25. Upacara Hari Rabu

7.6K 963 356
                                        

***

Gue dan Guanlin berakhir duduk duduk santai di bawah pohon rindang, sekalian nontonin anak anak yang menghabiskan waktu istirahatnya untuk main basket. Beberapa diantaranya adalah teman teman gue, seperti Daniel, Bobby, June dan Seungwoo yang udah sibuk bacot banget dari lapangan godain gue.

"GAS TERUS CIL! AYAH BANGGA" itu kata June.

"Akhirnya ada yang mau sama Kimi! makasih YaAllah!"

Gue pengen banget ngecursing Bobby sambil gue timpukin pake batu. Sembarangan banget, memang gue senggak laku itu apa. Menyakiti harga diri gue banget.

"Kimi ganas anaknya Mak Lampir! Rawr!" Seungwoo menambahkan.

Gue melirik Guanlin yang sibuk membenarkan arloji di pergelangan tangannya. Cowok itu mendengar, tetapi lebih memilih mengabaikan dan gue bersyukur akan hal itu.

Daniel yang biasanya ikutan bacot diam saja hari ini. Cowok itu hanya sesekali tersenyum dan tertawa kecil dan melirik gue dalam diam.

"Temen temen lo bacot banget" Ujarnya sembari menatap orang yang berlalu-lalang di depan kami.

IYA! YaAllah kenapa mereka bacot banget. Hancur harga diri gue lama lama. Gue hanya terkekeh pelan, mau bagaimana lagi teman teman gue memang jahanam semua.

Ngomong ngomong gue sudah menanyakan perihal calon Ayah gue pada Guanlin yang ternyata Om Dastan adalah tetangganya. Gue sedikit lega ketika mengetahui Om Dastan beneran masih lajang, katanya baik banget suka ngadain santunan di rumahnya, orangnya juga terkenal ramah walaupun jarang ngumpul bareng warga sana karena sibuk . Gue juga denger kalau Om Dastan incaran para ibu ibu pecinta duda ganteng.

"Nyokap lo kapan nikah?" Katanya.

"Belom tau sih, tapi kayaknya dalam waktu dekat ini. Ya tahun ini sih kayaknya, soalnya kemaren gue denger denger udah mau sewa gedung tapi gue belum tau tanggal pastinya"

Cowok itu terdiam cukup lama. Dia berdeham sesekali.

"Udah kasih tau Bokap kandung lo?"

Pertanyaanya sukses membuat gue menoleh. "Nggak tau, gue sama Nyokap masih sakit hati"

"Gue nggak mau ikut campur sih, pengen ngasih tau aja waktu lo papasan sama gue ketika ada Bokap lo sama Aluna, gue ngeliat sendiri wajah Bokap lo sedih banget"

Gue terdiam cukup lama, mencerna kalimat Guanlin dalam otak. Gue sadar, nggak ada yang namanya mantan Ayah. gue tau itu. Tapi perihal sakit hati, gue tipikal orang yang susah sembuhnya.

Sadar gue tidak menjawab. Guanlin segera mengubah topik pembicaraan.

"Soal kemaren. lo tenang aja, gue nggak akan berantem sama Daniel soal Aluna"

Gue menaikkan alis. " Loh kenapa? takut lo sama panglima perang Pancasila?"

Guanlin menggeleng. Dia menatap gue dalam tepat di mata, membuat jantung gue kembali tidak teratur. Gue mengalihkan pandangan ke arah lain. menatap Daniel yang sibuk tertawa bareng Bobby di tengah lapangan. Gue juga cewek normal, yang kalau salting sulit mengendalikan diri.

"Gue sadar, untuk sekarang gue salah bidik sasaran"






Dua Kutub magnet

_____



Bel pulang sekolah telah berbunyi, anak anak kelas bersorak bahagia haru, lantaran tugas Matematika yang susahnya nggak nalar dijadikan PR dan dikumpulkan minggu depan. Kalau kata Vernon mah Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Gue yang pada dasarnya memang bego banget, ya bisalah kalau buat PR mah, bisa nyontek ke Siyeon, untung temen kelasan gue nggak ada yang pelit kayak Jaebum anak IPS.

Dua Kutub Magnet Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang