"Masih betah meluk gue?" seru Garin sambil mengelus tangan Reya yang melingkari pinggangnya.
"Udah sampe! Lo gak mau turun?" Garin tertawa kecil.
Reya membuka matanya. Sontak ia mundur dari posisinya yang sangat menempel di punggung Garin, juga melepas kedua tangannya yang melingkari pinggang laki-laki itu.
Kali ini, harga dirinya berhasil terjatuhkan.
"Kalo mau peluk gue, peluk aja. Mumpung gratis." Garin mengerlingkan mata nakal.
Reya memukul punggung Garin lalu turun dari motor itu. "Gak usah kepedean!" kesalnya.
Garin tertawa. Terlihat bahagia sekali. Ia jadi membayangkan kejadian beberapa menit lalu, waktu di mana ia mengendarai motor secara ugal-ugalan dan Reya yang ketakutan tanpa sadar langsung memeluk erat pinggangnya.
"Nanti pulang bareng gue," ucap Garin. Ia turun dari motornya dan langsung berhadapan dengan Reya.
Reya mendengus kasar. Niatnya, naik motor bersama Garin hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidupnya dan itu adalah tadi.
"Pulang aja sendiri." Reya berucap ketus.
"Kenapa harus sendiri kalo ada lo?"
Reya memutar bola mata jengah, berbicara dengan Garin hanya akan menguras tenaganya. Ia memilih pergi menjauhi Garin, enggan berdekatan dengan laki-laki itu, apalagi sekarang sedang berada di sekolah.
"Sayang, tunggu!"
Reya menghela nafas kasar. Semua pasang mata, kini mencari orang yang baru saja dipanggil Garin dengan sebutan sayang.
Semuanya terjawab, ketika Garin melangkah cepat dan menggapai pergelangan tangan Reya, membalik paksa tubuhnya.
Reya menatap Garin tajam. "Apa lagi?"
Garin tertawa kecil, lalu melepas helm yang masih bertengger manis di kepala istrinya.
"Sayangku Reya, di kelas gak ada razia polisi jadi gak usah pake helm." Garin mengelus puncak kepala Reya sambil tersenyum manis.
Sial. Reya malu sekarang. Mengapa ia bisa lupa dengan helm di kepalanya?
"Garin!"
Garin menjauhkan tangannya dari kepala Reya dan tersenyum ke arah gadis yang baru saja memanggilnya.
"Hai Tessa!"
Gadis dengan paras cantik yang di panggil Tessa mendekati Garin, namun matanya tak lepas menilai Reya dari atas sampai bawah kentara sekali menunjukkan tatapan ketidaksukaannya.
"Kenapa kamu bisa sama nih cewek?" tanya Tessa terang-terangan. Matanya tidak berpaling dari Reya.
Reya memutar bola malas. Ia dipertemukan dengan dua nama merek produk sekaligus. Satu Margarin dengan merek mentega, dan satu lagi Tessa dengan merek Tissu. Apa tidak ada nama lain?
"Kenapa kamu bisa sama dia?" tanya Tessa untuk yang kedua kalinya, matanya telah berpindah menatap Garin.
Nada bicaranya lembut sekali ketika berbicara kepada Garin, namun matanya bagai belati ketika menatap Reya.
Dasar ganjen! rutuk Reya dalam hati.
Garin mengedikkan bahu acuh. "Tadi gue mungut dia di jalan kan kasian," katanya sambil menatap datar Reya.
"Tapi gak harus naik motor kamu 'kan?" seru Tessa. Ia kembali menatap Reya dengan tatapan sinis.
Reya berdecih. Motor juga motor Garin yang punya. Mengapa gadis itu sewot sekali? Iri bilang dong, jangan dipendam!
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
