Aisya menyantap hidangan spesial dari Uminya dalam diam, ia bukan tidak bahagia hanya saja ia merasa sedikit berdebar entah karena apa? Mungkin karena kehadiran Dion, abangnya dan juga cintanya.
"Dek!!"
Aisya terlihat gelisah sendiri sesekali ia mencuri pandangan kearah Dion yang terlihat sedang bercakap dengan Abi mereka, entah apa yang sedang mereka bicarakan Aisya tidak terlalu fokus hanya senyuman dari di wajah Dion yang menjadi fokus dirinya. Kenapa bahkan setelah 5 tahun ia mencoba ia kembali gagal membuang cintanya pada Dion?
"Ais!!"
Kenapa ia harus jatuh Cinta pada pria yang begitu terlarang untuknya? Ia tidak sanggup jika harus seperti ini, sampai kapan ia harus gelisah menderita sendiri karena Cinta terlarang itu? Dulu, mungkin ia masih bisa bersikap biasa saja toh ia hanya melihat Dion beberapa hari saja setelah itu Dion akan kembali untuk menyelesaikan study nya tapi sekarang? Dion akan menetap disini? ya Dion sudah menyelesaikan studinya dan bersiap membantu Abi mereka mengurus Wijaya Group.
"Ya Allah dek, kamu kenapa diam aja?!"
Dan mereka tentu akan berjumpa setiap hari bukan? Tidak, lebih tepatnya mereka akan sering bertatap mata mungkin Aisya bisa berusaha menghindarinya tapi bagaimana jika Dion yang selalu berusaha menganggunya? Ya, Dion memang selalu berusaha menganggu atau berdekatan dengannya jelas karena Dion merindukannya atau menyayangi dirinya tapi sebagai Adik tidak lebih.
"Sayang!!"
Sedangkan dirinya? Ia tidak bisa melihat Dion sebagai saudara tidak lagi sejak 5 tahun terakhir ini, ia mencintai pria yang mustahil dimiliki olehnya itu? Bisa bayangkan bagaimana remuknya hari Aisya? Ia berada begitu dekat dengan pria yang dicintainya tapi ia tidak bisa memilikinya bahkan jika itu didalam mimpinya sekalipun.
"Aisya!!!!"
Aisya tersentak ketika tubuhnya diguncang sedikit kuat, Aisya mengerjapkan matanya ia menoleh kemudian mengerutkan dahinya saat melihat Abi, Umi dan juga Dion menatap cemas kearahnya, dan sejak kapan Dion dan Abinya berada didekatnya? Padahal mereka duduk dengan meja membentang membatasi mereka.
"Kenapa bi?"tanya Aisya tak mengerti apalagi saat Abinya menghela nafas.
"Kamu kenapa diam aja dek? Dari tadi Umi manggil kamu loh?!"ucap Abinya membuat Aisya menoleh kearah Uminya yang berada dalam dekapan Dion terlihat jelas wanita itu cemas.
"Memang Ais kenapa bi?!"tanya Aisya kembali menatap Abinya.
'Ya Allah nak!"Ali hampir saja memekik saat mendengar pertanyaan polos dari putrinya.
Ali menghela nafas sebelum kembali bersuara, "Adek yang kenapa? Dari tadi kamu cuma duduk diam terpelongo sambil ngaduk-ngaduk nasi dipiring kamu, dipanggil enggak respon ditepuk pipinya juga diam aja, Adek yang sebenarnya kenapa?"Ali berbicara dalam satu tarikan nafas sambil berkacak pinggang didepan putrinya.
Aisya mengatupkan bibirnya, jika seperti cerita Abinya Aisya bisa membayangkan sendiri betapa lama ia melamun dan bagaimana cemasnya Umi dan Abinya? Juga Dion mungkin.
Ya Tuhan Aisya, sudah pasti Dion cemas lihat saja tatapannya itu. Bathin Aisya.
Aisya mendongak menatap Uminya sebelum itu ia sempat berpandangan dengan Dion dan Aisya segera mengalihkan pandangannya, bertatapan dengan Dion benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Adek enggak apa-apa kok mi."ucap Aisya dengan cengiran khas dirinya. Ia merasa bersalah pada Uminya.
"Syukurlah sayang, Umi takut lihat Ais diam saja bahkan ketika Umi tepuk pipinya Ais masih enggak ngerespon apa-apa."ucap Prilly sambil beranjak mendekati putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
First Love
Roman d'amour(CERITA INI PRIVATE FOLLOW DULU KALAU MAU BACA, THANKS) Aisya anak tunggal Ali dan Prilly, gadis cantik nan ceria. Gadis yang dibesarkan dengan limpahan Kasih sayang kedua orangtuanya harus merasakan sakitnya jatuh cinta bahkan untuk pertama kali d...
