42 〰️ Rumah Sakit (2)

5K 407 12
                                        

"Jadi?"

"Maaf Om.." ucap Dodit pelan.

"Tadi habis dari supermarket, kita ke lapangan sebentar buat main basket, Om. Terus abis main, aku beli minum. Eh tau-tau, pas balik aku liat Karen udah dribble bola ke ring. Sumpah, Om, aku bener-bener ngak tau kalo yang lain bakal ijinin. Mereka nggak tau pasti soal kondisi Karen, makanya mereka ijinin. Harusnya aku lebih waspada. Harusnya-" ucapan Dodit dipotong.

"Terus?"

Dodit menghela nafasnya, kemudian kembali menunduk. "Terus pas mau pulang, hujan. Nggak ada yang bawa jaket. Akhirnya kita mutusin buat nunggu dulu di pinggir lapangan. Buat jaga-jaga, aku nutupin kepala Karen pakai plastik bekas beli minum-" ucapan Dodit terhenti. Ia mengingat saat ia menutupi kepala Karen dengan plastik kresek bekas beli minuman. Kalau dipikirkan dengan kepala dingin, sejak awal mengapa ia membawa Karen keluar tanpa persiapan apa-apa? Pria macam apa yang membiarkan gadis yang disayanginya terlindung dari hujan hanya dengan sebuah plastik bekas minuman?

"Di sana Karen mulai lemes. Dia senderan sama aku. Aku takut dia kenapa-napa, makanya waktu hujannya udah mulai reda, aku langsung bawa dia pulang. Aku bawa motornya ngebut supaya cepet sampai rumah.." lanjut Dodit.

Gantian Papa yang menghela mafas. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Melihat ekspresi kecewa Papa mebuat Dodit semakin menunduk.

"Berarti kamu udah ngerti salahnya di mana?" tanya Papa.

Dodit mengangguk pelan, "Udah, Om,"

Lagi, Papa menghela nafasnya, "Jujur ya, Om sekarang ngerasa bersalah banget smaa Mamanya Karen karena udah nitipin anak perempuannya ke kamu. Anak kayak kamu yang harusnya have fun, main basket, hujan-hujanan, kebut-kebutan.. Bukannya malah jagain anak penyakitan kayak Karen yang bisanya cuma diem di rumah,"

Deg.

Rasanya seperti ada pisau tajam yang menusuk hati Dodit. Sesak. Matanya memanas. Rasa bersalah yang sedaritadi ada semakin meluas menyekap hati Dodit. Nath yang mulai mengerti keadaan maju. Ia menentang Papa, "Bukan salah Dodit," katanya lugas.

Papa beralih menatap Nath dengan tajam. Ekspresinya sulit dibaca, "Kalian udah tau kondisi Karen. Harusnya kalian paham kalau Karen udah nggak bisa di ajak terlalu have fun. Semua ada batesannya,"

Nath hendak membalas, tapi Dodit lebih dulu menghentikan Nath. "Udahlah, Nath. Gue emang salah," jawab Dodit.

Nath balas menatap Papa, membuat Papa menghela nafasnya lagi.

"Om.." lirih Dodit. "Aku tau di sini aku salah banget. Aku nggak bisa jagain Karen. Tapi aku sayang banget sama Karen, Om. Aku minta maaf, tapi tolong kasih aku kesempatan lagi," ucap Dodit menatap Papa.

"Kalo karen sampe lewat, nggak ada kesempatan lain, Dit." balas Papa cepat dan dingin.

Mendengar jtu, napas Dodit tercekat. Nath menyela, "Pa, jangan gitu."

Papa menatap kedua anak itu, lalu untuk kesekian kalinya, ia menghela nafasnya panjang.

"Inget, ya. Sayang sama orang bukan berarti kita harus nurutin apa maunya mereka. Tapi juga harus pikirin apa yang baik buat mereka. Sama kayak berdoa. Tuhan nggak selalu ngasih apa yang kalian mau, karena Tuhan punya rencana terbaik buat kalian,"

🍃🍃

Jam menunjukkan tepat pukul 8 malam saat Papa keluar dari kamar rawat Karen. Saat hendak berjalan, ia menemukan Nath membawa beberapa botol air mineral dan makanan ringan. Papa tersenyum hangat, kemudian mengajak Nath untuk duduk di ruang duduk yang khusus disediakan untuk keluarga pasien. Nath duduk berdua di sana bersama Papa. Suasana rumah sakit sudah sangat lengang. Beberapa lampu kamar rawat sudah dimatikan. Hanya ada beberapa suster yang mondar-mandir untuk memeriksa infus pasien. Di hadapan mereka ada meja rendah dengan vas bunga kecil, juga terbentang tembok putih.

Rester [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang