________
Gue terduduk di pendopoan kecil di halaman belakang rumah Zacky. Kami duduk berdampingan sembari menikmati susu coklat hangat yang barusan di buat oleh Ibu Zacky. Sudah lima menit kami duduk disini, namun belum ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan. Hal itu membuat alis gue sesekali tertaut ketika menatap Zacky yang diam dengan tenang.
Ia nggak bawel seperti biasanya.
"Ki, Lo nggak kangen gue?" Akhirnya gue yang memutuskan untuk bersuara terlebih dahulu.
"Ngapain? Gue nggak berhak"
"Hah? Nggak berhak?" Ulang gue memastikan. "Heh yang namanya rindu itu sesuatu yang bebas, Lo bebas rindu siapapun semau Lo tanpa harus memiliki hak. Lagian hak apa sih yang Lo maksud?"
Cowok itu justru menghela nafas pelan. "Nggak usah tau, nanti elo yang pusing"
Gue emang udah pusing sama sifat Zacky yang tiba-tiba menjadi diam seperti ini. Tangan gue meraih segelas susu coklat di atas nampan berwarna coklat, kemudian meneguknya hingga habis. Apa cuma gue yang minum susu kayak orang kehausan? Enak soalnya.
"Curhat dong" Katanya. "Lo ketemu gue mau curhat kan?" Lanjutnya lagi.
"Nggak juga, kangen aja pengen liat Lo"
Semburan kecil dari mulutnya membuat gue kaget, susu yang semula sedang ia tenggak kedalam tenggorokannya keluar begitu saja dan mendarat di rerumputan. Gue reflek menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Keselek mulu Lo kayak bocah aja" Zacky balas mendengus dan menginjak pelan kaki gue yang masih dibungkus sepatu.
"Ki pacar Lo namanya siapa?"
"Gisella"
"Oh yang cewek rambut pendek di rumah sakit itu kan?"
Dia mengangguk kecil. "Ki, kenapa nggak berjuang buat dapetin siswi Pancasila yang waktu itu Lo bilang suka?"
Gue menatap Zacky yang memutar bola matanya malas, ia menyingkirkan gelas susu di tengah dan mindahkannya di pinggir. Kemudian membaringkan tubuhnya di sana. Ia menatap gue, menepuk sisi kosong disampingnya.
Gue menurut dan ikutan berbaring di sampingnya.
"Doi udah punya pacar, nggak peka juga. Susah"
Nih anak teka-teki banget, gue jadi kepo siapa orangnya. "Siapa sih?"
"Cermin"
"Hah?" Gue menaikkan sebelah alis. "Lo suka sama benda mati?"
"Susah ngomong sama Lo, otaknya tak sampai"
Bangke, gue memukul perutnya kecil. Eh bentar, perutnya keras. "Eh Lo punya abs ya?"
Ia langsung terbangun dan bergidik menatap gue. "Apaan? Lo mau liat?"
Gue menaikkan kedua bahu gue. "Keliatan sih ketika gue ketemu lo lagi pake kaus ketek"
"Itu bukan kaus ketek Ijah! Tapi Sleeveless Shirts, kaus tanpa lengan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Kutub Magnet
Fanfic[ Book 1 ] #PANCASILA'S UNIVERSE Gue sama Guanlin itu bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Mungkin dia Positif dan gue Negatif. Tau artinya? Iya beda. Beda banget. Gue anaknya nakal, Guanlin anak baik baik. Gue anaknya bobrok, Guanlin perfeksioni...
