"Gue-"
"Bullshit."
Dodit menarik kursi roda Karen dengan pelan, lalu mengarahkan agar ia bisa berhadapan dengan gadis itu. Ia berlutut di depan Karen agar tingginya sejajar dengan Karen yang duduk. Ia kemudian menatap lurus ke mata Karen.
"Gue berantem sama Jordan karena dia ngeledekin lo," ucap Dodit. "Gue nggak suka orang yang gue sayang diledekin,"
"Harus pake nonjok?" tanya Karen.
"Ya abis kalo nggak nonjok harus di apain lagi supaya diem? Harus gue cabein mulutnya?" tanya Dodit balik.
"Ya lo pergi aja dari situ. Kan kalo lo pergi, gak usah nonjok, nggak bakal lo di skors kayak gini," jawab Karen.
Dodit menghela nafasnya, lalu menumpukan tangannya di atas paha Karen. "Maaf," ucapnya. Bingung harus mengatakan apa.
"Jangan minta maaf ke gue," jawab Karen.
"Mama nggak mau nanggepin gue," sela Dodit cepat.
"Resiko lo," balas Karen.
"Tapi kan gue ngelakuin ini tujuannya baik," sela Dodit lagi membela dirinya.
"Iya baik, supaya gue nggak di ledekin lagi. Tapi baik nggak buat lo? Baik nggak buat nyokap lo? Buat Jordan? Coba deh sekarang mikir panjang dulu sebelum ngelakuin sesuatu. Malu sama umur kalo dikit-dikit berantem," jawab Karen.
"Lo nggak suka ya gue belain lo? Emang dengan cara gue kayak gitu, belom cukup buat ngebuktiin kalo gue beneran suka sama lo?" tanya Dodit.
"Ngga ada hubungannya," jawab Karen.
Dodit menghela nafasnya, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan menjauhi Karen dengan pelan, berharap agar anak itu menahannya untuk tetap di rumah sakit.
"Gue kira dengan cara kayak gini lo bakal peka kalo gue sebenernya suka sama lo. Gue tau kok gue deket sama banyak cewek. Gue tau gue nyanyiin lagu cinta-cintaan ke banyak cewek. Tapi gue gak pernah belain kayak gitu buat banyak cewek, Ren. Gue bahkan sering nggak peduli kalo satu dari sekian cewek yang deket sama gue di omongin di tongkrongan. Ah, ternyata lo sama dinginnya kayak Nath," ucap Dodit, berusaha tetap terdengar seperti biasa walaupun sekarang ada goresan tak kasat mata di dalam dadanya.
Untuk pertama kalinya, Dodit merasakan kalau perjuangannya sia-sia. Dodit kira yang ia lakukan bisa membuat Karen membuka hati untuknya. Yang ada dipikiran Dodit adalah Karen memeluknya, mengucapkan banyak terima kasih dan sanjungan karena mau membela Karen sampai harus di skors seperti ini. Tapi yang Dodit dapatkan malah kebalikannya.
Kalau begini, untuk apa ia tetap bertahan untuk sesuatu yang sangat sulit ia raih?
Ternyata, kedekatan dirinya dengan Karen selama ini bukan jaminan untuk bisa menaklukan hati Karen dengan mudah. Mungkin semua orang yang mengetahui tentang kedekatan mereka memantikan adanya pengumuman bahwa Karodit --Karen dan Dodit, resmi berpacaran. Tetapi realita yang harus Dodit hadapi tidaklah semudah itu. Dodit kira, mudah bagi Karen untuk memhuka hatinya dan melanjutkan ke status yang lebih tinggi lagi daripada hanya sekedar sahabat.
Mendengar suara pintu yang dibuka lalu tertutup lagi membuat Karen menunduk lesu. Setitik air matanya jatuh. Awalnya setitik demi setitik, namun saat melihat Dodit melintasi taman yang menuju ke parkiran membuat air matanya semakin deras. Melihat Dodit berjalan dengan pelan membuat Karen sadar kalau apa yang ia lakukan seakan tidak menghargai pengorbanan Dodit. Tapi Karen melakukan ini bukan tanpa alasan. Ia ingin merubah Dodit menjadi pribadi yang lebih baik. Karen sudah banyak mendengar cerita tentang Dodit yang playboy, perokok, ngongkrong sana sini, cabut, dan segala sesuatunya yang mungkin saja bisa mengancam Dodit saat penentuan kelulusan nanti.
"Karen?" suara berat milik pria yang sudah sangat ia hafal itu sontak membuat tangis Karen makin pecah.
Itu Papa. Sangking asiknya mengamati Dodit sambil menangis, Karen bahkan tidak sadar kalau Papa sudah masuk ke kamarnya. Papa yang melihat putrinya menangis langsung memeluk anak itu dengan erat. Membiarkan putrinya menangis dalam dekapannya.
"Karen juga sayang sama Dodit, Pa," bisik Karen diangguki Papa.
"Yang kamu lakuin itu nggak salah kok, Ren. Dodit itu masih belum bisa ngontrol emosi, makanya dia nggak bisa nerima omelan kamu," balas Papa.
"Gimana kalo Dodit udah nggak mau temenan lagi sama Karen?" tanya Karen membuat Papa terkekeh.
Lucu ya anak ini kalo lagi jatuh cinta, batin Papa karena ini kali pertama Karen terbuka masalah perasaannya.
"Tenang aja. Kamu kira Dodit itu cewek," jawab Papa.
"Kata dokter kalo nanti siang hasil cek kamu udah ada kenaikan, kamu boleh pulang malemnya. Tapi belom boleh ke sekolah sama ke luar rumah. Harus istirahat," ucap Papa melepas pelukannya.
Karen mengangguk, lalu meminta Papanya agar memindahkannya ke kasur karena ia ingin tidur. Jauh dari lubuk hati terdalamnya, ia merasa senang karena Dodit rela di skors demi "melindungi" Karen. Tapi tentu saja sebagian lain dari hatinya merasa tidak enak karena itu merepotkan Tante Renata --Mama Dodit. Selama ini Karen bukannya tidak sadar kalau Dodit suka padanya. Dari pertama ia jalan bersama Dodit saja ia sudah paham. Dan ketika waktu itu Dodit bertanya pada Karen, apakah ia ingin memulai sebuah hubungan percintaan, Karen paham kalau itu adalah sebuah kode dari Dodit. Namun sayangnya, untuk saat ini, ia masih belum percaya diri untuk memulai suatu hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.
Karen belum siap untuk kecewa lagi. Karen belum siap untuk peduli kepada orang yang pada akhirnya akan meninggalkan dirinya. Hati Karen masih dalam tahap pemulihan setelah terjatuh untuk orang yang salah. Karen belum siap untuk merasa kehilangan, dan ia tidak ingin air matanya jatuh untuk kedua kalinya karena alasan yang sama. Karen perlu waktu untuk memulihkan kondisi hatinya yang sekarang masih retak sana-sini.
Tapi di lain sisi, Karen juga menyukai Dodit. Diam-diam ia menyimpan rasa yang sama untuk Dodit. Ia suka ketika Dodit menjemput dan mengantarnya pulang. Ia suka saat Dodit secara tiba-tiba menjemputnya dan mengajaknya keluar malam. Karen suka saat Dodit memaksanya memakai helm ketika mereka naik motor dengan alasan keselamatan. Karen merasa disayangi dan dilindungi. Terlebih saat Dodit berusaha menggantikan segala sesuatu yang seharusnya adalah tugas Nath, sepertri mengantar Karen ke rumah sakit, menebus obat Karen, menggandeng Karen ketika ia berjalaan disaat tubuhnya masih lemas. Selama Karen dekat dengan cowok, baru Dodit yang memprelakukan dirinya seperti ini.
"Kalau kamu juga suka sama Dodit, ungkapin. Kesempatan itu nggak datang dua kali, lho. Nggak ada salahnya kalo kamu bilang kamu sayang sama dia, walaupun kamu belum mau jadi pacarnya dia. Seenggaknya dia tau kalo perasaan dia itu nggak bertepuk sebelah tangan," ucap Papa sambil tersenyum menatap Karen.
"Gimana craanya ngomong kalo Doditnya aja mungkin sekarang marah sama Karen," balas Karen terlihat cemas.
"Waktu bisa ngerubah perasaan orang, Ren. Papa yakin Dodit nggak marah sama kamu. Dia cuma perlu waktu buat nenangin emosinya dia. Biasa lah, anak muda,"jawab Papa tersenyum.
Senyuman yang selalu membuat Karen merasa lebih tenag.
--
HAAAAAAIIIIII
it's been a looooooonggg time :(
maafffff banget kalau aku updatenya lama, karena sibuk tugas seklah pluuuuus hp disita :( maaf lagi kalau kalian kurang puas sama part ini. next part janji bakal lagi memuaskan
Griertoast.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Teen Fiction[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)