54 〰️ Nyerah?

5.8K 403 15
                                        

Paginya, Karen mendapat kunjungan dari Gabi dan Dodit. Mereka membawakan satu slice cheese cake dari toko kue kesukaan Karen. Hari ini adalah ulang tahunnya ke tujuh brlas. Tadi pagi, ia berdoa, mengucapkan banyak sekali syukur karena salah satu doanya -bisa merayakan ulangtahun ke tujuh belas tercapai.

Lalu setelah makan bersama, waktunya untuk Karen istirahat. Nath beranjak keluar lebih dulu, sedangkan Gabi dan Dodit masih ingin di sana. Mereka sudah menyiapkan surpirse kecil-kecilan untuk Karen nanti malam. Lalu saat suster Grace kembali masuk, Dodit meminta waktu tambahan selama sepuluh menit. Suster Grace tidak enak menolak, maka dari itu Dodit sekarang masih duduk memperhatikan Karen. Sudah bisa ia lihat dengan sangat jelas kalau sekarang Karen harus duduk di kursi roda. Hal ini menyayat hatinya. Ia pernah menjanjikan Karen untuk mengajarkan shoot three point. Tapi sekarang?

"Kenapa sih minta waktu tambahan terus? Kan nanti bisa ketemu lagi," tanya Karen.

"Gue mau berduaan aja sama lo. Lagian Gabi tadi nggak peka banget. Harusnya dia keluar pas Nath keluar. Kan kalo dia ikut keluar, gue bisa berduaan sama lo," jawab Dodit memasang wajah ngambeknya.

Karen tertawa, lalu menepuk pipi Dodit pelan. Tangannya kemudian mengelus rambut Dodut yang sudah mulai gondrong.

"Potong rambut. Udah panjang ini," ucap Karen menarik poni Dodit yang panjangnya sudah melebihi alis.

"Kan lo suka rambut kayak gini," balas Dodit.

"Ya nanti di marahin. Pendekin aja dikit," timpal Karen.

"Iya nanti. Abis dari sini langsung potong," jawab Dodit lagi.

Karen mengangguk, lalu mereka terdiam. Mereka saling memandang.

"Mulai sekarang gue harus pake kursi roda kalo ke mana-mana," ucap Karen pelan.

"Iya, nggak apa-apa," balas Dodit.

"Kata dokter, semuanya nggak ada yang berhasil, Dit. Padahal setiap dokter bilang obatnya nggak cocok, Opa sama Papa selalu cariin obat yang baru. Tapi tetep aja nggak ada yang cocok," ucap Karen lagi.

Dodit menunduk. Tiba-tiba air matanya jatuh begitu saja. Ia buru-buru menghapus air matanya, tetapi keluar lagi. Hidungnya memerah. Karen mengelus rambut Dodit, lalu tangannya turun dan diam di rahang tegas Dodit.

"Kenapa nangis?" tanya Karen.

Dodit kembali menghapus air matanya, "Nggak tau, nih," jawabnya.

"Mungkin gue kecewa, Ren. Kenapa sih ko harus kayak gini? Gue baru kenal lo, tapi gue mungkin nggak punya banyak waktu lagi sama lo. Sedangkan gue, maunya punya banyaaaaak banget waktu buat hareng sama lo. Kenapa kesannya Tuhan nggak ngijinin ya?" tanya Dodit, menghapus air matanya lagi.

Karen menarik Dodit kepelukannya, membuat Dodit memeluk cewek itu dengan erat. Ia menenggelamkan kepalanya di lekukan keher Karen.

"Everything happens for a reason, Dit. Jangan ngomong gitu," balas Karen.

"Ya kalo kayak gini, gue harus gimana Ren? Gue sedih. Gue kesel. Gue marah. Siapa yang harus gue salahin?" tanya Dodit lagi.

Karen tidak tau harus menjawab apa. Ia sendiri merasakan apa yang Dodit rasakan. Ia juga bingung kepada siapa ia harus marah. Karen mengelus-ngelus punggung Dodit, membuat Dodit semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa sangat nyaman di posisi seperti ini.

"Kalo boleh, Ren, gue mau di peluk kayak gini setiap saat sama lo. Mau di elus-elus," ucap Dodit.

Karen terkekeh, "Kayak anak anjing dong sukanya di elus-elus,"

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang