Tok...Tok...Tok...!
Reya tersenyum, dirinya selamat.
Garin bangkit dengan keadaan dongkol setengah mati lalu tanpa sadar menarik tirai korden yang menutupi jendela. Laki-laki itu berusaha meneguk salivanya susah payah. Di luar sana, tepat dihadapannya yang hanya dibatasi oleh kaca jendela berdiri pak Darma selaku Pembina OSIS. Jika saja kaca ini bisa pecah karena tatapan tajam yang begitu menghunus itu, pasti kaca jendela tersebut akan pecah berkeping-keping.
Garin menggaruk kepalanya yang tidak gatal begitu mendapat intruksi dari gurunya itu untuk membuka pintu dengan segera.
"Mampus!" gumam Garin.
Sudut bibir Reya berkedut menahan senyuman. Lebih baik orang berpikir negatif tentang dirinya yang berduaan dengan Garin di ruangan ini daripada harus menuruti keinginan mesum suami laknat bin mesum itu.
"Sedang apa kalian berdua di sini? Berbuat mesum, iya?" pertanyaan tajam dari pak Darma hanya mampu membuat Reya menunduk dengan jantung berdetak kencang. Selama bersekolah, ia selalu di cap baik di mata guru-guru.
"Berbuat mesum dosa pak kalau belum halal. Kami mana mungkin berani berbuat mesum kalau belum halal. Iya kan, Rey?" Garin menatap Reya yang menunduk tanpa mau membantunya untuk menjelaskan.
"Lalu apa yang kalian lakukan berduaan di dalam ruangan yang terkunci? Belajar? Saya tidak percaya."
"Kami cuma ngadem, pak. Duduk-duduk sambil ngobrol." Garin lagi-lagi menjelaskan dengan alasan yang tentu saja tidak akan dipercayai oleh gurunya itu.
"Saya tidak percaya."
"Percaya aja, pak. Nuduh orang sembarangan itu termasuk dosa, bapak. Apalagi gak ada bukti."
Menghela nafas, pak Darma menatap Reya yang sejak tadi menunduk. "Reya, saya tanya sama kamu. Apa yang kalian lakukan berdua di ruangan OSIS?"
Gadis itu mengangkat wajahnya dengan gugup. Menggigit bibir bawahnya sembari menatap pak Darma yang menuntut penjelasan. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa Garin telah melakukan pelecehan terhadapnya dengan begitu pasti laki-laki itu akan dihukum dan akan diskors dalam waktu yang cukup lama.
Namun, jika Reya mengatakan hal seperti itu apakah ia akan berdosa? Inilah tidak enaknya jadi istri. Membangkang dan melantur sedikit saja pasti akan dosa yang dipanen.
"Reya?"
Reya sontak menggeleng. "Kami gak ngapa-ngapain, pak. Murni cuma ngadem sebentar, hehe."
Pria paruh baya itu berdecak. "Ya sudah. Kalian berdua ke lapangan sana!"
"Kok ke lapangan? Ngapain, pak?" tanya Garin dengan nada protes.
"Lari sampai kalian melihat saya ada di pinggir lapangan. Kalau kalian tidak melihat saya ada di pinggir lapangan, berarti kalian tidak boleh berhenti."
"Tapi, pak."
"Gak ada kata tapi!"
Garin mendesah frustasi. Ia tahu betul gurunya satu itu. Guru yang jarang sekali melewati lapangan jika ingin kembali ke ruangannya usai mengajar. Pak Darma lebih memilih lewat koridor mading dan loker siswa-siswi yang tidak ada sangkut pautnya dengan lapangan.
"Rey, nanti lo pura-pura pingsan aja kalau cape," ucap Garin kepada gadis di sampingnya.
Reya mendengus. "Lo aja yang pura-pura pingsan! Ini semua gara-gara lo tau nggak!"
[...]
Garin keluar dari kamar mandi selesai membersihkan diri. Pandangannya langsung terpusat ke arah gadis yang sedang tidur pulas di atas tengah ranjang. Laki-laki itu tahu, Reya pasti sangat lelah dengan aktivitas di lapangan tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
