Berulang kali Reya mengusap air matanya. Garin berhasil membuat hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Garin akan semudah itu mengatakan hal yang sangat menyakitkan, lalu memutuskan untuk memilih yang lain. Reya tidak tahu harus bagaimana ia menghadapi semua ini. Di saat ia sudah jatuh terlalu dalam, terlalu mencintai terlalu jauh, namun yang dicintai dengan mudahnya menyakiti begitu saja. Jika memang pada akhirnya begini, ia yang terluka, lalu mengapa selama ini Garin selalu memberikan harapan padanya?
Garin pernah mengaku cinta, ternyata ternyata itu hanya semu. Mengumbar cerita, tetapi itu semua hanya kedok untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Semuanya sia-sia. Memang sia-sia karena Garin telah berhasil membuatnya terluka sedemikian rupa.
"Reya, bilang sama bunda. Kamu kenapa?" Ana menatap khawatir putrinya yang terus saja terisak. Sejak tadi Reya tidak mengatakan apa-apa, hanya menangis tanpa mau berhenti.
"Sayang, cerita sama bunda. Kamu kenapa?" Wanita itu membawa tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Bahu Reya bergetar, ia menangis pilu.
"Ke-napa Garin jahat, bun-da? Reya salah apa?" Reya memeluk bundanya dengan erat. "Re-ya salah a-pa?"
Ana mengusap lembut punggung Reya, mencoba menenangkan. Ia mengecup pucuk kepala putrinya berulangkali. Sekarang ia paham, anak semata wayangnya sedang memiliki masalah dengan Garin.
"Sakit, bun. Sakit banget. Kalau Garin pada akhirnya milih pergi, kenapa dia mau nikahin Reya? Reya salah apa, bun?"
"Bunda, Reya harus apa? Reya gak sanggup. Jujur, Reya gak sang-" Reya tidak bisa melanjutkan. Mau bagaimanapun ia mencoba, tetap saja hatinya benar-benar sakit. Ia tidak bisa berpikir logis. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia terlalu lemah. Mau marah pun ia tidak sanggup.
"Bunda tau kamu terluka," Ana mulai membuka suara. "Kamu boleh nangis sepuasnya, tapi perlu kamu tau, semua terjadi pasti ada tujuannya." Ana kembali memeluk erat tubuh putrinya yang rapuh. Hanya itu yang mampu ia berikan, pelukan kasih sayang dan menenangkan sebagai seorang ibu.
Luka yang Garin torehkan begitu besar. Hanya melalui lontaran kata, namun sakitnya begitu menyesakkan.
Mengapa Garin tidak mengerti sedikitpun perasaannya?
Seandainya ia tahu, hatinya akan sehancur ini, mungkin Reya tidak akan terlalu berharap. Ia tidak akan mencintai terlalu jauh. Ia tidak akan memberikan kepercayaan penuhnya.
Semuanya hanya mampu disesali dengan kata seandainya. Semuanya sudah terjadi.
Bodohnya, meskipun, sudah disakiti berulang kali dan sedekimian rupa, tapi Reya masih saja menaruh sebuah harapan.
Harapan yang tidak akan mengubah apa-apa.
Terkadang, seseorang diberikan masalah untuk membuat hatinya lebih tangguh agar lebih bisa bersikap dan berpikir dewasa. Semua terjadi pasti memiliki tujuan. Tidak perlu menangis berlarut-larut. Percuma. Sesuatu yang sudah terjadi itu sudah terjadi. Mau ditolak dengan cara apapun. Tetap saja. Tidak akan bisa memutar balikkan waktu. Jika memang orang yang sangat diharapkan itu pergi dan meninggalkan luka, maka biarkan karena ia telah memilih jalan hidupnya. Yakinkan, tanpa dirinya, dirimu baik-baik saja.
***
"Brengsek! Kalau lo cuma mau mainin Reya, kenapa lo bawa-bawa pernikahan, brengsek?!" Ryan kalap, ia tidak peduli jika Garin sahabatnya. Sudah beberapa kali kepalan tangannya mendarat sempurna di wajah Garin dan laki-laki itu hanya diam tanpa perlawanan.
"Lo Keterlaluan! Dia itu istri lo yang harus lo utamakan, bukan malah lo mainin!" Ryan menarik kerah kemeja sekolah Garin. Melupakan bahwa lelaki yang ia hajar habis-habisan adalah Garin, sahabatnya. Garin memang patut diberi pelajaran.
"Jangan diam! Ngomong!" Sekali lagi, Ryan menghajar Garin tanpa ampun. Ia ingin Garin berbicara, bukan malah diam.
Mendengar sendiri bagaimana perkataan Garin terhadap Reya, membuat Ryan tidak bisa menahan emosinya. Gadis itu istrinya, harusnya Garin pergunakan otaknya untuk mengetahui posisi siapa yang lebih tinggi dan harus ia utamakan.
"Bukan cuma Reya yang lo sakitin! Ingat, dia punya orangtua! Lo pikir pake otak!"
Garin duduk di lantai dengan keadaan tidak bertenaga. Ia menyeka sudut bibirnya, lalu tersenyum masam. "Tau darimana lo kalau gue sudah nikah?"
Gemericik gigi Ryan beradu. Di saat seperti ini, Garin masih sempat mempertanyakan itu.
"BUAT APA LO NANYA ITU?"
Garin berdiri, ia menatap Ryan sambil tersenyum kecut. "Lo tau dari Nino? Sudah gue duga, tuh anak ternyata mulutnya ember."
"Kenapa lo sebrengsek ini, Gar? Seandainya ini bukan karena Reya. Gue gak bakal mau ikut campur sama urusan lo. Gue gak bakal peduli siapa itu Keana. Gue gak bakal peduli sama kehidupan lo sekalipun. Gue gak peduli!" ucap Ryan penuh emosi.
"Lo peduli Reya? Kenapa gak lo datangin aja sana, hibur dia! Mungkin dia lagi nangis sekarang. Cewek memang gitu, kan? Bisanya cuma nangis," seru Garin tersenyum mengejek. Ryan mengepalkan tangannya kuat. Laki-laki itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Garin, masalah apa yang ia hadapi. Seandainya Ryan tidak mengingat bahwa lelaki itu adalah sahabatnya, mungkin ia sudah menghajarnya sampai mati. Tidak peduli akibatnya.
"Padahal lo tau sendiri kalau gue cuma mainin dia, kenapa lo diam aja? Kenapa lo gak coba ngerebut dia dari gue? Kenapa di saat dia hancur lo baru datang? Kenapa gak dari dulu lo jauhin Reya dari gue? Lo udah tau kalo gue cuma mainin dia, cuma bisa buat dia sakit, kenapa lo diam aja?" Garin berteriak emosi. Ia menatap Ryan sarat kekecewaan, terlebih kepada dirinya sendiri.
"Lo gak tau gimana rasanya di posisi gue! Kalau lo jadi gue, lo juga pasti akan lakuin hal yang sama. Keana hamil dan gue gak-"
Kali ini Ryan sungguh kehabisan kata-kata. Hanya tenaga yang tiada habisnya untuk terus menghajar Garin. "Cerain Reya, Anjing!"
-tbc-
Apa tanggapan kalian tentang Garin?
Dijawab ya supaya bisa cepat update! Maksa loh ini!
...
Semesta...
Tak banyak kuminta...
Dari tatapan mata kuingin dirangkaikan seribu kata...
Seribu kata berjuta pinta...
Berjuta pinta buat hidupku tertata..
Namun, bagaimana caranya menata?
Jika hanya ada aku dan bukan kita
-piscesay-
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Two✔
RomanceReya membanting pintu apartemennya, lalu keluar dari sana. Kenyataan bahwa Garin meninggalkan dirinya memang tidak bisa dielakkan. Laki-laki seperti Garin memang pantas Reya benci. Reya menyentuh bibirnya. Ingin rasanya ia menangis sekarang, merasak...
