Reya keluar dari ruang ujian dengan langkah cepat. Ia ingin cepat-cepat menemui Garin. Meminta penjelasan, jika laki-laki itu masih tidak mau menjelaskan, maka Reya harus melakukan tindakan. Ia tidak mau hidup seperti ini, dalam keadaan yang tidak jelas. Hatinya sakit. Setiap Garin pergi meninggalkannya, tanpa kabar, tanpa tahu di mana, Reya selalu saja merasakan hatinya sakit. Sudah berulangkali Garin seakan mempermainkan hatinya, datang seenaknya, berbuat manis seenaknya, dan dengan seenaknya pula ia menyakiti.
Reya tidak minta apa-apa. Hanya penjelasan. Setidaknya sedikit agar ia bisa mengerti. Reya juga hanya ingin dimengerti, setidaknya sebagai seorang istri. Harusnya Garin mengerti statusnya, mengerti tanggungjawabnya, namun entah mengapa Garin seperti mengabaikan semua itu.
Reya kecewa. Gadis itu merasa, ia hanya orang yang bisa diperlakukan seenaknya oleh lelaki itu. Dibuat senang, diberi hal romantis, dibuat sedih, lalu ditinggal pergi.
Reya sudah seringkali memberikan kepercayaannya pada Garin kala lelaki itu selalu menyakitinya, namun sampai sekarangpun Reya tidak tahu, untuk siapa sesungguhnya hati lelaki itu.
Reya sudah sampai di depan ruangan tempat Garin menghadapi UNBK. Ruangannya dengan ruangan ujian Garin terpisah, maka dari itu Reya tidak bertemu dengan Garin sejak tadi pagi.
Tepat Reya berada di sana, di saat itu juga Garin keluar.
Jantung Reya berdegup kencang. Tatapan Garin tidak seperti biasanya. Tidak ada tatapan hangat di sana.
"Garin, aku mau ngomong sama kamu," ucap Reya berusaha bersikap santai, namun nyatanya tidak bisa. Suaranya bergetar ketika mengucapkan itu.
Garin mengalihkan tatapannya dari Reya. "Aku gak bisa sekarang, Rey. Aku ada urusan."
Reya diam menatap Garin dengan tatapan luka. Urusan apa yang membuat Garin mengesampingkan istrinya sendiri?
"Aku gak tau urusan penting apa yang kamu lakuin sampai kamu ngabaikan aku. Kamu sebenarnya, kenapa sih, Gar? Pernah gak sih kamu mikirin perasaan aku?" ucap Reya dengan mata yang sudah berair.
"Kamu gak pernah mau jelasin apapun! Kamu buat aku dengan pemikiran aku sendiri. Aku jadi mikir macam-macam, banyak pikiran negatif di dalam kepala aku tentang kamu. Karena apa? Karena kamu gak jelasin apa-apa. Aku coba ngertiin kamu, tapi gak bisa karena aku gak tau apa yang harus dimengerti. Aku coba percaya sama kamu, tapi susah karena kamu sendiri yang buat aku susah buat percaya." Reya mengusap airmatanya. Ia tidak peduli jika suaranya mengundang perhatian orang-orang yang baru saja keluar dari ruang ujian.
"Jawab aku, Gar. Jangan diam!" sentak Reya.
"Aku cuma minta sedikit penjelasan yang bisa buat aku ngerti."
"Kamu gak bakal bisa ngerti, Rey." sergah Garin yang langsung membuat Reya bungkam.
Reya menatap Garin tidak percaya. Mendengar Garin mengatakan itu, ternyata lebih sakit dibandingkan Garin hanya diam.
"Kamu gak akan bisa ngerti karena kamu ada di kehidupan aku cuma baru-baru ini."
Ya, Tuhan... Mengapa kata-kata yang keluar dari mulut Garin begitu menusuk? Jika Garin beranggapan seperti itu, lalu siapa orang yang ada di kehidupan Garin sejak lama? Apa dia.... orangnya?
"Kalau begitu, siapa Keana?" tanyanya ragu. Reya harap, ia tidak mendengar jawaban menyakitkan dari mulut Garin.
Garin menatap Reya lama sebelum akhirnya menjawab. "Dia orang yang ada di kehidupan aku sejak lama. Sekarang dia sudah kembali."
Reya tidak bisa lagi menahannya. Tangannya mengepal menahan gemetar di tubuhnya. Air matanya luruh begitu saja.
"Aku gak bisa jelasin karena kamu gak akan ngerti dan pada akhirnya akan tetap sama."
Sama-sama tersakiti.
Mungkin ini lah penjelasan Garin. Mau dijelaskan atau tidak. Reya tetap lah yang tersakiti.
Ini berarti...
Reya menatap Garin.
Lelaki itu telah melepasnya.
Reya mengalihkan tatapannya, mengusap airmatanya, lalu beranjak dari sana, meninggalkan Garin yang juga sama halnya dengannya. Mereka melangkah berlawanan arah, saling membelakangi, dan tanpa keduanya sama-sama tahu. Ini adalah awal dari kehancuran hubungan yang sudah terikat.
[...]
-tbc-
...
Lepaskan jika menyakiti
Pertahankan jika pasti
Ada hidup dan mati
Ada sekarang dan nanti
Pilihan ada di hati
Jauhi atau dekati?
Mau lanjut atau berhenti?
-piscesay-
Dari aku yang lagi malas!
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
