10. Penjahat Bagol

7.6K 864 190
                                        





Chapter 10


***




Sejujurnya, gue bukan tipe orang yang suka belajar. I mean, gue suka sih belajar suatu hal yang baru. Yang gue maksud belajar disini itu pelajaran sekolah, seperti Matematika, Kimia, Fisika dan teman sepermainannya yang sama mumetnya. Tapi lihat sekarang, ada apa dengan otak gue yang berkapasitas terbatas ini. Suatu keajaiban dunia melihat seorang Kimi tengah berkutat dengan buku Matematika. Bagian integral.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Gue duduk di depan meja belajar, ditemani dengan pemandangan malam dari kaca jendela yang tempatnya berada di depan meja gue saat ini. Jadi, ketika Lo belajar dan mumet sampai rasanya kepala mau pecah, di kamar gue Lo bisa mengalihkannya dengan memandang jendela. Walaupun 80% ditutupi oleh pohon jambu, but not bad lah ya.



Sejujurnya motivasi gue belajar saat ini adalah tidak lain dan tidak bukan karena Lai Guanlin seorang. Hebat kan? Si Eskimo bisa membuat seorang Kimi mempelajari hal yang nggak dia sukai. Jadi, semisal gue minta belajar bagian integral sama Guanlin, gue nggak kelihatan bego bego banget. Masalahnya selera dia itu Aluna, yang otaknya sebelas dua belas sama Isaac Newton. Kalaupun gue memang nggak bisa menandingi otak cemerlang Aluna seperti Isaac Newton si penemu hukum Newton, seenggaknya gue bisa membuktikan bahwa otak gue nggak sebelas dua belas sama otak simpanse.

Sedang serius belajar, sebentar gue kok rasanya mau muntah kalau mengklaim diri sendiri serius belajar. Mari katakan, sedang mulai belajar, benda persegi berwarna hitam itu tiba tiba bergetar dan berbunyi.



"Halo, ada yang bisa dibantu?"

"Lo ngapain sih nelpon gue malem malem, dasar jomblo"

Ternyata panggilan gabut dari Daniel bung! Seorang panglima perangnya Pancasila yang digandrungi banyak siswi.



"Heh sembarangan Lo marmut! Situ memang nggak jomblo? Lo menjomblo selama kurang lebih 17 tahun ya, nggak usah sok iye"


Sialan. Kok dia jadi buka kartu sih. Mari gue perjelas, gue bukannya menjomblo dari lahir. Maaf maaf nih, gue punya kriteria, dan sayangnya cowok cowok yang mendekati gue belom seperti kriteria yang gue inginkan.



Lo tau kriteria gue seperti apa?

Park Bogum.

Jelas, nggak ada yang seindah dan semirip Park Bogum selain orangnya yang asli. Dengan kata lain, gue memang nggak mau pacaran, maksudnya belom mau.


"Kampret! Biarin gue jomblo, yang penting banyak yang deketin"


"Percuma, gua curiga nih kalau Lo itu suka sesama jenis"

Astagfirullah. Gue nggak se-menyedihkan itu ya, tolong dong masa iya gue punya dua jeruk pengennya dua jeruk lagi. Suka lucu.

"Heh diem deh lu bucin, gimana tadi hari pertamanya? Menyenangkan nggak? Ada cenat cenut gitu kan bareng mantan gebetan? Asoy"

"Heh geblek! Hari pertama pantat lu burik! Gua kan bukan makhluk wanita yang lampu merah disetiap bulan"

Gue mendengus. Capek deh Tinkerbell. Punya temen otaknya nggak dipakai buat mikir dulu sebelum ngomong.


"Maksud gue, Lo kan dulu bucinnya Aluna waktu SMP, jadi gimana saudara Daniel? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

Terdengar decakan kesal dari seberang sana, membuat gue tertawa terbahak. Menyenangkan menggoda Daniel perihal masa lalunya.



Dua Kutub Magnet Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang