Karen berjalan ke luar kelas setelah bel istirahat berbunyi. Hari ini Dodit futsal, jadi tidak bisa pulang bareng. Karen niatnya menonton Dodit futsal, tapi niat itu diurungkan karena ia sendirian. Hari ini Nadine dan Keisha les. Bukan hanya hari ini aja sebenernya, setiap hari mereka juga les.
"Karen!" panggil seseorang dari kejauhan membuat Karen menoleh ke ujung koridor.
Di sana ada Gabi, memintanya untuk berhenti dan menunggu di situ. Karen yang mengerti mengangguk kecil lalu berjalan ke balkon dan bersender di sana. 1 menit kemudian, Gabi datang dengan mata yang memerah seperti habis nangis. Karen yang bingung dan panik langsung memeluk Gabi, membuat Gabi tiba-tiba saja menangis.
"Sorry gue diemin lo. Gue harusnya dengerin lo waktu itu," isak Gabi.
Alis Karen naik satu, "Kenapa?" tanyanya.
"Gue putus sama Vano. Ternyata dia pacarin gue gara-gara gue deket sama guru-guru. Dia mau jadiin gue alat biar guru-guru mau baik sama dia," jawab Gabi lalu melepas pelukannya.
"Ape aku kate," balas Karen mengkuti suara Upin.
Gabi mengangguk kecil, "Sorry ya, Ren. Gue kira lo mau jelek-jelekin Vano. Normal ya, Ren, kalo kita marah sama orang yang jelek-jelekin cowok kita," ucap Gabi.
Karen mengangguk, "Santai aja. Sekarang lo udah putus kan sama dia?" tanya Karen memastikan.
"Udah. Gue bener-bener udah gak mau pacaran sama dia," jawab Gabi.
"Bagus lah. Dia gak pantes dapet cewek secantik lo," balas Karen membuat Gabi terkekeh.
"Temenin gue makan yuk!" ajak Gabi membuat Karen mengangguk semangat.
"Gue pengen makan yang manis-manis," balas Karen.
"Martabak yuk!" ajak Gabi semangat membuat Karen mengangguk setuju.
🍵🍵
"Gab, sebenernya ada yang mau gue omongin." Karen berucap sambil menyesap cappuccino hangat di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta. Di depannya tersaji seloyang martabak dengan rasa kekinian, serta Gabi yang sedang asik memakan roti panggang isi nutella.
"Apa tuh?" tanya Gabi.
Karen meletakkan gelas minumannya, lalu bersender. Matanya terarah untuk melihat hujan di luar yang membasahi jalanan Ibu Kota, membuat siapa saja yang berada di dalam enggan untuk beranjak keluar. AC di tempat itu menjadi lebih dingin efem cuaca di luar yang juga dingin, tidak seperti biasanya.
"Kalo gue sakit parah trus kemungkinan sembuhnya kecil, lo masih mau main sama gue?" tanya Karen membuat Gabi menatap Karen aneh, lalu mengangguk.
"Masih lah. Gas aja," jawab Gabi.
Karen berdecak, "Serius," ucapnya.
"Ya iya serius. Kenapa juga gue harus jauhin lo gara-gara lo sakit?" tanya Gabi balik.
"Gue sakit," ucap Karen membuat Gabi berhenti mengunyah.
Untuk sepersekian detik, jantungnya juga ikut berhenti. Sekarang ia mulai mengerti arah pembicaraan Karen. Gabi meletakkan garpunya, lalu mendengarkan ucapan Karen yang selanjutnya.
"Kanker darah, stadium tiga." Karen menunduk. Air matanya kembali turun, membayangkan semuanya akan berkahir hanya karena 6 huruf pembawa sial itu.
"Sumpah?" tanya Gabi melongo.
Karen mengangguk, "Awalnya stadium 2 akhir, tapi gara-gara telat ketauan jadi sekarang naik."
"Terus lo nggak kemo? Berobat? Radiasi gitu?" tanya Gabi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Novela Juvenil[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)