Untuk pertama kalinya, Reya dan Garin melalui malam minggu berdua. Ikut menebarkan diri diantara banyaknya pasangan di luaran sana. Mungkin di luaran sana, banyak pasangan dalam artian--maaf--masih menyandang status pacaran yang bisa menimbulkan dosa kapan pun dan dimana pun. Namun, untuk Reya dan Garin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak perlu takut dosa dan tidak perlu takut tertangkap satpol PP jika ia ingin berbuat macam-macam, langsung tunjukkan buku nikah dan masalah langsung kelar.
Tanpa sepengetahuan Reya, sebenarnya Garin selalu membawa buku nikahnya jika bepergian. Siapa yang tahu, Garin bisa saja lepas kendali dan berbuat macam-macam di muka umum bersama Reya. Meskipun otak Reya masih waras untuk tidak melakukannya, namun jangan lupakan otak Garin yang bisa bergeser kapan pun dia mau.
Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Garin kembali melajukan motor sport-nya di tengah padatnya orang-orang berkendara. Tangan kirinya mengelus lembut tangan Reya yang melingkari pinggangnya. Garin tersenyum lebar di balik helmnya, masih belum menyangka ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan sang istri di atas motor. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya gadis itu mau diajak malam mingguan.
Garin mana mau kalah dengan pasangan lain. Mungkin jika dulu, Garin pasti akan lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya yang sesama jomblo, seperti Nino contohnya. Namun sekarang 'kan ada istri tidak mungkin dianggurin.
"Kita ke mana, sih? Kok dari tadi muter-muter aja? Gak ada romantis-romantisnya." Reya mengomel sembari mengangkat kaca helmnya. Mulai bosan dengan gemerlapnya kota yang sejak tadi mereka kelilingi. Reya termasuk anak rumahan, tipe orang yang lebih menyukai berada di dalam rumah daripada harus bepergian.
Garin kembali tersenyum, tidak menghiraukan ucapan istrinya. Setelah menempuh jarak kurang lebih lima ratus meter, ia menghentikan motornya.
"Ini di mana? Kok ke sini? Banyak orang pacaran, tau! Jangan ke sini! Penuh, gak dapat tempat duduk juga." Gadis itu langsung menghujani Garin dengan cerocosannya.
Garin tertawa kecil. Istrinya, kok, gemesin, sih. Jadi pengen bawa pulang aja, mengurung diri berdua di kamar. Eh!
"Garin!" Reya menepuk keras bahu laki-laki itu.
"Turun dulu, cantik, kok, tempatnya," ucap Garin. Kedua tangannya langsung bergerak melepas helm gadis itu dan merapikan rambut Reya yang sedikit berantakan.
"Iya, tapi penuh." Reya mengambil sebelah tangan Garin yang memperbaiki rambutnya, menurunkannya, lalu menggenggamnya.
"Ada bangku kosong, kok. Tuh! Di pojokan!" Tunjuk Garin dengan dagunya disertai mulutnya yang maju beberapa senti.
Reya mengedarkan pandangannya ke arah Garin menunjuk. Sontak gadis itu bergidik, tubuhnya sedikit meremang. Tempat itu memang cantik, sangat cantik malah. Danau yang dikelilingi jalan setapak dan pohon-pohon kekar berdaun lebat, masing-masing pohon besar itu terdapat bangku. Belum lagi lampu warna-warni yang ada di setiap pohon. Tampak juga beberapa meter dari danau banyak pasangan yang berselfie ria dengan background air mancur yang mengalir deras. Hanya saja, tempat yang akan mereka duduki terlihat angker.
Reya menggeleng. "Aku gak mau," tolaknya tanpa pikir panjang.
"Kenapa?"
"Takut. Angker kelihatannya, malah banyak tali tempat tarzan begelantungan lagi," ucap Reya sambil menatap tempat di sana ngeri.
"Tenang aja. Ada aku. Lagian penjaga pohon itu gak akan ganggu pasangan serasi nan halal kayak kita." Garin memasang tampang jenaka, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Reya dan membisikkan sesuatu di sana. "Kita sudah halal. Niat kita suci. Suami istri yang bermesraan itu pahala. Penjaganya gak bakal ganggu kita." Garin kembali menjauhkan wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomansaReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
