Gadis itu tersenyum kepada laki-laki yang baru saja mengantarkannya pulang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Farhan, gadis itu langsung masuk ke dalam rumahnya, rumah sesungguhnya.
Ada harapan bahwa Garin yang berada di posisi Farhan, namun nyatanya...
"Greya...?" Reya yang baru saja ingin menapaki tangga lantas berbalik. Dilihatnya pria paruh baya yang sedang duduk di sofa menatap lembut dirinya.
"Sini duduk dulu! Kok masuk gak ada suara? Malah langsung nyelonong lagi ke kamar tanpa nyapa Ayah. Segitu gak kangennya, ya, sama Ayah?" runtun Ayah Reya. Ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya, masih dengan tatapan lembutnya.
Reya tersenyum, gadis itu menghampiri Ayahnya dan duduk di sebelah pria paruh baya di sana. Reya memeluk Ayahnya dari samping.
"Maaf, Ayah. Habisnya, Ayah gak keliatan, sih." Reya mengelak sambil mengusel-ngusel manja di lengan Ayahnya.
Pria yang sedikit beruban itu terkekeh pelan seraya sesekali mencium pucuk kepala anak satu-satunya. Sementara Reya semakin memperkuat pelukannya. Pelukan lelaki pertama yang membuatnya nyaman. Seandainya, ia belum menikah, pasti Reya bisa lebih banyak lagi menghabiskan waktu dengan kedua orangtuanya. Entah apa pikiran kedua orangtuanya saat itu hingga mengambil keputusan menikahkannya dengan Garin. Di saat remaja lain masih ingin bebas dan mengejar impian, namun Reya malah dinikahkan dengan orang yang sejak masuk SMA sangat amat ingin ia hindari.
"Mau nginap di sini?"
Reya mengangguk di sela ia memejamkan mata. Rasanya begitu nyaman merasakan tangan Ayahnya membelai rambutnya lembut.
"Garin mana? Nanti nyusul?" tanya Ayahnya lagi sambil mengamati wajah putrinya.
Reya hanya menggeleng lemah. Kemungkinan Garin masih berada di acara reuni tadi. Reya juga tidak peduli Garin menyusul atau tidak. Lebih baik laki-laki itu tidak menyusul. Jujur saja, Reya sangat lelah sekarang.
Danni-Ayah Reya menghela napas, masih mengamati wajah putrinya yang matanya terpejam.
"Kamu baik-baik aja kan, sayang?" tanya Danni yang melihat kelakuan Putrinya yang tidak seperti biasanya.
Lagi. Reya mengangguk. "Reya baik-baik aja, Ayah."
"Kok lesu gitu? Gak semangat banget, kayak bukan putri Ayah aja," ucap Danni. Tangannya turun menepuk-nepuk pelan lengan Reya.
"Reya cuma capek aja, Ayah. Tadi habis datang ke acara reunian SMP. Acaranya ramai banget, Reya sampai pusing ngeliatnya," jelas Reya, lalu menegakkan tubuhnya memberikan senyum semangatnya kepada Danni.
"Ya udah, sana masuk kamar! Istirahat yang benar kalau Garin datang biar nanti Ayah suruh langsung masuk kamarmu aja," tutur Ayahnya membuat Reya langsung menghembuskan napas lesu.
"Jangan disuruh masuk. Suruh tunggu di sini aja," ucap Reya. Mulutnya mengerucut tidak suka.
"Loh, kok, gitu? Kalian berdua 'kan nginap? Garin tidur di kamar kamu, dong. Masak suruh di sini," tutur Danni tidak paham.
"Cuma Reya yang nginap, Garin nggak. Lagian ranjang Reya mana cukup dua orang. Pokoknya kalau Garin datang, Ayah harus suruh tunggu di sini aja gak boleh naik ke atas," jelas Reya mewanti-wanti. Ia menatap Ayahnya serius.
Danni menatap putrinya sambil geleng-geleng. "Iya, tapi kalau Bunda kamu sudah berkata. Ayah bisa apa? Ayah hanya akan bisa diam kaku kayak sapu ijuk jika Bunda kamu yang sudah angkat suara. Ayah mana berani bertingkah," ucap Danni dramatis. Reya tertawa kecil mendengarnya. Ternyata Ayahnya lucu juga jika sudah berurusan dengan Bunda.
"Pokoknya kalau Garin sampai masuk ke kamar Reya. Reya gak mau teman Ayah. Kita kemusuhan."
"Kamu ada masalah sama suami kamu?" tanya Danni menatap curiga putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
