Dodit memasuki rumah besarnya yang sepi. Tadi saat memakirkan motornya di garasi, ia melihat mobil Mama sudah ada. Dodit melangkah ke lantai dua, lalu mengetuk pintu kamar Mama. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tadi Dodit ijin pulang sebentar untuk mandi dan bersih-bersih. Ia terpaksa meninggalkan Karen bersama suster Grace di rumah sakit. Nath sedaritadi tidak tahu ada di mana. Setelah mendapat kabar tentang Papanya, Nath langsung hilang entah ke mana dan sampai saat ini belum ada kabar. Opa kembali ke rumah untuk menyiapkan ruangan yang akam digunakan untuk meletakkan peti Papa esok hari. Adik-adik Papa juga ikut membantu Opa menyiapkan ruangan-ruangan yang sekiranya akan dipakai. Papa adalah anak ke 2 dari empat bersaudara. Kakak Papa, uncle Dave sekarang sedang dalam perjalanan menuju Indonesia bersama jenazah Papa.
"Dodit ya?" tanya Mama dari dalam sebelum membuka pintu.
"Rentenir," jawab Dodit dengan suara berat seperti rentenir, membuat Mama tertawa.
Kemudian saat pintu terbuka dan mendapat Dodit ada di depan kamarnya, Mama langsung memeluk anaknya itu dengan erat.
"Udah mandi?" tanya Mama.
Dodit menggeleng, "Dodit mau ketemu Mama dulu baru mandi. Ada yang mau aku omongin, Ma," jawab Dodit.
Mama mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan Dodit untuk masuk ke kamarnya. Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di kamar Mama. Mama mengelus rambut Dodit penuh sayang, lalu menarik tubuh Dodit agar bersender di pelukannya. Dodit tidak melawan. Ia bersender di pelukan Mama, lalu memeluk perut Mamanya. Jujur, Dodit rindu berpelukan dengan Mamanya. Beberapa minggu belakangan ini Mama dan Dodit sibuk dengan urusan masing-masing. Mama sibuk di kantor, dan Dodit sibuk dengan jadwal latihan futsal dan basketnya. Terkadang mereka hanya bertemu saat sarapan, atau bahkan tidak bertemu sama seklai.
"What is up, hun?" tanya Mama masih mengelus kepala Dodit.
"Aku sedih hari ini, Ma," ucap Dodit.
Alis Mama mengkerut. Dalam hati, ia menerka-nerka apa yang membuat anaknya sedih. Yang ia tahu, dari semalam Dodit bersama Karen. Apakah Dodit bertengkar dengan Karen? Atau ini soal kondisi Karen?
"Bukan, Mam. Aku nggak berantem sama Karen," lanjut Dodit lagi.
Mama menggeleng pelan, lalu terkekeh. Bukan hal asing baginya kalau tiba-tiba saja Dodit menjawab apa yang ia pertanyakan dalam hati.
"Terus kenapa?" tanya Mama.
"Papanya Karen meninggal, Ma. Karen down banget sekarang," jawab Dodit.
Mama melongo. Ia sama terkejutnya dengan Dodit saat ia diberitahu kabar tragedi itu oleh Opa tadi pagi.
"Kok bisa?" tanya Mama, pertanyaan refleks yang ia lontarkan sangkimg terjekutnya dan bingung harus menanggapi seperti apa.
"Kecelakaan. Katanya om Willi lagi bawa mobil yang nggak ada atapnya, terus pas lewat perempatan, ada truk dari kanan nabrak mobil dia. Om Willi langsung meninggal di tempat," jawab Dodit.
"Terus gimana?" tanya Mama lagi.
"Udah di urusin sama Omnya Karen. Sekarang kayaknya lagi terbang ke sini deh," jawab Dodit.
"Jenazahnya?" tanya Mama diangguki Dodit.
"Di makamin kapan?" tanya Mama lagi.
"Besok. Kalo sempet, Mama dateng ya. Kali aja Mama bisa ngehibur Karen," jawab Dodit lagi membuat Mama mengangguk dengan pasti.
Mereka terdiam selama beberapa detik. Mata Dodit terpejam. Tiba-tiba saja ia teringat Karen. Dari tadi Karen masih terus menerus memutar voice message dari Papa. Hal ini membuat Dodit seketika khawatir akan kondisi Karen ke depannya. Melihat ia terpuruk seperti ini membuat Dodit cemas kalau saja semangatnya untuk sembuh memudar. Bagaimana nanti kalau Karen juga meninggalkan Dodit?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rester [COMPLETED]
Novela Juvenil[completed story] [highest rank : #3 in SadEnding, 8 July 2019] •°•°•°• "Dit, kenapa lo bisa lengket terus sih sama cewek penyakitan kayak Karen? Kenapa nggak cari cewek lain aja yang bisa di ajak have fun? Karen kan lemah. Diajak main basket aja n...
![Rester [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/129357240-64-k745085.jpg)