23 〰 Karodit

8K 610 19
                                        

Nath melangkahkan kakinya ke kelas Dodit. Bel istirahat pertama baru saja berdering tetapi para murid sudah berhamburan. Hari ini Karen memaksa masuk sekolah. Semalam ia tidak di rawat inap atas permintaan Karen sendiri. Kalau ia di rawat inap, Papa akan curiga dan Karen belum siap untuk menceritakan semuanya kepada Papa. Sama seperti kemarin-kemarin, Karen masih duduk bersama Dodit dengan Aska dan Adam di depan mereka. Nath mendekat ke tempat duduk mereka, lalu menarik kerah baju Dodit hingga anak itu berdiri.

"Bangsat lo!" ucap Nath dilanjutkan dengan satu pukulan telak yang mengenai pipi Dodit.

Tentu saja kejadian itu menyita perhatian bagi anak-anak kelas mereka yang masih setia menyatat catatan bilogi di papan tulus. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan tanpa di duga, jadi Dodit tidak memiliki persiapan.

"Apaansih?!" tanya Dodit mendorong tubuh Nath, menjauhkan anak itu dari depan badannya.

"Pengecut! Mana yang lo bilang bakal jagain Karen?!" tanya Nath balik kembali dengan satu tonjokan di tempat yang sama.

Mendapat pukulan keras untuk kedua kalinya di tempat yang sama membuat bibir Dodit mengeluarkan bercak darah.

"Darah lo tuh nggak bakal cukup buat ganti darah dia yang keluar semalem!" ucap Nath lagi, bersiap untuk menonjok tapi Karen sudah bangkit dan memeluk tubuh Dodit.

"Stop! Sana pergi!" bentak Karen. Siap jika suatu waktu Nath kelepasan dan malah memukul badannya.

"Buat apa lo masih lindungin dia? Lo gak inget semalem dia ngapain lo? Dia ninggalin lo!" balas Nath.

Mendengar itu membuat hati Karen terasa sakit. Masalahnya, apa yang Nath katakan itu benar.

"Dodit lagi sakit! Jangan pukulin dia!" timpal Karen lagi.

Nath mendengus, lalu menjauhkan Karen dari Dodit. Selanjutnya ia menarik kerah baju Dodit dan melayangkan satu pukulan lagi di dada Dodit. Membuat rasa sesak seketika menyelimuti cowok yang hari ini merasa tidak enak badan. Hidungnya memerah akibat bersin yang sudah ia keluarkan belasan kali pagi ini.

"Nathan!" pekik Karen menjauhkan tubuh Nath dari Dodit yang sekarang sedang memegang dadanya sambil terbatuk.

Adam menarik Dodit menjauh, membawanya ke luar kelas. Mungkin UKS karena sedaritadi Dodit uring-uringan minta tidur di UKS.

"Semua masalah gak harus di selesaim pake fisik. Gak bakal nemu jalan keluar kalo lo cuma bisa nonjokin dia. Lo belom tau kan alesan dia ngelakuin itu? Semua orang punya alesan buat lakuin apa yang mereka mau. Dan lo gak berhak main nonjok gitu aja," ucap Aska menatap Nath.

"Bacot," balas Nath lalu berbalik dan pergi.

Aska menggeleng pelan, lalu menghela nafasnya. Ia menatap Karen yang sekarang terduduk di kursinya, lalu mengelus pundak Karen.

"Wajar, cowok. Itu normal karena dia kakak lo," ucap Aska.

"Tapi gue gak suka dia tonjok Dodit. Dia aja gak pernah peduli sama gue, buat apa marah sama Dodit gara-gara kejadian kemaren?" balas Karen seperti bertanya.

"Mending lo samperin Dodit. Dia ke UKS," timpal Aska membuat Karen mengangguk.

Karen berjalan ke luar kelas sambil menenteng sekotak tisyu yang tadi Dodit bawa. Sebelum ke UKS, Karen menyempatkan diri pergi ke kantin untuk membeli es batu yang nantinya ia gunakam untuk mengompres luka Dodit.

🍃🍃

"Sorry ngerepotin, Dam," ucap Dodit membuat Adam yang sedang membuka kancing seragam Dodit untuk mengecek bekas pukulan Nath.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang