02-Malam Pertama

11.8K 487 58
                                        

Jika tidak ada salah satu yang ingin mengalah, maka mereka berdua tidak akan tidur malam ini. Akhirnya yang waras lah yang mengalah.

Garin mengacak rambutnya frustasi, ia bangkit dari ranjang dan melangkah menuju lemari. Lalu mengeluarkan selimut tebal dari dalam sana. Setelahnya, ia kembali berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu. Baru saja Garin ingin menutup matanya, namun ia langsung menepis niat itu. Keadaan kamarnya masih dalam kondisi terang dan ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika bukan dalam keadaan gelap gulita.

Garin bergerak ke sisi kanan bermaksud untuk memadamkan lampu yang ada pada sebelah kanan atas Reya. Ia tidak sadar bahwa pergerakannya itu mengundang perhatian gadis di sebelahnya. Ia mencoba untuk meraih saklar lampu yang cukup sulit dijangkaunya, akhirnya dengan sedikit bergeser sedikit lagi ia bisa menyentuh saklar itu dan ingin memadamkannya, namun ternyata listrik sudah lebih dulu padam.

"Ah, sudah mati duluan," gumamnya tanpa sadar. Namun, Garin tidak peduli. Malah lebih bagus jika memang listrik padam. Tidak masalah baginya.

Garin juga bersyukur, Gadis di sebelahnya tidak banyak mengeluarkan suara lagi seperti tadi. Sebenarnya ada rasa was-was juga dalam diri Garin mengingat betapa intimnya ketika ia sadar wajahnya yang hampir bersentuhan dengan wajah Reya. Namun, sudah lah! Itu sudah berlalu.

Garin mulai memejamkan matanya dengan tenang. Kali ini misi untuk tidurnya pasti berhasil.

"Kok gelap?"

Garin mendadak lemas. Ia kembali membuka matanya dengan amat terpaksa setelah mendengar suara Reya yang terdengar panik dan bergerak gelisah di sebelahnya. Reya bahkan meraba-raba wajahnya dan sempat berhenti sebentar di atas permukaan bibirnya. Meskipun hanya sebentar, namun efeknya sangat luar biasa untuk Garin.

"Garin, lo dengar gue kan?"

Garin makin frustasi, namun ia hanya diam membiarkan gadis itu. Kesabarannya mulai hilang, apalagi gadis itu sedang meraba-rabanya sekarang. Godaan macam apa ini?

"Garin gue takut gelap."

Garin masih belum berkutik. Bahkan, ketika Reya menggucang-guncang tangannya. Harus bagaiman lagi Garin menghadapi gadis seperti Reya yang sangat bertolak dengannya? Sepertinya, Garin benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Siapa bilang malam pertama itu menyenangkan? Garin ingin mencari orang-orang yang mengatakan malam pertama itu indah.

Indah dari Holland!

"Garin, lo itu denger gak, sih?"

Garin bisa mendengar suara serak gadis di sebelahnya yang sejak tadi berisik dan bergerak gelisah. Rasanya Garin ingin mendekam saja di kuburan daripada harus seperti ini. Garin mengubah posisi menjadi duduk, mencoba meraba-raba nakas di sampingnya. Barangkali ia menemukan sesuatu yang bisa dijadikan pencerahan.

"Gar—"

Garin yang hendak bergeser ke sisi kanan lantas tubuhnya terjatuh ke depan, ia bisa merasakan menidih sesuatu. Bibirnya menyentuh sesuatu yang kenyal di bawahnya. Apalagi sekarang sedang gelap gulita, Garin juga tidak bisa melihat apapun, selain merasakan. Lama Garin berpikir, mencari tahu apa yang sedang menempel pada bibirnya.

Detik berikutnya, mata Garin membulat dan ia tahu sekarang. Bibirnya telah menempel dengan bibir. Awalnya Garin ingin cepat-cepat bangkit dari posisi itu, namun naluri lelaki berkata lain, apalagi tidak ada pergerakan dari gadis di bawahnya.

Garin yang sudah cukup frustasi dengan bibir gadis di bawahnya itu. Akhirnya menyerah. Menodai bibir istri sendiri tidak apa-apa kan? Kan sudah halal. Meski Garin tahu, setelah ini ia akan mendapat amukan besar dari gadis di bawahnya. Namun, dirinya tidak peduli. Siapa tahu saja malam keramat ini bisa menjadi suatu malam pertama yang indah.

Perfect Two✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang