_______
Gue masih berdiri di tempat sembari memberenggut kesal, rasa membara setiap kali melihat Guanlin kini berganti menjadi malas. Nggak disangka, sewaktu-waktu gue bisa merasakan yang namanya lelah suka sama orang. Guanlin masih berdiri di depan pintu, menunggu gue menghampiri. Sedangkan teman yang lain diam memerhatikan, sambil sesekali melontarkan lelucon.
"Udah sana cil, jangan bikin drama korea disini. Nggak demen gue" Siapa lagi si mulut sampah nyebelin Bobby Prasetyo, yang disusul tawa Hanbin.
Gue mendengus masih tetap berdiri sedangkan teman-teman yang lain udah mulai geregatan gue nggak pergi-pergi juga.
"Udah buruan he, gue mau lanjut ngelawak jadi nggak bisa nih" Bara menambahkan. Lama-lama gue jadi kesel sama temen-temen gue.
Daniel yang duduk disebelah memegangi lengan gue sambil menatap dengan tenang. "Yaudah kalau nggak mau, nanti gue yang kasih tau ke dia"
Kan memang, Daniel terbaik. Sayang udah kecantol cewek lain. Halah beha Jarjit, gue jadi menyesal.
"Samperin dulu, nggak baik buat orang nunggu" Suara Arka membuat yang lain sedang mengoceh ke gue jadi berhenti.
Nunggu apa kampret, kalau gue nya yang males gimana? Dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Gue memutar bola mata malas, niat untuk menempelkan pantat kembali ke kursi terhalang oleh sebuah tangan yang menarik gue begitu saja keluar ruangan.
Kan, kebiasaan kan. Gue tuh bukan karung beras yang biasa ditarik-tarik. Sesampainya di depan gue menarik kesal tangan gue kembali. "Apaan sih, nggak usah narik-narik"
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Kok jadi gue yang ditanyain.
Guanlin menghela nafas panjang. "Kenapa dari seminggu yang lalu lo menghindar dari gue"
Yaelah, masa harus gue jelasin. Nih ya gue tuh cewek yang seminggu lalu dengan kurang ajarnya cium kilat pipi dia. Ya masa gue berkeliaran sesuka hati di sekitar dia sih.
Taruh di mana wajah gue? Plis jangan jawab pantat, itu terdengar nggak masuk akal.
"Ya gue malu lah! Nggak usah pura pura lupa lo" Nada gue berubah jadi ketus, serius bukan keinginan gue sendiri.
"Yang di perpus? Yaudah lupain aja gue juga udah lupa"
Memang mengundang makian banget. Rasanya mulut gue gatal pengen ngatain, absenin nama binatang sekencang-kencangnya. Bisa-bisanya dia jawab biasa aja. Gue yang berefek dahsyat dan berlebihan, dia sendiri yang jadi korban biasa aja.
BIASA AJA.
Minta di lupain aja.
Gue jadi merasa, apa yang gue lakukan rasanya nggak penting bagi Guanlin. Nggak ada efeknya. Nggak ada berartinya sama sekali.
"Hm, jadi gue nya aja yang berlebihan" Gue berbisik kecil, tak yakin Guanlin ikut mendengar atau tidak.
"Tapi masalahnya kalau yang tadi gue males nyamperin lo bukan karena malu"
Guanlin menaikkan sebelah alisnya. "Lo cemburu gue ngebelain Aluna?"
Duh, suasana hati gue buruk banget. Gue nggak bisa jawab baik-baik saat ini. "Ngapain gue cemburu? Lagian lo ke gue cuma nyepik aja, jadi gue tahu batas harus baper sampai mana"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Kutub Magnet
Fanfiction[ Book 1 ] #PANCASILA'S UNIVERSE Gue sama Guanlin itu bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Mungkin dia Positif dan gue Negatif. Tau artinya? Iya beda. Beda banget. Gue anaknya nakal, Guanlin anak baik baik. Gue anaknya bobrok, Guanlin perfeksioni...
