Nath menarik tangan Karen menuju parkiran. Di bahunya sudah tergemblok dua tas. Satu miliknya dan satu lagi milik Karen. Di belakang mereka ada Rama dan Keisha juga Kenny. Sampai di parkiran, Karen menepis tangan Nath yang melingkar di pergelangan tangannya. Membuat Nath berbalik menatap adiknya.
"Apa? Mau marahin Karen juga?" bentak Karen kembali dengan air mata yang mengalir.
"Kalo Dodit nggak ngasih helm gue ke ceweknya juga gue gak ke situ! Gue gak suka orang yang gue suka jalan sama cewek lain! Ngertiin gue dong!" bentak Karen lagi.
Nath menggeleng pelan. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantung hoodienya, lalu memberikan barang itu ke Karen.
"Apaan nih?" tanya Nath pelan dengan penuh selidik.
Karen melihat sesuatu yang ada di tangan Nath dan mendapati kalau itu adalah hasil tes lab yang ia simpan di dalam tas sekolahnya.
"Kenapa lo nggak bilang lo sakit?" tanya Nath lagi dengan nada yang mulai meninggi berbarengan dengan rahangnya yang mengeras.
"Lo pikir lo sehebat apa? Sakit kayak gini lo simpen sendiri? Keluarga lo cuma Dodit? Dodit tuh cuma sekedar temen. Gak bisa diandelin, tau?" tanya Nath lagi menarik lengan Karen, bermaksud agar anak itu menjawab pertanyaannya.
Melihat itu, Keisha maju menghampiri mereka, "Nath gak boleh kasar," ucap Keisha menjauhkan Karen dari Nath, lalu memeluk Karen yang kembali menangis.
"Buat apa Papa selalu nanyain kabar lo tapi lo lebih pilih cerita ke Dodit? Sekalian aja lo pergi dari rumah, tinggal sana di rumah Dodit. Udah ngerasa hebat kan?" tanya Nath lagi.
"Emang kalo gue kasih tau, lo bakal perduli? Lo bakal cari cara buat nyembuhin gue?" tanya Karen balik.
"Gue sakit kanker, Nath! Gue bukan lagi anak sekolahan normal kayak lo. Gue takut. Gue takut kalo nanti gue kasih tau lo, lo makin benci sama gue. Gue gak mau dibenci," lanjut Karen.
"Gue mau lo ada buat gue, nemenin gue sampe gue meninggal. Gue gak mau sendirian," isak Karen.
Keadaan parkiran sore itu berubah menjadi tegang. Nath menghela nafasnya panjang, lalu meraih Karen dari pelukan Keisha. Untuk pertama kali dalam seumur hidup, ia memeluk Karen. Walaupun masih ada ego yang besar, bagaimanapun Karen tetap adik kandungnya.
"Gue mau tau rasanya punya kakak. Gue mau tau rasanya dianter ke sekolah sama lo. Gue mau tau rasanya bercanda sama lo tuh gimana," isak Karen lagi di dalam pelukan Nath.
Beberapa detik kemudian, tubuh Karen jatuh pingsan. Wajahnya dibasahi air mata dan dari hidungnya keluar darah. Darah yang keluar dari hidung Karen juga ikut mengenai jaket putih yang Nath pakai. Kepanikan besar melanda semua yamg ada di situ. Nath dengan cepat membawa Karen di dalam gendongannya keluar untuk mendapatkan pertolongan. Setidaknya di lapangan depan masih ada beberapa mobil yang bisa ia pinjam.
💭💭
Dodit mendudukan pantatnya di salah satu bangku kafe tempat biasa ia dan teman-temannya nongkrong. Ia duduk diam. Memorinya kembali berputar saat Jordan dan temannya hampir saja menyentuh Karen. Hatinya tertekan, apalagi mengingat saat Karen jalan sendirian sambil menangis. Dodit tidak seharusnya membiarkan cewek yang ia sayangi diam-diam itu jalan sendirian. Ia harusnya lari mengejar Karen, memeluk anak itu agar ia merasa aman. Tapi yang Dodit lakukan hanya diam dan malah berbalik mengajak Lauren pergi. Tidak perlu diungkapkan secara langsung juga Didit sudah mengetahui kalau Karen tidak menyukai Lauren dalam hal apapun, entah atas dasar apa.
"Lo pesen apa?" tanya Lauren membaca buku menu.
"Teh anget aja," jawab Dodit membuat Lauren menoleh menatap cowok yang ada di depannya ini.
"Gak makan?" tanya Lauren lagi.
Dodit menggeleng, "Udah kenyang," jawabnya.
Lauren mengangguk pelan, lalu menyerahkan pesanannya kepada palayan yang sedaritadi ada di meja mereka. Setelah pelayan itu pergi, Lauren menyentuh tangan Dodit. Membuat Dodit yang sedang melamun tersadar dari lamunannya.
"Lo kenapa? Kok dari tadi diem?" tanya Lauren.
Dodit menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskan lagi secara perlahan.
"Gue banci banget jadi cowok," jawab Dodit. Hidungnya memerah dan suaranya mulai serak. Begitulah ciri khas Dodit saat perasaannya mulai berada di titik paling dasar dan ia butuh rumah.
"Gue bentak cewek yang hampir dilecehin depan orang-orang. Gue biarin dia jalan sendirian. Nangis gara-gara gue. Gue gak pantes banget buat dia," lanjut Dodit menunduk.
"Karen?" tanya Lauren lagi membuat Dodit mengangguk kecil.
"Gue kasih helm dia ke lo. Gue ajak lo pergi depan dia. Gue bahkan gak mikirin dia pulang naik apa," lanjut Dodit.
"Sorry," gumam Lauren, merasa tidak enak karena membuat Dodit meninggalkan Karen.
"Karen gak suka gue deket sama lo," balas Dodit menatap jauh ke dalam manik coklat Lauren.
"Dia nggak punya hak ding buat larang gue dejet sama lo. Dia siapa lo? Baru calon pacar kan? Kenapa lo nurut banget sama dia, sih? Lo nggak inget dulu kita gimana?" tanya Lauren memegang tabgan Dodit yang terletak di meja.
"Itu dulu. Sekarang semuanya udah nggak kayak dulu. Gue udah nemuin cewek yang bakal ada di hati gue buat selamanya. Dan gue nggak mungkin bikin dia sakit hati cuma gara-gara gue deket sama lo. Lo liat kan, tadi? Lo baru pegang helmnya aja dia ngamuk," jawab Dodit.
"Lo juga udah punya orang lain kan? Gue bukan lagi orang yang bisa lo telfon kapan aja buat nemenin lo. Sekarang gue udah sadar, kalo lo cuma nelfon gue waktu lo butuh. Waktu lo seneng lo sama sekali nggak inget gue. Gue tau semuanya, Ren. Gue tau mana yang tulus sama yang dateng kalo ada maunya doang," lanjut Dodit membuat Lauren terdiam.
Dodit mengeluarkan dompetnya, lalu menaruh selembar uang seratus rinuan di meja.
"Gue gak biasa di bayarin cewek," ucapnya lalu bangkit dan memungut tas serta kunci motornya.
"Hati-hati pulangnya. Kalo bisa minta temen lo jemput, jangan naik taksi. Bahaya," ucap Dodit lalu melenggang pergi ke luar kafe.
Meninggalkan Lauren yang tertegun atas ungkapan Dodit barusan. Di saat ia mulai menyukai Dodit, cowok itu malah berpaling. Kemana Lauren waktu Dodit masih setia ngejar-ngejar dia?
--
haihaii
cepet update ni wkwkwk 😆
enjoyyy!
griertoast.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Fiksi Remaja[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)