33. Beruang Mulai Bangun

5.9K 993 141
                                        

***

Guanlin nggak jadi rapat, kami jadi sibuk ngurusin Zacky yang harus ke rumah sakit. Karena motor Guanlin di sekolah, jadilah kita berjalan agak jauh keluar gang dan memesan mobil online.

Belum lagi ocehan ocehan Guanlin yang pedas menghiasi sepanjang jalan.

"Rese lo! Makanya kalau nggak bisa berantem nggak usah begaya ikutan tawuran!"

Gue yang duduk di sebelah mang supir jadi menoleh ke belakang, menatal tajam Guanlin yang wajahnya sudah tidak mengenakkan.

"Udah nyusahin orang lain, tawuran nya juga di sekolah lain, mengganggu wilayah orang aja"

"Bacot bisa diem nggak lo?!" Temennya Zacky yang ganteng itu jadi emosi. Terjadilah adu tatap paling sinis dan paling tajam.

"Apa? Mau gue turunin lo semua biar di tangkep polisi? Nggak usah ngancem disini elo yang membutuhkan"

Gue gereget sendiri. "Lin udah deh, bantuin orang dapet pahala"

Ketika kami sudah sampai di depan rumah sakit, Zacky berjalan sempoyongan dibantu kedua temannya. Gue mau turut membantu tapi nggak mungkin, sedangkan Guanlin berjalan acuh di depan.

Setelah Zacky masuk me ruang dokter, gue buru buru menghubungi Ibunya.

"Assalamualaikum tante, mau ngasih tau kalau Zacky lagi di rumah sakit"

Buru buru gue menjauhkan ponsel dari telinga, karena jeritan kaget dari Ibu Zacky.

"Anu tante jadi gini---" gue menggigit bibir pelan. Kalau gue bilang tawuran gimana ya? Tapi kalau gue bilang kecelakaan yang ada lebih heboh.

"Tante kesini dulu aja----"

Ponsel gue direbut paksa oleh Guanlin.

"Maaf tante memotong pembicaraan, saya temennya temen Zacky, mau ngasih tau kalau anak tante masuk rumah sakit sehabis tawuran, makasih diharap kedatangannya"

Gue melotot tajam. "Guanlin! Lo gila ya?!"

"Apaan? Jujur itu lebih baik!" Sewotnya.

Gue buru buru merebut kembali ponsel tersebut dan menghela nafas ketika panggilan sudah tidak tersambung.

"Nah sekarang lo pulang sama gue" Guanlin menarik lengan gue berjalan keluar rumah sakit.

"Ih! Enggak ah, si Jaki dirumah sakit masa gue balik sih? Etika tetangga macam apa itu"

Guanlin menghela nafas. "Kan mamahnya udah di kasih tau, lo balik sama gue sekarang biar aman, kalau lo mau nengokin tetangga lo itu nanti aja! Setelah lo pulang, mandi, makan dan ganti baju, kalau nanti si bocah bocah bopung liat lo lagi gimana?"

"Ya tapi kan---"

"Gue nggak butuh penolakan Kinan Myrea"

Tatapan Guanlin yang tajam membuat nyali gue mengecil. Pada akhirnya gue hanya terdiam dan terima terima saja ketika Guanlin menarik tangan gue kembali.

Setibanya di depan gerbang rumah sakit, kami menaiki mobil yang sama seperti tadi datang.

Entah sejak kapan Guanlin memesannya kembali, yang pasti gue terduduk diam sambil menatap jendela dengan tanpa ekspresi.

Dua Kutub Magnet Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang