap sambil tersenyum keci.

"Om ngerokok?" tanya Dodit dijawab anggukan kepala William.

"Om itu bandel. Sama lah kayak kamu-kamu orang," jawab William.

"Waktu itu Karen marahin aku gara-gara dia tau aku ngerokok. Dia bilang dia paling nggak suka sama cowok yang ngerokok," ucap Dodit.

William menatap lawan bicaranya, "Terus kamu berenti?"

"Enggak," jawab Dodit dengan segaris cengrian di bibirnya.

William menggeleng pelan, lalu terkekeh. Ia juga pernah ada di posisi Dodit. Ia sudah sangat paham bagaimana sulitnya untuk melepas kebiasaan merokok.

"Kalo belum bisa cari duit sendiri, jangan merokok. Kecuali kamu daftar jadi ojol, kan dapet duit tuh. Baru deh beli rokok sepuasnya," balas William membuat Dodit mengangguk kecil.

"Aku baru sekali ini dinasehatin sama cowok," ucap Dodit.

"Masa belom pernah sama sekali? Bukannya si Rama itu sering ngasih wejangan-wejangan, ya?" tanya William mengingat salah satu teman anaknya yang menurutnya memiliki sikap paling dewasa.

"Iya, tapi bukan soal kayak gini. Guru pernah sih, tapi panas banget kuping aku kalo denger guru yang ngasih nasehat," jawab Dodit kembali membuat William tedtawa kecil.

Sekali lagi, ia pernah muda dan pernah ada di posisi Dodit.

"Oh iya, Om," ucap Dodit merogoh saku celana pendeknya.

Selanjutnya ia mengeluarkan dompetnya yang terlihat tebal, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dan segepok uang pecahan seratus ribuan yang entah bagaimana muat di dompet lipatnya.

"Ini kemaren Karen nitip uang. Dia ngambil uang di ATMnya, katanya buat biaya kemo. Berhubung Om udah tau semuanya, aku kasih Om aja. Aku nggak berhak megang uang dia," ucap Dodit mengembalikan uang itu ke William.

Melihat itu, ekspresi William berubah. Wajahnya yang sempat segar kembali lesu mendengar ucapan Dodit barusan.

"Kamu bisa tolongin Om nggak?" tanya William.

Dodit mengangguk, "Minta tolong apa emang?"

"Tolong besok ke bank, transferin uang ini balik ke ATMnya Karen. Besok Om ada meeting pagi," jawab William.

"Bisa. Besok pulang sekolah ngga papa kan?" tanya Dodit balik membuat William mengangguk lalu tersenyum.

⛅⛅

Jam menunjukkan pukul 7 pagi. William baru saja membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian kerja. Tadi subuh sekitar jam 3, Karen terbangun. Tetapi karena masih dalam pengaruh obat tidur, sekarang Karen kembali tidur. Dodit semalam sudah pulang karena hari ini sekolah masuk seperti biasa. William mendekati anak perempuannya, lalu mengelus kepala Karen. Membuat anak itu terbangun dari tidurnya.

William duduk di sebelah ranjang Karen, lalu menggenggam tangan anaknya. "Papa sayang Karen," gumamnya.

Karen tersenyum tipis, "Papa udah mau berangkat?" tanya Karen dijawab angukan Papanya.

"Papa cuma meeting sampe jam 10. Habis itu papa nggak ada kerjaan lagi," jawab William.

"Bukannnya sekarang lagi sibuk ya?" tanya Karen lagi.

William mengangguk, "Papa cancel semua meeting sampe kamu keluar dari rumah sakit. Lagian meeting selain hari ini nggak ada yang terlalu penting,"

"Sekarang Papa mau tanya sesuatu sama kamu." William menatap anaknya dengan lekat.

"Kamu sakit apa?" tanyanya.

Mendengar itu membuat hati Karen jadi dagdigdugserr rasanya. Ia bingung harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Ia ingin Papanya tahu kalau dia sakit, tapi di saat bersamaan juga ia tidak ingin membuat Papanya merasa khawatir.

"Jujur," lanjut Papa.

Karen menghela nafasnya berat, "Leukemia, Pa."

"Terus kenapa baru ngomong?" tanya William lagi.

"Maaf," jawab Karen.

"Kalo Papa nggak ngobrol sama dokter, Papa nggak bakal tau kamu sakit ini. Ini bukan main-main loh, Ren," timpal William membuat Karen mengangguk pelan.

"Dokter bilang kamu boleh pulang namti malem atau besok pagi. Tapi kamu harus istirahat terus. Lusa kamu mulai kemo," ucap William.

Karen menghela nafasnya berat, "Sekolah?" tanya Karen.

"Papa udah suruh om Joe cariin homeschooling buat kamu," jawab Papa.

Mendengar itu membuat emosi Karen naik, "Nggak mau!" bentak Karen.

"Loh?"

"Karen nggak mau homeschooling! Aku masih bisa bagun, berangkat sekolah, naik turun tangga, nyatet, dan seterusnya. Aku nggak mau homeschooling!" lanjut Karen.

"Tapi dok-" belum selesai William berucap, anaknya sudah memotong.

"Aku masih kuat, Pa!" bentak Karen berbarengan dengan air matanya yang jatuh.

William mengalah. Selalu seperti ini jika sifat keras kepala Karen muncul.

"Kalo Papa mau buat aku seneng, jangan larang-larang aku. Jangan buat aku ngerasa kalo aku udah nggak bisa apa-apa. Aku masih muda. Peluang aku buat sembuh masih banyak," lanjut Karen.

William mengelus puncak kepala Karen, lalu mengangguk pelan. "Maafin Papa ya," ucapnya.

--

HAIHAII
absurd parah gila part ini wkwjw
maapkeuuun

next part aj lgsg gpp kok wkwkkw >
btw
follow ig karen dkk ya HEHEHE yg mau di follback langsung dm aja

@kareninaalx
@dodit.ss
@nathanalxr
@gabigabriellas

☝ baru itu sich hehe

okok
enjoyy💓

griertoast.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang