7 〰 Kekenyangan

12.4K 804 10
                                        

Hari sudah semakin sore. Rencana Karen dan teman-temannya tadi berujung dengan wacana karena tiba-tiba saja mama Aska menyuruh anaknya itu pulang cepat. Dan sekarang, Karen sedang duduk manis di boncengan motor Dosit karena mereka akan pergi ke rumah Dodit untuk merencanakan ulang tahun Nath. Nath akan berulangtahun ke 17 minggu depan. Di saat teman-teman kelas 11 lainnya masih berumur 16 tahun, Nath sudah harus menginjak umur yang ke 17. Hal ini karena kelahiran Nath di bulan desember membuat kedua orangtuanya memasukkan Nath sekolah mengikuti anak kelahiran tahun 2001. Legal duluan, begitu kata Kenny.

"Nanti mau ikut makan malem, ngga? Hari ini mama Dodit gak kerja lho, tau temen-temen mau main ke rumah. Jaidnya dia masak," tanya Dodit di sela-sela kesibukannya mengendarai motor besar yang baru dibelikan mama beberapa bulan lalu.

"Um.. Karen belom bilang papa kalo mau pulang malem. Tadi gue ijinnya cuma mau ke rumah lo doang, gak bilang sampe malem.." jawab Karen.

"Kan bisa telfon. Nanti biar mama gue aja yang ngomong. Udah kenal kok," balas Dodit membuat Karen mengangguk senang.

Sudah lama ia tidak merasakan makanan seorang ibu. Biasanya yang memasak di rumah adalah mba Kinan, asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak Nath masih kecil. Dari dulu setelah mama meninggal, yang menemani Karen ke mana-mana jika papa pergi adalah mba Kinan. Tetapi untuk urusan memasak bukan ahli mba Kinan. Memang mba Kinan bisa memasak, tapi hanya untuk makanan mudah yang bisa Karen masak sendiri.

"Nanti mama lo masak apa?" tanya Karen mendekatkan wajahnya ke kuping kiri Dodit yang tertutup helm.

Untung saja mereka sudah sampai di komplek perumahan Dodit, jadi tidak terlalu berisik. Rumah Dodit ada di blok T, sedangkan mereka baru memasuki gerbang perumahan itu.

"Katanya sih mau bikin rendang, ayam kecap, semur tahu pake telor, cookies, es buah.. Sama dessert kayaknya," jawab Dodit.

Karen meletakkan dagunya di bahu Dodit, membuat Dodit tersenyum kecil. Ia tahu Karen kangen mama.

"Dulu mama suka masak, ya?" tanya Dodit hati-hati.

"Iya. Kata mba, dulu mama sering ajarin dia masak. Tapi gatau kenapa kalo gue minta dia masakin kayak rendang atau ayam opor, pasti ngga enak. Ada yang beda aja gitu," jawab Karen membayangnkan betapa anehnya opor buatan mba Kinan.

"Sedih dulu gue gabisa nyobain masakan mama.." lanjut Karen.

Dodit menaikkan satu alisnya, "Terus kenapa lo bisa bilang masakan mbanya ada yang kurang?"

"Gatau. Pokoknya aneh aja deh, gue gasuka," jawab Karen.

"Yaudah nanti makan yang banyak aja di rumah gue. Bawa pulang juga ngga papa," balas Dodit membuat Karen tersenyum lebar.

"Sisain ya buat Karen bawa," ucap Karen diangguki Dodit.

"Nanti ada Nath?" tanya Karen.

"Kan dia tutor hari ini," jawab Dodit.

"Tutor apa?" tanya Karen lagi.

"Kimia. Kemaren ulangan kimianya dapet seperempat, makanya di suruh bu Gina tutor," jawab Dodit sontak membuat tawa Karen pecah.

"Seperempat?" tanya Karen lagi diangguki Dodit.

"Itu masih mending. Kelasnya Kenny nilai tertinggi tiga setengah," jawab Dodit kembali membuat Karen tertawa.

"Kelas kita belom, ya?" tanya Karen.

"Udah. Ulangannya waktu lo belom masuk. Nilai tertinggi tau ngga berapa?" tanya Dodit.

"Berapa?" tanya Karen balik.

"Dua." jawab Dodit kembali membuat tawa Karen pecah.

"Sesusah itu?" tanya Karen.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang