Jangan lupa di-vote sebelum membaca!
Happy Reading!
°•°•°•°
"Departemen Kesehatan R titik I titik R titik S titik U titik P titik dr titik Tania Plametara. Jalan Parteur Low-"
"Bisa diam gak sih, No!" Garin berucap dingin, menatap tajam Nino yang pagi-pagi sudah membuatnya kesal dengan cerocosannya yang tak berfaedah.
Nino berdecak. Ia menurunkan kertas segi empat yang baru saja ia perhatikan dan baca dengan teliti.
"Gue tuh cuma mau bantu lo, Gar. Lo itu udah kayak orang yang kena flu burung. Pagi-pagi udah mendung aja tuh muka!" sergah Nino.
Ia kembali mengangkat kertas di tangannya, berniat untuk lanjut membaca. Siapa tahu saja itu bisa membantu Garin. Sebenarnya, niat Nino baik. Ingin memberikan solusi kepada Garin agar tidak galau lagi seperti sekarang. Apalagi saat Nino datang, ia sudah melihat temannya itu duduk manis menopang dagu sambil menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Tidak tahunya, saat Nino berdiri di belakangnya, Garin malah asyik memandang foto seorang gadis yang bahkan sampai sekarang tidak kelihatan bulu hidungnya.
Nino kembali menurunkan kertas di tangannya, lalu menatap Garin. Temannya itu seperti tidak punya semangat hidup. Rambutnya acak-acakan, ada lingkaran hitam di bagian bawah matanya, bajunya kusut lupa disetrika, ditambah lagi wajahnya mendung dan sebentar lagi mungkin akan hujan.
"Dasar bucin! Mending gue kemana-mana yang jadi bucing!" gumam Nino yang kembali mengingat Mona.
Nino geleng-geleng. Perasaan yang tertimpa musibah di sini adalah dirinya dengan hamilnya Mona yang sampai sekarang belum ada yang mau bertanggungjawab. Bahkan, sampai sekarang ia belum membawa Mona ke dokter kandungan. Semoga kandungan Mona baik-baik saja. Doa Nino dalam hati.
"Mar...!" panggil Nino, tapi orang yang dipanggil tidak menunjukkan reaksi apa pun. Hanya fokus memandang smartphone-nya. "Ck. Margarin...!"
"Gue bacain, ya. Pasang telinga baik-baik. Cek telinga lo, siapa tau aja telinga lo lagi miring sana-sini. Kan gue gak tau," kata Nino. Ia tersenyum miring begitu Garin menatapnya berang.
"Diam!"
"Yaelah, Gar." Nino maju selangkah, ujung kakinya bersentuhan dengan kaki meja.
Mengabaikan Garin, Nino kembali bersuara, "Gue harap muka lo gak tambah mendung setelah dengar ini."
"Surat Keterangan. Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa nama Greya Ametayara, Umur 17 tahun, Pekerjaan pelajar, Alamat Jalan Panur-"
"Apaan sih, No?" seru Fahri yang tiba-tiba muncul, melempar asal tasnya, lalu duduk.
Nino berdecak menatap Fahri jengah. Sementara Garin menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya.
Mengabaikan Fahri yang menatapnya penasaran, Nino lanjut membaca ke yang paling inti.
"Oleh karena S A K I T, perlu diberikan istirahat selama tiga hari terhitung mulai tanggal bla...bla sampai bla...bla.."
Nino menurunkan kertas tersebut, melipatnya, lalu menatap Garin yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Ya Allah, jika memang Garin teman hamba sadarkanlah dirinya, tapi jika memang Garin bukan teman hamba sadarkan lah juga ya Allah." Doa Nino sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.
"Stress!" desis Fahri, mengatai Nino.
"Teman lo tuh yang stress. Tau ah! Pusing gue!" Nino meletakkan lipatan kertas di depan Garin yang masih menyembunyikan kepalanya di kedua lipatan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
