Bekhyun dan Yixing tiba di kediaman super luas dan megah milik keluarga Park. Pintu super besar terbuka lebar, menampakkan para pelayan di keluarga itu dan menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang ... Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan." sambut pelayan lalu mengajak mereka masuk.
Baekhyun dan Yixing sempat tertegun kagum melihat keindahan serta kemewahan dari istana keluarga Park. Namun, hal itu langsung sirna manakala mereka melihat wajah Park Chanyeol di ruang makan.
"Tinggalkan Kami!" Chanyeol memerintah. Para pelayan itu pun mengundurkan diri dari hadapan sang tuan. "Duduklah!" titahannya kepada Baekhyun dan Yixing kemudian.
"Kita makan dulu, nanti kusampaikan." tutur Chanyeol seraya mengisyaratkan mereka untuk menyantap kudapan yang telah disiapkan.
"Baiklah." Baekhyun menyetujuinya.
Mereka makan bersama tanpa ada pembicaraan sama sekali.
"Aku tidak ingin bicara lama, jadi langsung ke intinya saja." Chanyeol membuka pembicaraan usai santap.
"Baiklah, itu lebih bagus." sejak tadi hanya Baekhyun yang berani menjawab dengan tenang dan santai, walau sebenarnya kakinya gemetaran. Sedangkan Yixing, ia hanya diam menempel di sisi Baekhyun. Ia masih trauma berat pada kejadian hari lalu.
"Sebenarnya Aku tidak ada urusan denganmu, Byun Baekhyun. Tapi kare-"
"Kaubilang langsung ke inti." Baekhyun langsung memotong ucapan Chanyeol guna mengingatkannya.
Chanyeol tertohok ucapannya sendiri, ia mengangguk membenarkan Baekhyun. "Aku...." Chanyeol menjeda kalimatnya, ia mengisi pasokan udara di paru-parunya agar mudah mengatakan hal yang paling sulit ia lakukan. "Aku ingin meminta maaf pada Yixing." kilatnya.
Sontak saja Baekhyun dan Yixing ternganga-nganga mendengar kalimat paling sakral dan keramat dari seorang pewaris estafet Shinwa Grub generasi ke-3 terucap. Seorang Park Chanyeol yang di kamus hidupnya tidak ada kata maaf, kali ini mengujarkannya. Dunia ini tidak kiamat, kan? Batin mereka saking terkejutnya.
"A-aku tidak salah dengar, kan?" Baekhyun memastikan jikalau yang ia dengar itu salah.
"Aku tidak ingin mengulanginya." kata Chanyeol angkuh. Cukup ini yang kedua dan terakhir kalinya, pikir Chanyeol.
"Setelah pulang dari tempat ini, anggap saja tidak ada yang terjadi di antara Kita. Dan yang terpenting, rahasiakan semua ini dari siapapun. Termasuk," Chanyeol menatap sengit Yixing. "Baek Hae Soo." lanjutnya.
Yixing merasa terintimidasi mendapat pernyataan maaf dari Park Chanyeol, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Siapa berani melawan putra tunggal keluarga Park? Belum ada atau mungkin tidak ada.
Kembali kekeadaan sebelumnya, seusai membuat pernyataan Park Chanyeol beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan Baekhyun dan Yixing yang masih tercengan di meja makan."Apa ini mimpi?" tanya Baekhyun termangu.
"Ini nyata." saut Yixing. Keduanya masih sama-sama tidak yakin jika orang yang meminta maaf tadi adalah Park Chanyeol. Bagai bermimpi disiang bolong lalu tertiban durian runtuh, wafat jadinya.
•¶•
Malam semakin larut, namun tak melarutkan hiruk pikuk kota dari aktivitas manusianya. Meski cuaca dingin mengikat tubuh, namun mereka betah berlama-lama di luar rumah.
"Maaf, menu yang disediakan sudah habis." Haneul berulang kali harus merasa tidak enak pada pengunjung yang datang dan memesan makanan. Mereka sudah memasang tulisan 'CLOSE' di depan pintu, tapi masih saja ada yang memaksa masuk.
"Lain kali, Kita buat tulisannya lebih besar. Biar Mereka mengerti jika resto sudah tutup. Menyebalkan." gerutu Haneul tak habis-habisnya sambil berdiri menyandar di tembok. Ia merasa sangat lelah, namun para pengunjung tak mengindahkan tulisannya.
Suara lonceng yang dipasang di atas pintu berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Hae Soo yang memiliki energi yang lebih, lantas segera menggantikan Haneul yang habis baterai.
"Maaf, tempat ini-" ucapan Hae Soo terhenti setelah melihat siapakah gerangan yang hadir.
"Air putih saja tidak ada?" tanya pengunjung itu sembari memasuki resto tanpa ragu.
"Te-tentu." jawab Hae Soo gagu.
"Kalau begitu, Aku pesan dua gelas." pinta pengunjung yang tak lain adalah salah satu anggota F4.
Hae Soo berbalik dan segera menuju ke dapur guna memenuhi permintaan pengunjung tadi.
"Apa masih ada pengunjung yang tidak bisa membaca tulisan itu? Astaga ... negara macam apa ini, eoh? Sampai-sampai warganya tidak bisa membaca tulisan di depan pintu sana. Menyebalkan!" omel Haneul yang tak bisa menahan lagi kesabarannya. Kepalanya mendidih dipanasi oleh rasa capainya.
"Masih ada yang datang?" tanya Chef Chen heran melihat Haneul yang terus menggerutu sejak tadi.
Hae Soo mengangguk. "Hanya memesan dua gelas air putih. Sepertinya dia tidak akan lama, tenang saja." ia memaklumi sikap Haneul dan segera menuntaskan pengunjung terakhir agar resto bisa tutup dan mereka lekas istirahat.
"Aku akan mengantarkannya." Hae Soo membawa nampan berisikan dua gelas air putih sesuai pesanan. Haneul berdecih melihat kesabaran Hae Soo yang sangat kuat.
"Kau duduk saja dulu. Kita akan langsung menutup tempat ini dan membereskannya besok. Aku tahu Kau pasti sangat lelah." ujar Chef Chen memahami Haneul yang terus gusar ingin cepat pulang.
"Baiklah." Haneul mengikuti arahan bosnya itu sambil mendesah berat. Ia meraih kursi dan mendudukinya sambil menunggu Hae Soo selesai.
•¶•
"Selamat menikamti." ucap Hae Soo seraya meletakkan dengan hati-hati pesanan pengunjungnya tersebut.
"Aku tidak begitu suka minum, jadi, Aku hanya akan meminumnya sedikit." saut pengunjung itu yang sebenarnya bagi Hae Soo tak penting-penting amat. Toh, itu kehendaknya.
"Itu hak anda." balas Hae Soo sopan. Ada rasa sedikit senang melihat langsung lelaki pemilik sepeda yang hanya sempat ia saksikan sekelebat di parkiran.
"Saya per-"
"Duduklah, Aku ingin mengobrol sebentar!" pengunjung itu menahan Hae Soo dengan permintaan di luar umumnya pengunjung.
"Maaf, tapi Say-" belum usai dia bicara, pengunjung itu menyelanya lagi.
"Aku ingin Kau duduk sebentar, itu hak yang ingin kuberi padamu." gamblangnya.
Hae Soo memperhatikan sekitar dan mendapati beberapa pasang mata gelagapan membuang pandangan. Terutamanya kaum hawa yang sejak pengunjung itu hadir, serta-merta mengalihkan atensinya untuk pengunjung tersebut.
"Mohon maaf, tapi, masih banyak pekerjaan lain di belakang yang harus Saya selesaikan." kilah Hae Soo halus.
"Kalau begitu, Aku akan menunggu sampai Kau selesai." ucap pengunjung itu semakin membuat Hae Soo mengerutkan dahi.
'Sebenarnya, mau apa malaikat tampan ini?' hatinya membatin heran.
"Baiklah, itu hak Anda. Permisi." tak ingin berlama-lama menjadi bahan tatapan dan topik perbisikan pengunjung kaum hawa di sini, Hae Soo segera kabur ke belakang.
"Hakku?" gumam si pengunjung seraya menyeruput minumannya.
•¶•
Chanyeol nampak gelisah, berulang kali menghitung tebaran bintang di gelap malam yang tiada terhitung. "Datang, tidak. Datang, tidak. Dat-" begitu hasil yang ia dapat adalah diksi 'datang', ia mendesah frustrasi sembari mengacak-acak tatanan rambutnya.
"Benar-benar memusingkan, sialan!"
To Be Continue >>>
SkynightNa98|Revisi|2020

KAMU SEDANG MEMBACA
Boys Over Flowers EXO Vers. [REVISI]
Hayran KurguBoys Before Flowers versi Exo dengan sedikit perubahan alur dan penambahan tokoh-tokoh pendukung lain. Sudah tamat, tapi masih proses revisi. Pengunggahan ulang mengikuti suasana batin penulis.